
Pernahkah kamu membayangkan dunia yang berjalan mundur? Bayi tumbuh menjadi janin, air panas tiba-tiba memadat menjadi es, atau dedaunan kering yang telah gugur kembali menyatu dengan rantingnya. Semua itu terdengar mustahil. Namun justru di sanalah pertanyaan pentingnya mengapa alam hanya mengenal satu arah waktu ke depan.
Jawabannya bukan sekadar karena “memang begitulah adanya”. Di balik keseharian yang tampak biasa, fisika menyimpan satu konsep kunci yang diam-diam mengatur hampir seluruh proses alam, termasuk kehidupan dan kecerdasan manusia yang tak lepas dari entropi. Dari konsep inilah kisah besar tentang waktu, evolusi, dan kemampuan berpikir manusia bermula.
Entropi sebagai Penunjuk Arah Waktu
Dalam keseharian, kita akrab dengan satu pola sederhana keteraturan cenderung memudar. Kamar yang rapi perlahan menjadi berantakan, es batu mencair, dan kertas yang terbakar berubah menjadi abu. Fenomena ini bukan semata-mata akibat kelalaian manusia, melainkan konsekuensi dari prinsip dasar alam yang dikenal sebagai Hukum Termodinamika Kedua atau Entropi. Hukum ini menyatakan bahwa tingkat ketidakteraturan alam akan selalu meningkat.
Ketika entropi meningkat, waktu pun bergerak maju. Inilah yang disebut sebagai panah waktu. Kita tidak pernah menyaksikan pecahan kaca kembali menyatu dengan sendirinya, sebab proses tersebut menuntut penurunan entropi, sesuatu yang secara alami sangat tidak mungkin terjadi. Dengan kata lain, waktu mengalir ke depan karena itulah jalur yang paling longgar, paling mudah, dan paling alami bagi alam semesta.
Kehidupan di Tengah Kecenderungan Alam
Menariknya, kehidupan justru tampak berlawanan dengan kecenderungan tersebut. Di tengah alam yang cenderung menuju ketidakteraturan, makhluk hidup berkembang menjadi semakin kompleks. Dari bakteri sederhana hingga manusia yang menciptakan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
Namun, di sinilah letak kecerdikan alam. Kehidupan memang menciptakan keteraturan, tetapi melakukannya dengan cara yang tetap sejalan dengan hukum entropi. Tubuh manusia, misalnya, membangun struktur yang sangat teratur melalui proses makan, bernapas, dan bergerak. Semua proses ini menghasilkan panas dan limbah yang dilepaskan ke lingkungan. Artinya, keteraturan di dalam tubuh “dibayar” dengan meningkatnya entropi di luar tubuh.
Selama biaya entropi ini dibayarkan, kehidupan bebas tumbuh dan berevolusi. Evolusi yang melahirkan organisme semakin kompleks bukanlah pelanggaran hukum alam, melainkan justru bukti bagaimana kehidupan memanfaatkannya secara cerdas.
Kecerdasan sebagai Cara Kehidupan Bertahan
Lingkungan hidup di Bumi tidak pernah benar-benar stabil. Iklim berubah, rantai makanan bergeser, dan bencana alam dapat muncul sewaktu-waktu, seperti yang kerap kita saksikan di berbagai wilayah, termasuk Pulau Sumatera. Ketidakpastian ini memperbesar kompleksitas dunia dan meningkatkan entropi dalam skala yang lebih luas.
Untuk bertahan, kehidupan memerlukan strategi yang semakin adaptif. Dari sinilah kecerdasan menemukan perannya. Kemampuan mengingat, memprediksi, merencanakan, dan bekerja sama bukanlah sekadar keunggulan tambahan, melainkan respons evolusioner terhadap dunia yang kian rumit. Kecerdasan bukan hadiah kebetulan, melainkan alat yang dibentuk oleh alam agar makhluk hidup mampu bertahan di tengah ketidakpastian.
Arah Waktu yang Paling Efisien bagi Alam
Selain Hukum Termodinamika Kedua, pemahaman modern tentang entropi juga memperkenalkan gagasan lanjutan yang kerap disebut sebagai Hukum Entropi Goen atau Termodinamika 2.1. Gagasan ini menyatakan bahwa Rerata energi (kalor) yang dibutuhkan untuk membalik suatu proses selalu lebih besar daripada energi untuk menjalankannya maju.
Memecahkan telur, misalnya, hampir tidak membutuhkan energi. Sebaliknya, mengembalikan telur yang telah pecah menjadi utuh kembali memerlukan energi yang nyaris mustahil dipenuhi. Alam, dengan demikian, “memilih” arah waktu maju karena itulah jalur yang paling hemat energi dan paling efisien. Evolusi, metabolisme, hingga cara kerja otak manusia hanya dapat berlangsung stabil pada arah waktu yang murah secara energi.
Kita Bergerak Maju Karena Alam Mengarah ke Masa Depan
Jika seluruh potongan ini disatukan, gambaran besarnya menjadi jelas. Entropi menunjukkan arah waktu dan evolusi menciptakan keteraturan dengan tetap membuang ketidakteraturan ke lingkungan. Dalam proses itu, kecerdasan tumbuh sebagai respons terhadap dunia yang semakin kompleks, sementara waktu bergerak maju karena itulah pilihan paling efisien bagi alam.
Barangkali inilah alasan mengapa kita tidak pernah melihat kehidupan berjalan mundur. Alam semesta, sejak awal, telah menetapkan arah maju sebagai panggungnya. Di atas panggung inilah kehidupan, evolusi, dan kecerdasan manusia terus bergerak, sehingga melangkah ke depan, tanpa perlu menoleh ke masa lalu.

Stephanus Ivan Goenawan, S.Si., M.T.
Dosen Prodi Teknik Industri, Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi
(Penyunting: DEL)