ASK
ME

REGISTER
NOW

Mengungkap Jati Diri Guru Bahasa Inggris di Pesantren

1/13/2026 12:00:00 AM



Jakarta, 9 Januari 2026 – Merupakan sebuah tantangan menjadi guru bahasa Inggris di lembaga pendidikan Islam tradisional atau yang kerap dikenal dengan pesantren tidaklah mudah.  Hal inilah yang diangkat Moh. Syahrul Zaky Romadhoni, M.Pd. dalam Sidang Program Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris (DLTBI) yang digelar di Aula D, Kampus Semanggi, pada Jumat (9/1).

 

Dalam disertasinya yang berjudul ”The Material-Discursive Construction of English Language Teacher Identity: Religious Beliefs, Professionalism and Spaces in a Posthumanist Age”. Zaky meneliti bagaimana lingkungan pesantren yang berdiri sebagai ruang belajar penuh aturan, tradisi, dan nilai religius mempengaruhi jati diri guru bahasa inggris di pesantren dalam menjalankan peran sebagai guru bahasa asing.


Sidang dipimpin oleh Dekan Fakultas Pendidikan dan Bahasa (FPB) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya (UAJ), Rm. Dr. Yoseph Pedhu, CP.,MA, bersama Rektor UAJ, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K). Turut hadir Advisor disertasi, Prof. Christine Manara, Ph.D., didampingi oleh co-advisor, Ekarina, Ph.D., serta para penguji, yaitu Prof. Joseph Ernest Mambu, Ph.D, Yanti, Ph.D. dan Dr. Engliana, M.Hum.


 

Dalam pemaparannya, Zaky menjelaskan bahwa identitas guru di pesantren tidak muncul begitu saja, melainkan melalui kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Nilai-nilai dalam agama Islam seperti ibadah (pengabdian kepada Tuhan), Khidmah (pelayanan), dan amanah (tanggung jawab) membawa pengaruh kepada cara guru mengajar dan bersikap. Zaky menjelaskan bahwa guru tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan semata, melainkan sebagai bentuk pengabdian.

 

Kajian ini juga menyoroti peran unsur non-manusia dalam membentuk identitas guru, seperti ruang kelas, kitab, ritual keagamaan, hingga aturan disiplin dapat memengaruhi cara guru berpikir dan bertindak. 

 

Di sisi lain, Zaky menemukan bahwa guru bahasa inggris di pesantren kerap berada di antara dua dunia. Di satu sisi, mereka hidup di lingkungan religius yang kuat dengan sistem yang ketat, di sisi lain mereka harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pendidikan bahasa Inggris seperti, kurikulum dan teknologi. Kondisi ini mendorong berbagai inovasi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan modern seperti kurikulum global, bimbingan belajar sekuler, hingga penggunaan platform digital.

 

Salah satu penguji, Yanti, Ph.D., menyoroti kuatnya keterikatan latar belakang pesantren dalam penelitian ini. Menanggapi hal tersebut, Zaky menjelaskan bahwa pengalaman hidup di pesantren sejak menjadi santri hingga menjadi guru membentuk kedalaman identitas yang berbeda.


 

”Guru yang lulus dari pesantren lebih terintegrasi. Pengalaman mereka sebagai siswa dan sebagai guru sangat terkait erat dengan lingkungan pesantren,” jelasnya.

 

Melalui pendekatan Posthumanism, Zaky menegaskan bahwa identitas guru bahasa Inggris di pesantren bersifat dinamis. Kajian ini menunjukkan bahwa guru bahasa inggris di pesantren memegang peran besar sebagai pengajar bahasa asing dengan memegang peran sebagai teladan moral siswanya.

 

Disertasi ini diharapkan dapat memperkaya kajian pendidikan bahasa Inggris di Indonesia, sekaligus memberikan pemahaman akan tantangan yang dihadapi guru bahasa Inggris di lingkungan 

(STV)