ASK
ME

REGISTER
NOW

Menakar Kesiapan Pimpinan PTS Menghadapi Dinamika Baru




Jakarta -  Kemampuan beradaptasi menjadi hal penting bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS), dengan pimpinan menengah berperan menjaga agar perubahan organisasi berjalan searah. Kondisi tersebut menjadi fokus kajian Pinkan Margaretha dalam sidang disertasi Program Doktor Psikologi (DPSI) yang digelar di Kampus Semanggi, Rabu (14/1).

Melalui disertasinya yang berjudul “Kesiapan untuk Berubah Pimpinan Menengah Perguruan Tinggi Swasta: Peran Efikasi Diri, Pola Pikir Bertumbuh, Komunikasi Organisasi, dan Kepemimpinan Perubahan",  Pinkan mengulas bagaimana pimpinan menengah PTS memaknai dan merespons perubahan organisasi di lingkungan pendidikan tinggi.


Pada pelaksanaannya, sidang ini dipimpin oleh Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), serta di promotori oleh Prof. Dr. phil. Hana Panggabean, Psikolog, dengan Dr. phil. Juliana Murniati, M.Si. Sementara itu, jajaran penguji terdiri atas Prof. Bernadette N. Setiadi, Ph.D., Psikolog, Prof. Johana E. Prawitasari, Ph.D., Psikolog, dan Dr. Angela Oktavia Suryani, M.Si.


Pinkan memaparkan bahwa perubahan di lingkungan PTS kerap menghadirkan tantangan berlapis. Di satu sisi, pimpinan menengah dituntut menerjemahkan kebijakan strategis institusi. Di sisi lain, mereka berhadapan langsung dengan dinamika sumber daya manusia di tingkat unit. Kondisi inilah yang menjadikan kesiapan untuk berubah (readiness for change) sebagai kompetensi krusial.




Untuk mengkaji hal tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 190 pimpinan menengah PTS di berbagai wilayah Indonesia. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares - Structural Equation Modeling (PLS-SEM) guna melihat hubungan antara faktor psikologis dan faktor organisasi.


Berdasarkan hasil analisis, kepemimpinan perubahan terbukti memiliki pengaruh langsung dan signifikan terhadap kesiapan pimpinan menengah. Tak hanya itu, efikasi diri dan komunikasi organisasi juga berperan penting secara tidak langsung melalui kepemimpinan perubahan. Dengan kata lain, kesiapan untuk berubah terbentuk dari kombinasi kapasitas personal dan dukungan sistem organisasi.


Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa pola pikir bertumbuh tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kesiapan untuk berubah dalam konteks pimpinan menengah PTS. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam organisasi pendidikan tinggi, kesiapan menghadapi perubahan lebih banyak ditentukan oleh kapasitas kepemimpinan dan sistem organisasi dibandingkan sekadar keyakinan personal untuk terus belajar.




Pinkan juga menyoroti posisi unik pimpinan menengah PTS yang berada di antara tuntutan struktural dan budaya akademik. Otonomi dosen dan tenaga kependidikan, menurutnya, menuntut pendekatan kepemimpinan yang komunikatif, persuasif, dan berorientasi pada makna bersama, bukan sekadar instruksi administratif.


"Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam merancang program pengembangan pimpinan menengah, khususnya dalam membangun kepemimpinan perubahan dan sistem komunikasi organisasi lebih efektif, " pungkas Pinkan.


(DEL)