
Jakarta - Institute of
Public Policy (IPP) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya menggelar
seminar publik bertajuk “American Democracy under Trump, What Indonesia
Could Learn?” di Kampus Semanggi, Rabu (7/1). Kegiatan ini menjadi ruang
refleksi akademik untuk membaca dinamika demokrasi presidensial Amerika Serikat
sekaligus menarik pembelajaran yang relevan bagi konteks Indonesia.
Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif IPP Unika Atma Jaya, Salvatore Simarmata, S.Sos., M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa kemunduran demokrasi kerap bermula dari melemahnya kepemimpinan politik dan institusi, bukan dari masyarakat. Ia merujuk pandangan ilmuwan politik Larry Butler yang menyebut bahwa erosi demokrasi lebih sering terjadi “dari atas”, ketika prosedur dan tata kelola kekuasaan tidak dijaga secara akuntabel.

“Diskusi ini kami
selenggarakan sebagai ruang refleksi, bukan untuk meniru dinamika politik di
negara lain, melainkan untuk menarik pembelajaran global guna memperkuat
fondasi demokrasi, supremasi hukum, dan tata kelola pemerintahan yang
bertanggung jawab di Indonesia,” ujar Salvatore.
Diskusi dipandu
oleh dosen Prodi Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya, Andina Dwifatma, Ph.D.,
selaku moderator, dengan Dosen Prodi Magister Linguistik Terapan Bahasa Inggris
Unika Atma Jaya, Ekarina, Ph.D., yang bertindak sebagai pembawa acara.
Hadir sebagai
pembicara utama, Walter F. LaFeber Professor dari Government and Public Policy
Cornell University, Prof. Thomas Pepinsky. Ia menekankan bahwa diskusi ini
tidak dimaksudkan untuk mengajarkan apa yang harus dipelajari Indonesia dari
Amerika Serikat, melainkan sebagai ruang refleksi bersama atas dinamika
demokrasi presidensial.
Menurutnya, demokrasi merupakan proses yang hidup dan terus diuji oleh waktu, terutama dalam sistem presidensial yang memberikan kewenangan besar kepada eksekutif. Ia menyoroti bahwa akuntabilitas kekuasaan menjadi tantangan utama ketika mekanisme pengawasan tidak berjalan optimal.

“Demokrasi bukan
titik akhir, melainkan perjalanan yang menuntut keterlibatan aktif warga dan
institusi yang kuat untuk menjaganya,” ungkap Thomas.
Ia juga
menggarisbawahi pentingnya penguatan mekanisme checks and balances
sebagai fondasi ketahanan demokrasi. Bagi Indonesia, lanjutnya, pendidikan
kebijakan publik berperan strategis untuk memastikan pembangunan tidak hanya
mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga selaras dengan prinsip keadilan,
akuntabilitas, dan nilai-nilai demokrasi.
Seminar publik ini
diakhiri dengan semangat optimisme bahwa Indonesia memiliki peluang besar
dengan memperkuat kolaborasi antara akademisi, institusi negara, dan masyarakat
sipil. Sehingga Indonesia diharapkan mampu menciptakan tata kelola pemerintahan
yang tidak hanya stabil secara politik, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi
kesejahteraan seluruh rakyat.
(DEL)