ASK
ME

REGISTER
NOW

Seniman Suarakan Filosofi Air dalam Sapuan Cat Mengalir

2/20/2026 12:00:00 AM



Jakarta - Seni lukis tidak hanya dipandang sebagai hiasan dinding, tetapi juga sebagai instrumen kesehatan mental dan keseimbangan otak. Melalui kacamata neurosains, seni disebut memiliki frekuensi yang sama dengan cara kerja pikiran manusia yang dinamis.


Nuansa tersebut hadir dalam peresmian pameran lukisan cat air bertajuk "Banyumili" yang digelar oleh kelompok pelukis D'lima di Balai Budaya Jakarta, (14/2). Pameran ini menghadirkan karya-karya yang mengeksplorasi filosofi air sebagai simbol kelenturan hidup.


Bagi Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), pameran ini bukan sekadar ajang pamer karya, melainkan sebuah pengalaman batin yang selaras dengan fungsi saraf manusia. Sebagai akademisi, ia melihat ada kaitan erat antara sapuan cat air dengan aktivitas otak.




"Dalam neurosains, otak tidak pernah benar-benar diam. Pikiran, emosi, dan imajinasi terus mengalir seperti air, berpindah dari satu jaringan saraf ke jaringan lain. Saat kita melihat lukisan cat air, otak tidak hanya melihat warna, tapi merasakan suasana," ujar Prof. Yuda dalam sambutannya.


Menurutnya, sifat cat air yang cair dan tidak sepenuhnya bisa dikendalikan sangat mirip dengan munculnya kreativitas dalam otak manusia. Kreativitas, lanjutnya, justru muncul ketika manusia memberi ruang pada ketidakpastian, titik di mana logika dan emosi bertemu.


Ia menambahkan, dunia pendidikan tidak seharusnya hanya berfokus pada capaian akademik dan perkembangan teknologi semata. Kepekaan rasa yang diasah melalui seni menjadi bagian penting dalam membentuk manusia yang utuh.




Perspektif serupa disampaikan Kepala Balai Budaya Jakarta, Syahnagra Ismail. Ia menyebut  ruang budaya sebagai "rumah" bagi perjalanan para seniman dalam merawat makna kehidupan melalui karya. "Kebudayaan adalah bagian penting dari kehidupan bangsa dan dunia. Kita menemukan banyak kehidupan, bermacam warna, dan bentuk di dalam filosofi air yang mengalir. Ini adalah tema yang sangat menarik dan tidak bisa kita remehkan begitu saja,” ujarnya


Pameran "Banyumili" sendiri menampilkan karya dari lima perupa yang tergabung dalam kelompok D'lima, yaitu Candra Martoyo, Corry Harisyahatullaely, Sarjiyanto Sekar, Sheila Agustini, dan Yayuk Nur. Pameran turut diperkuat kehadiran dua seniman tamu yakni, Prof. Dr. Abdullah Abdo Futiny dan dr. Jendrawan Husada. 




Sesuai namanya "Banyumili" yang berarti air mengalir dipilih sebagai metafora kehidupan yang lentur namun memiliki kekuatan yang luar biasa. Dalam setiap sapuan warna, air tidak hanya hadir sebagai unsur visual, tetapi menjadi medium yang menghidupkan rasa, menghadirkan ketenangan, serta menghubungkan beragam interpretasi para seniman dalam satu aliran ekspresi yang bebas dan dinamis.


Melalui pameran ini, pengunjung tidak hanya menikmati keindahan estetika, tetapi juga merasakan efek terapeutik dari seni. Di tengah ritme kehidupan yang semakin cepat, karya-karya cat air tersebut menghadirkan ruang jeda tempat pikiran dapat beristirahat sejenak.


Laporan:  CHA

(DEL)