
Jakarta - Pembelajaran bahasa Inggris di tingkat SMA terus berkembang, termasuk dalam upaya mendorong siswa menggunakan kosakata asing secara aktif di kelas. Dari situasi inilah Yanuarius Yanu Dharmawan mengangkat kajiannya dalam sidang Program Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris (DLTBI) yang digelar di Aula D, Kampus Semanggi, Jumat (13/1).
Melalui disertasi berjudul "Embodied Mediation in ELL Vocabulary Instruction: Teachers’ Use of Coordinating Gesture, Speech, and Space in Mediating Learning," Yanuarius menyoroti peran tubuh guru mulai dari gestur, cara berbicara, hingga pengelolaan ruang kelas dalam membantu siswa memahami dan menggunakan kosakata bahasa Inggris di tingkat SMA di Indonesia.
Sidang tersebut dipimpin oleh Dekan Fakultas Pendidikan dan Bahasa (FPB) Unika Atma Jaya, Rm. Dr. Yoseph Pedhu, CP., MA, bersama para pembimbing disertasi, Prof. Christine Manara, Ph.D., didampingi Dr. Engliana, M.Hum., serta para penguji, yakni Prof. Dr. phil. Saiful Akmal, S.Pd.I., M.A., Prof. Dr. Setiono Sugiharto, dan Dr. Anna Marietta Da Silva, M.Hum.

Dalam pemaparannya, Yanuarius menjelaskan bahwa pembelajaran kosakata bahasa Inggris tidak hanya bergantung pada penjelasan lisan. Guru juga secara sadar menggunakan gerakan tangan, arah pandangan, ritme bicara, serta jarak tubuh untuk membantu siswa memahami makna kata dan terlibat dalam interaksi kelas. Gestur menunjuk, misalnya, membantu siswa fokus pada kata yang dimaksud, sementara gerakan sederhana lainnya memperjelas makna dan mengatur alur penjelasan.
Selain itu, temuan lainnya berkaitan dengan cara guru membuka ruang partisipasi siswa. Isyarat tubuh yang ringan seperti telapak tangan terbuka, anggukan, atau langkah kecil ke depan membuat ajakan berbicara terasa lebih nyaman. Dalam budaya kelas di Indonesia yang menjunjung kesopanan dan saling menghormati, pendekatan ini membantu siswa lebih percaya diri menggunakan kosakata baru.
Alih-alih mengukur pembelajaran melalui tes, penelitian ini melihat pembelajaran dari interaksi di kelas. Saat gestur, ucapan, dan pengelolaan ruang berjalan selaras, siswa tampak lebih cepat menyerap kosakata, berbicara lebih lancar, dan mulai menggunakan kembali kata-kata yang dipelajari. Bahkan, sebagian siswa mulai meniru gestur guru sebagai bagian dari cara mereka berbahasa.
Pada akhirnya, Yanuarius menegaskan bahwa pengajaran kosakata sebaiknya dipahami sebagai pencapaian interaksional, bukan sekadar penyampaian materi. Kesempatan belajar muncul dari cara guru mengatur perhatian, tempo, dan risiko partisipasi secara langsung di kelas.

Sebagai pembimbing disertasi, Prof. Christine Manara, Ph.D., menyampaikan bahwa Yanuarius menunjukkan keberanian dan ketekunan sejak awal proses akademik. "Ia memiliki perspektif yang tajam, konsisten mengajukan pertanyaan-pertanyaan kompleks, serta menunjukkan perhatian luar biasa pada detail dan integrasi ilmiah," tutur Christine.
Selanjutnya, penelitian ini diharapkan memberi gambaran praktis bagi guru bahasa Inggris tentang pentingnya memanfaatkan gestur dan interaksi sederhana agar kosakata tidak hanya dipahami, tetapi juga digunakan secara nyata dalam pembelajaran sehari-hari.
Laporan: CHA
(DEL)