
Jakarta - Kegiatan pendampingan di ruang kelas selalu menghadirkan pelajaran tersendiri. Pada 9-11 Desember 2025, saya bersama tim Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya (UAJ) terlibat dalam pelatihan penguatan karakter bagi siswa SMP-SMA Kolese Kanisius di Jakarta. Pengalaman ini menjadi ruang refleksi tentang bagaimana tanggung jawab dan kepemimpinan mulai dibentuk sejak usia sekolah.
Di bawah arahan Prof. Clara Ajisuksmo, kegiatan ini dirancang jauh dari format ceramah massal. Bagi saya, pendidikan karakter bukan soal berbicara lantang di aula besar, tetapi tentang percakapan jujur dan reflektif di ruang-ruang kelas.
Dalam tiga hari, sebanyak 1.441 siswa SMP-SMA Kolese Kanisius mengikuti kegiatan ini. Untuk menjaga kualitas pendampingan, peserta dibagi ke dalam 42 kelas kecil. Pola ini memberikan ruang bagi pendekatan yang lebih personal, sekaligus menjaga interaksi tetap hidup.

Agar lebih efektif, pelaksanaan dilakukan bertahap sesuai jenjang usia. Hari pertama diikuti 545 siswa kelas 11 dan 12, dilanjutkan hari kedua oleh 474 siswa kelas 9 dan 10, serta ditutup pada hari terakhir 421 siswa kelas 7 dan 8. Pola ini memberi ruang bagi pendekatan yang lebih sesuai dengan tahap perkembangan siswa, sekaligus menjaga interaksi di kelas tetap hidup dan terarah.
Kegiatan ini didukung oleh 28 fasilitator utama yang terdiri dari dosen serta alumni lintas program, mencakup Magister Profesi Psikologi, Program Doktor Fakultas Psikologi dan Fakultas Pendidikan dan Bahasa. Mereka ditemani oleh 37 mahasiswa Psikologi UAJ sebagai pendamping lapangan. Bagi para mahasiswa, keterlibatan ini merupakan sarana belajar tentang pelayanan dan praktik keilmuan secara nyata.
Materi yang kami sampaikan sederhana namun mendalam. Siswa diajak mengenali diri, memahami tanggung jawab pribadi, hingga kematangan emosi. Di akhir sesi, mereka merumuskan komitmen pribadi. Ini bukan berbentuk slogan, melainkan sebuah refleksi atas nilai hidup yang ingin mereka hayati.

Menariknya, meskipun materi yang diberikan seragam, suasana setiap kelas selalu berbeda. Faktor usia, karakter siswa, hingga gaya fasilitator membuat proses pendampingan terasa hidup. Dinamika maskulinitas pun hadir dengan segala kompleksitasnya, mulai dari tantangan, humor, resistensi, hingga kejujuran yang sering kali muncul tanpa diduga.
Dari keseluruhan proses ini, saya memetik kesimpulan sederhana, menjadi laki-laki yang bertanggung jawab tidak lahir dari nasihat satu arah, melainkan tumbuh dari ruang aman untuk berefleksi.

Dosen Program Studi Psikologi
(Penyunting: DEL)