ASK
ME

REGISTER
NOW

Menembus Dunia Riset Internasional

12/23/2025 12:00:00 AM


Jakarta – Dari sebuah kota kecil di Jawa Barat, siapa sangka pilihan program studi semasa kuliah bisa membawa Steffanus Pranoto Hallis menuju Korea hingga Amerika Serikat. Perjalanan itu tidak pernah benar-benar ia rencanakan, namun keputusannya memilih Bioteknologi Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya (UAJ) menjadi titik awal yang membuka perjalanan panjang bagi karier dan hidupnya. 

Steffanus kecil tumbuh dengan ketertarikan kuat pada biologi dan kimia. Berkat dorongan dari sang ayah, ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta demi memperluas wawasan sekaligus menekuni bidang yang diminati. Awalnya, ia bercita-cita menjadi apoteker. Namun, karena pada saat itu UAJ belum memiliki program studi (prodi) Farmasi, ia pun mencari alternatif lain yang tetap sejalan dengan minatnya. Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, akhirnya pilihan Steffanus tertuju pada Bioteknologi. 

Pengalaman laboratorium menjadi salah satu hal paling berkesan baginya, yakni para dosen tidak hanya sekedar mengajar teori. Mereka menghadirkan praktik dengan passion yang nyata. Ilmu dasar yang ia peroleh di bangku kuliah menjadi fondasi penting yang masih digunakan hingga kini berkarier sebagai peneliti.

“Kuliah di Atma Jaya itu bukan cuma teori, semuanya berguna. Sampai saat ini saya jadi peneliti, masih banyak ajaran dari dosen Atma Jaya yang berguna,” ujarnya.

Lewat rekomendasi orang tua, ia memilih food safety sebagai topik risetnya dengan tujuan menganalisa berbagai makanan tradisional untuk food safety.


Selain aktif di kelas dan laboratorium, Steffanus juga terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi mahasiswa, mulai dari Pastoran Atma Jaya (PAJ), Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Bioteknologi (BPM FTb), hingga kepanitiaan kampus. 

Setelah menyelesaikan studi jenjang sarjana, Steffanus memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Magister Bioteknologi Unika Atma Jaya pada tahun 2016. Keputusan tersebut didasari oleh fleksibilitas jadwal kuliah yang ditawarkan UAJ, sehingga memungkinkan dia untuk bekerja sembari menempuh pendidikan.

“Fleksibilitas ini sangat membantu karena kelasnya hanya ada di hari Jumat dan Sabtu, jadi hari lain saya bisa bekerja,” tuturnya.

Selama menjalani pendidikan magister, ia juga aktif mengikuti kegiatan akademik dan penelitian di UAJ. Melalui riset kolaboratif bersama dosen, Steffanus berfokus pada riset aplikasi kesehatan dengan topik pengembangan ekstrak tempe untuk anti-aging.

Pada tahun kedua, Steffanus mendapat kesempatan untuk mengikuti program exchange sekaligus magang riset di Catholic University of Korea. Selama menjalani riset di Korea Selatan, Steffanus berhadapan langsung dengan standar riset internasional yang lebih ketat dan kompetitif. Meski demikian, ia dapat beradaptasi dengan baik berkat ilmu dasar yang telah dibangun selama berkuliah di UAJ.

Pengalaman magang riset tersebut menjadi pembuka jalan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Setelah menyelesaikan studi Magister pada tahun 2019, Steffanus langsung melanjutkan program doktoral (S3) di Catholic University of Korea.

Selama menempuh pendidikan doktoral, Steffanus memfokuskan penelitiannya pada kanker payudara dengan pendekatan hypoxia yang bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar oksigen rendah dengan perkembangan kanker.

Integritas penelitian menjadi salah satu prinsip utama yang selalu ia pegang dalam dunia riset. Baginya, riset bukan soal “hasil bagus”, melainkan soal proses yang jujur dan konsisten. Ia percaya bahwa hasil yang tidak sesuai hipotesis lebih lebih sering membuat pertanyaan baru. 

“Kalo hasilnya positif terus justru kita tidak bisa berkembang. Di luar negeri, mereka selalu bertanya lebih dalam sehingga kita jadi ikut menggali untuk tahu lebih banyak soal penelitian kita”, ujarnya.

Tahun 2024 menjadi tahun akhir studi doktoralnya. Pasca kelulusannya, Steffanus tetap melanjutkan aktivitas riset di laboratorium Catholic University of Korea. Pada suatu titik, ia menerima tawaran untuk menjadi postdoctoral fellow di Johns Hopkins University, Amerika Serikat. 

Menutup perjalanannya, Steffanus menyampaikan bahwa UAJ telah menjadi pijakan penting yang menguatkannya melangkah jauh di dunia riset, pangan, dan medis. Baginya, fleksibilitas waktu kuliah, jejaring internasional yang luas, serta pengajaran yang komprehensif dan aplikatif di Magister Bioteknologi UAJ bukan sekedar keunggulan akademik, melainkan bekal nyata yang membawanya hingga ke panggung global 

Steffanus berpesan untuk mahasiswa UAJ agar selalu berani mengeksplorasi diri dan memanfaatkan berbagai kesempatan yang tersedia. Menurutnya, mahasiswa memiliki privilege yang besar karena memiliki waktu eksplorasi, akses direkomendasikan oleh dosen, dan banyak peluang internasional.

“Terus eksplor diri, jangan pernah takut untuk mencoba dan cari kesempatan sebanyak mungkin. Buat kalian calon mahasiswa yang memiliki passion dalam dunia riset, pangan, medical dan lainnya, Prodi Bioteknologi Atma Jaya itu punya dasar yang kuat. Jika kalian punya passion dan ingin berkembang, pilih Atma Jaya tidak akan menyesal,” pesannya.

(STV/LAU)