
Jakarta, 9
Januari 2026 – Merupakan sebuah tantangan menjadi guru bahasa Inggris di
lembaga pendidikan Islam tradisional atau yang kerap dikenal dengan pesantren
tidaklah mudah. Hal inilah yang diangkat Moh. Syahrul Zaky Romadhoni,
M.Pd. dalam Sidang Program Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris (DLTBI)
yang digelar di Aula D, Kampus Semanggi, pada Jumat (9/1).
Dalam
disertasinya yang berjudul ”The Material-Discursive Construction of English
Language Teacher Identity: Religious Beliefs, Professionalism and Spaces in a
Posthumanist Age”. Zaky meneliti bagaimana lingkungan pesantren yang
berdiri sebagai ruang belajar penuh aturan, tradisi, dan nilai religius
mempengaruhi jati diri guru bahasa inggris di pesantren dalam menjalankan peran
sebagai guru bahasa asing.
Sidang dipimpin oleh Dekan Fakultas Pendidikan dan Bahasa (FPB) Universitas
Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya (UAJ), Rm. Dr. Yoseph Pedhu, CP.,MA,
bersama Rektor UAJ, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K). Turut hadir Advisor
disertasi, Prof. Christine Manara, Ph.D., didampingi oleh co-advisor, Ekarina,
Ph.D., serta para penguji, yaitu Prof. Joseph Ernest Mambu, Ph.D, Yanti, Ph.D.
dan Dr. Engliana, M.Hum.
Dalam
pemaparannya, Zaky menjelaskan bahwa identitas guru di pesantren tidak muncul
begitu saja, melainkan melalui kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Nilai-nilai
dalam agama Islam seperti ibadah (pengabdian kepada Tuhan), Khidmah
(pelayanan), dan amanah (tanggung jawab) membawa pengaruh kepada cara
guru mengajar dan bersikap. Zaky menjelaskan bahwa guru tidak lagi dipandang
sebagai pekerjaan semata, melainkan sebagai bentuk pengabdian.
Kajian ini juga
menyoroti peran unsur non-manusia dalam membentuk identitas guru, seperti ruang
kelas, kitab, ritual keagamaan, hingga aturan disiplin dapat memengaruhi cara
guru berpikir dan bertindak.
Di sisi lain,
Zaky menemukan bahwa guru bahasa inggris di pesantren kerap berada di antara
dua dunia. Di satu sisi, mereka hidup di lingkungan religius yang kuat dengan
sistem yang ketat, di sisi lain mereka harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan
pendidikan bahasa Inggris seperti, kurikulum dan teknologi. Kondisi ini
mendorong berbagai inovasi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan modern seperti
kurikulum global, bimbingan belajar sekuler, hingga penggunaan platform
digital.
Salah satu
penguji, Yanti, Ph.D., menyoroti kuatnya keterikatan latar belakang pesantren
dalam penelitian ini. Menanggapi hal tersebut, Zaky menjelaskan bahwa
pengalaman hidup di pesantren sejak menjadi santri hingga menjadi guru
membentuk kedalaman identitas yang berbeda.
”Guru yang lulus
dari pesantren lebih terintegrasi. Pengalaman mereka sebagai siswa dan sebagai
guru sangat terkait erat dengan lingkungan pesantren,” jelasnya.
Melalui
pendekatan Posthumanism, Zaky menegaskan bahwa identitas guru bahasa
Inggris di pesantren bersifat dinamis. Kajian ini menunjukkan bahwa guru bahasa
inggris di pesantren memegang peran besar sebagai pengajar bahasa asing dengan
memegang peran sebagai teladan moral siswanya.
Disertasi ini
diharapkan dapat memperkaya kajian pendidikan bahasa Inggris di Indonesia,
sekaligus memberikan pemahaman akan tantangan yang dihadapi guru bahasa Inggris
di lingkungan
(STV)