ASK
ME

REGISTER
NOW

Ruang Digital sebagai Tempat Interaksi Multibahasa

12/18/2025 12:00:00 AM



Jakarta - Media sosial kini menjadi ruang yang hidup dan dinamis. Di balik obrolan santai dan tawa yang mengalir di kanal YouTube, tumbuh praktik bahasa yang kaya makna serta mencerminkan cara orang berinteraksi di era digital. Fenomena inilah yang dikaji oleh Obay Jambari dalam sidang Program Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris (DLTBI) yang digelar di Aula D, Kampus Semanggi, Jumat (12/12).


Melalui disertasi yang berjudul "The Ideologies of Authenticity in Playful Talk on YouTube Channel: A Perspective from Translingual Practice," Obay menelusuri bagaimana individu multilingual menegosiasikan identitas sosial mereka melalui praktik bahasa yang cair dan lintas batas, atau yang dikenal sebagai translanguaging.


Sidang dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama dan Alumni, Yanti, Ph.D., bersama para pembimbing disertasi, Prof. Dr. Setiono Sugiharto, M.Hum., didampingi Ferdinan Okki Kurniawan, Ph.D., serta para penguji, yakni M. Umar Muslim, Ph.D., lalu Prof. Christine Manara, Ph.D., dan Dr. Engliana, M.Hum.


Dalam paparannya, Obay menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari realitas masyarakat digital yang kian terbiasa menggunakan lebih dari satu bahasa dalam keseharian. Media sosial, khususnya YouTube, menjadi ruang di mana bahasa tidak lagi digunakan secara kaku dan terpisah. Melalui format percakapan santau atau playful talk, para pembuat konten justru memadukan berbagai bahasa secara alami untuk mengekspresikan diri dan membangun kedekatan dengan audiens.



Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan perspektif emik, yakni sudut pandang pelaku bahasa itu sendiri. Data diperoleh dari tiga episode pada kanal YouTube Playful Talk serta wawancara semi-terstruktur dengan para partisipan, yakni satu bintang tamu dan dua pembawa acara. Analisis dilakukan melalui pengkodean tematik, analisis momen percakapan, hingga pengamatan gestur.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik translanguaging memungkinkan penutur menegosiasikan beragam identitas sosial. Obay menjelaskan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia tidak diperlakukan sebagai sistem yang terpisah, melainkan digunakan secara bersamaan dan saling melengkapi. Menurutnya, Bahasa Inggris kerap dipakai untuk menegaskan emosi dan ketulusan, sementara Bahasa Indonesia memberi ruang penjelasan yang lebih personal. “Melalui pilihan bahasa ini, penutur membangun identitas sekaligus kedekatan dengan audiens,” ungkapnya.


Menariknya, Obay menemukan bahwa praktik ini justru memperkuat kesan autentik dalam komunikasi digital. Tiga ideologi keaslian muncul dalam proses tersebut, yakni ideologi transnasional, ideologi gender, dan ideologi bahasa. Ketiganya membentuk cara para penutur memaknai diri dan relasinya dengan audiens di ruang digital.


Dari sisi implikasi, ia menegaskan bahwa translanguaging di media sosial bukan sekadar gaya berbahasa, melainkan cerminan dinamika sosial dan budaya di era global. Praktik ini membuka ruang inklusif bagi keberagaman bahasa sekaligus memperkuat koneksi antara pembuat konten dan audiensnya.



Di penghujung sidang, Obay menyampaikan harapannya agar penelitian ini mendorong pemahaman yang lebih terbuka terhadap praktik bahasa di ruang digital. Ia menilai, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang perjumpaan identitas, budaya, dan pengalaman hidup yang terus bergerak seiring perubahan zaman.


(DEL)