ASK
ME

REGISTER
NOW

Memahami Budaya Natal di Meksiko Lewat Wayang Kulit

12/18/2025 12:00:00 AM



Jakarta – Dalam budaya Meksiko, kematian dipandang sebagai sebuah perjalanan. Roh leluhur dipercaya kembali mengunjungi dunia manusia, lalu pulang dengan dipandu dua simbol berwujud burung kolibri (Hummingbird) dan Anjing (Xoloitzcuintli) yang menuntun mereka kembali. Cerita ini secara unik dihadirkan melalui pertunjukan wayang kulit dalam acara Christmas Around the World yang digelar International Office (IO) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya (UAJ) di Hall Karol Wojtyla (KW), Kampus Semanggi, (12/12).


Acara ini menjadi ruang perjumpaan budaya Indonesia dan Meksiko, menghadirkan cerita dan tradisi Natal Meksiko melalui medium wayang kulit yang lekat dengan budaya Indonesia. Perayaan dibuka oleh perwakilan dari IO UAJ, Angela Merici yang menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang kembali terjalin dengan Kedutaan Besar Meksiko di Jakarta. 


Angela menuturkan bahwa Christmas Around the World merupakan upaya dari Atma Jaya untuk memperkenalkan keberagaman tradisi di dunia sekaligus merawat semangat kebersamaan dalam perayaan Natal. 


Pada kesempatan yang sama, Perwakilan Kedutaan Besar Meksiko di Indonesia, bidang Konsuler dan Kebudayaan, Ricardo Daniel Becerril Martinez menjelaskan makna khusus tanggal 12 Desember bagi masyarakat Meksiko. Ia menyampaikan bahwa tanggal tersebut menandai perayaan Bunda Maria di Guadalupe yang secara tradisional dianggap sebagai awal rangkaian perayaan Natal di Meksiko.


”Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi kami. Di Meksiko, perayaan Natal secara resmi dimulai. Ditandai dengan Hari Raya Bunda Maria dari Guadalupe (Día de la Virgen de Guadalupe), memperingati penampakan Perawan Maria kepada Santo Juan Diego pada tahun 1531,” ujarnya.




Puncak acara ditandai dengan pertunjukan wayang kulit yang dibawakan oleh Victor atau kerap disapa Ki Vicky sebagai dalang. Dalam pengantarnya, ia menjelaskan bahwa pementasan ini mempertemukan dua budaya, dengan menggabungkan cerita Meksiko yang digambarkan lewat medium wayang kulit. Wayang-wayang yang digunakan terinspirasi dari budaya Meksiko pra-Kolumbus dan dibuat dari kulit kerbau dengan proses yang panjang.


Wayang yang ditampilkan mempresentasikan budaya Meksiko dan terinspirasi dari kepercayaan masyarakat Maya tentang para dewa yang berasal dari surga atau alam lain. Ki Vicky membawakan kisah tentang Hari Kematian dalam budaya Meksiko, memandang kematian bukan sebagai akhir melainkan bagian dari perjalanan hidup.


Dalam aksinya, Ki Vicky menjadi dalang di balik kelir menceritakan kisah roh leluhur yang dipercaya kembali mengunjungi dunia manusia sebelum akhirnya kembali ke alam arwah. Perjalanan mereka dipandu oleh dua simbol berwujud burung kolibri (Hummingbird) yang melambangkan jiwa dan harapan serta Anjing (Xoloitzcuintli) yang dipercaya setia menemani dan menuntun roh melewati rintangan dalam perjalanan.


Usai pertunjukan, Ki Vicky menjelaskan mengenai cerita yang ia tampilkan, termasuk tradisi Las Posadas, sebuah kisah penampakan Bunda Maria kepada Juan Diego, serta makna simbolik piñata  dalam perayaan Natal Meksiko.


Rangkaian acara ditutup dengan aksi memukul piñata yang melibatkan audiens diiringi dengan musik khusus. Dalam budaya Meksiko, piñata dilambangkan sebagai tujuh dosa besar yang harus dihancurkan, permen yang keluar dapat diambil dan menjadi lambang hal-hal positif seperti keberuntungan, kelimpahan, serta kegembiraan.




Melalui perjumpaan ini, semangat kebersamaan Natal terpancar kuat dalam acara Christmas Around the World. Kisah-kisah dari Meksiko disampaikan melalui medium wayang kulit khas Indonesia, memperlihatkan bahwa perbedaan tradisi dapat saling menyapa tanpa kehilangan jati dirinya.

(STV)