ASK
ME

REGISTER
NOW

Memanfaatkan Analogi Sastra Agar Lebih Mudah Dicerna

1/16/2026 12:00:00 AM



Jakarta - Menerjemahkan karya sastra bukan sekadar urusan mengganti kata dari satu bahasa ke bahasa lain. Di balik itu, ada tantangan tersendiri ketika penerjemah harus mengalihkan metafora, atau bahkan menggantinya, agar makna dan pesan penulis tetap sampai ke pembaca.


Pentingnya pemahaman ini dibahas tuntas oleh Moh. Supardi dalam sidang disertasi Program Doktoral Linguistik Terapan Bahasa Inggris yang digelar di Kampus Semanggi, Unika Atma Jaya (15/1). Melalui disertasinya yang berjudul “Conceptual Metaphors in Translation: An Analysis of Animal Farm in English and Indonesian”, Supardi membedah bagaimana metafora dalam buku Animal Farm diterjemahkan ke dalam tiga versi bahasa Indonesia yang berbeda.


Sidang akademik ini dipimpin oleh Dekan Fakultas Pendidikan dan Bahasa (FPB) Unika Atma Jaya, Rm. Dr. Yoseph Pedhu, CP., MA., dipromotori oleh Yanti, Ph.D., didampingi Dr. Engliana, dengan tim penguji yang terdiri dari Dr. Julia Eka Rini, Prof. Dr. Setiono Sugiharto, M.Pd., dan Prof. Christine Manara, Ph.D.



Supardi membuka paparannya dengan menjelaskan bahwa metafora sebenarnya adalah cermin dari cara manusia berpikir. “Metafora bukan sekadar hiasan kalimat, melainkan cara kita memetakan pengalaman hidup ke dalam bahasa,” ungkapnya. Ia menemukan bahwa tantangan terbesar penerjemah adalah ketika mereka harus menjembatani perbedaan budaya yang tajam antara teks asli dengan pembaca lokal.


Dalam sesi pemaparannya, Supardi menekankan betapa krusialnya peran penerjemah sebagai pengolah makna. "Proses penerjemahan metafora yang kompleks menuntut tingkat penerimaan yang lebih tinggi terhadap banyak aspek, mulai dari makna, budaya, hingga bahasa, untuk mengatasi kendala penerjemahan," ujarnya saat menjelaskan rasionalitas penelitiannya.


Dalam penelitian yang melibatkan analisis mendalam terhadap ratusan metafora ini, ditemukan bahwa setiap penerjemah punya strategi unik. Sebagai contoh, Mahbub Djunaidi lebih banyak menggunakan pendekatan fungsi budaya agar lebih akrab di telinga pembaca Indonesia, meski secara konseptual memiliki jarak yang lebih lebar dari teks aslinya. Sementara itu, dua versi lainnya cenderung lebih menjaga kesamaan konseptual dengan teks sumber.




Penelitian ini menjadi kontribusi penting bagi dunia linguistik di Indonesia. Temuan Supardi menunjukkan bahwa setiap pilihan kata yang diambil penerjemah mencerminkan bagaimana mereka membangun makna di tengah perbedaan budaya. Hal ini bisa menjadi panduan berharga bagi para penerjemah profesional maupun pengajar bahasa.


Selain untuk dunia penerjemahan, Supardi menekankan bahwa metafora bisa menjadi alat ajar yang ampuh di kelas. Guru dapat menggunakan analogi metafora untuk menjelaskan ide-ide yang sulit agar lebih mudah dicerna dan merangsang cara berpikir kritis siswa.


Ia menutup sidang dengan sebuah kesimpulan bahwa penerjemah metafora bukan sekadar persoalan kesepadanan bahasa, melainkan juga mencerminkan cara berpikir serta konstruksi budaya penerjemah.

 

(DEL)