ASK
ME

REGISTER
NOW

Membangun Kesejahteraan Lansia dari Dalam Diri

1/28/2026 12:00:00 AM



Jakarta - Menghadapi fenomena penuaan penduduk, kemampuan untuk tetap berdaya dan sejahtera di usia lanjut (successful aging) menjadi isu krusial di Indonesia. Kondisi tersebut menjadi fokus kajian Sorta Marisi Margaretha Nababan dalam sidang disertasi Program Doktor Psikologi yang digelar di Aula D, Kampus Semanggi, (22/1).


Melalui disertasinya yang berjudul "Pengaruh Faktor-faktor Refleksi Diri, Spiritualitas Positif, Kebahagiaan, dan Keterlibatan Sosial Terhadap Successful Aging Lansia Indonesia", Sorta mengulas bagaimana interaksi antara faktor internal dan eksternal membentuk kualitas hidup lansia di tengah pergeseran demografi.


Sidang ini dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama dan Alumni, Yanti, Ph.D., serta dipromotori oleh Prof. Dr. Benedicta Prihatin Dwi Riyanti, Psikolog, dengan Dr. Christiany Suwartono, S.Psi., M.Si. Adapun jajaran penguji terdiri atas Prof. Dr. Clara. R. P. Ajisukmo, M.Sc., Psikolog, kemudian Dra. Eunike Sri Tyas Suci., dan Endang Fourianalistyawati, Ph.D., Psikolog.


Sorta membuka pemaparannya dengan menjelaskan bahwa pencapaian masa tua yang berkualitas seringkali terbentur pada berbagai tantangan psikologis dan sosial. Banyak lansia yang masih kesulitan dalam memaknai perubahan fisik serta peran sosial mereka di masyarakat. Melalui pendekatan psikologi positif, ia menawarkan perspektif baru bahwa keterlibatan sosial dan spiritualitas bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama bagi kemandirian lansia.




Kendati demikian, fenomena di lapangan menunjukkan bahwa model kesejahteraan lansia yang ada selama ini masih banyak menghadapi standar Barat yang belum tentu relevan dengan Budaya Indonesia. Kebijakan publik terkait lansia juga sering kali hanya berfokus pada aspek kesehatan fisik, sementara aspek mentalitas seperti refleksi diri dan kebahagiaan batin kurang mendapatkan perhatian proporsional dalam program-program pengabdian masyarakat.


Melalui kajian psikologis yang mendalam terhadap ratusan responden lansia di Indonesia, Sorta menilai bahwa spiritualitas positif memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam memediasi hubungan antara refleksi diri dan kebahagiaan. Ia menyoroti bahwa lansia yang mampu melakukan evaluasi diri secara bijak dan memiliki kedekatan spiritual cenderung memiliki daya tahan (resilience) yang lebih tinggi dalam menghadapi penurunan fungsi fisik dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan dukungan materi.


Berdasarkan hasil analisisnya menggunakan metode statistik yang komprehensif, ditemukan bahwa kebahagiaan bertindak sebagai motor penggerak utama bagi keterlibatan sosial lansia. Dengan kata lain, lansia yang bahagia secara internal akan lebih aktif berkontribusi di lingkungan sosialnya, yang pada akhirnya mewujudkan kondisi successful aging yang seutuhnya.




Pada kesempatan tersebut, ko-promotor disertasi, Dr. Christiany Suwartono, S.Psi., M.Si., menyampaikan apresiasinya atas capaian doktor ke-21 tersebut. “Dengan keberanian dan fokus yang konsisten, Sorta menunjukkan pemikiran tajam, perspektif yang segar, serta ketekunan dalam mengolah persoalan-persoalan kompleks. Capaian doktor ini menjadi bukti bahwa determinasi dan rasa ingin tahu mampu melampaui berbagai tantangan akademik,” tuturnya.


Menutup pemaparannya, Sorta berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan dalam perumusan program pengembangan kesejahteraan lansia, khususnya dalam membangun sistem dukungan mental yang berpijak pada nilai-nilai spiritualitas dan kearifan lokal.


(DEL)