
Jakarta - Buku sering kali menjadi jendela untuk memahami kisah dan makna di balik peristiwa sejarah. Pengalaman inilah yang saya rasakan ketika membaca buku “100 Tahun D.I. Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran”. Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya (UAJ) mendapat sebuah kehormatan untuk menjadi tuan rumah dari peluncuran dan bedah buku tersebut, (8/12).
Acara ini menjadi ruang untuk mengenang peristiwa sejarah seorang pahlawan revolusi dengan menghadirkan tiga sosok penting, yaitu putri sulung Almarhum D.I. Pandjaitan, Kathrine Pandjaitan, jurnalis senior yang turut menulis bagian akhir buku, Andri Hadiyana, serta pengurai beberapa peristiwa di balik biografi ini, A. Irianto.
Sebagai seorang psikolog dengan perhatian besar pada sejarah, saya dipercaya menjadi moderator dalam kegiatan ini. Bagi saya peran moderator lebih dari mengatur alur diskusi, tetapi juga menyiapkan diri secara intelektual dan emosional dengan membaca buku ini serta merefleksikannya. Proses ini yang membuat saya melihat sosok (Anumerta) D.I. Pandjaitan, bukan hanya sebagai pahlawan, tetapi sebagai manusia utuh.
Buku pada peluncuran ini merupakan edisi kedua yang disusun oleh Andri Hadiyana dan diperkaya dengan bab penutup berjudul “Meneladani Nilai-nilai dari Sebuah Pengorbanan.” Bab ini memuat refleksi sejumlah tokoh yang pernah mengenal dekat (Anumerta) Donal Isac Pandjaitan.
Edisi pertama buku ini terbit pada 1997, berupa biografi (Anumerta) D.I. Pandjaitan. Buku tersebut ditulis oleh, Ramadhan K.H. dan Sugiarta Sriwibawa yang bersumber pada penuturan istri D.I. Pandjaitan, Marieke Pandjaitan br. Tambunan. Menariknya, cetakan pertama buku ini disertai kata sambutan dari tokoh-tokoh nasional lintas generasi, seperti Presiden Soeharto, Jenderal Wiranto, Jenderal A.H Nasution, H. Alamsjah Ratu Perwiranegara, serta B.J. Habibie.

Dalam buku tersebut, bab XI dan XII mengulas secara mendalam penugasan (Anumerta) D.I Pandjaitan selama bertugas di Bonn, Jerman. Kehidupannya diperkaya melalui bacaan keagamaan dan relasinya dengan Pendeta de Kleine, yang membuatnya diterima dengan hangat di lingkungan masyarakat Jerman. Ia bahkan pernah diminta berkhotbah di sebuah gereja dalam bahasa Jerman.
Sisi spiritualitas (Anumerta) D.I. Pandjaitan dikenal luas di lingkungan militer. Hal ini tergambar ketika Jenderal Ahmad Yani menyebut bahwa (Anumerta) D.I. Pandjaitan lebih cocok menjadi pendeta ketika ditanya oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno pada tahun 1962.
Sebagai prajurit sekaligus pribadi yang religius, (Anumerta) D.I. Pandjaitan memilih penugasan sebagai Atase Militer di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bonn. Alasan ia memilih jalur itu karena pengalaman masa mudanya saat menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), saat itu ia sangat terkesan dengan Misi Zending dari Jerman.
Di Bonn, ia bertemu dengan B.J. Habibie pada tahun 1958. Saat itu Habibie tengah menempuh studi di Jerman dan mengoordinasikan “Seminar Pembangunan” bagi pemuda Indonesia di Eropa, sebuah kegiatan akademik yang didukung penuh oleh (Anumerta) D.I. Pandjaitan.

Bagi saya, salah satu kisah paling berkesan dalam buku ini adalah pertemuan D.I. Pandjaitan dengan salah satu pendiri Unika Atma Jaya, Frans Seda. Pada bab XIII, mengulas peran (Anumerta) D.I. Pandjaitan dalam upaya pembebasan Irian Barat, termasuk pendekatannya kepada tokoh-tokoh politik Belanda, seperti Prof. Duijnstee dari Universitas Katolik Nijmegen yang juga merupakan anggota parlemen Belanda. Kala itu, diskusi mengenai masa depan Irian Barat berlangsung di rumah (Anumerta) D.I. Pandjaitan yang saat itu dikunjungi oleh Frans Seda dan Prof. Duijnstee.
Melalui kisah-kisah tersebut, saya melihat benang merah antara (Anumerta) D.I. Pandjaitan dan Frans Seda. Keduanya menunjukkan bentuk nasionalisme yang berpijak pada nilai dan spiritualitas, serta diwujudkan melalui pengabdian. Cara pandang ini sejalan dengan semboyan Frans Seda yang kini menjadi roh Unika Atma Jaya, ”Untuk Tuhan dan Tanah Air”.
Dra. Eunike Sri Tyas Suci, Ph.D., Psikolog.
Dosen Program Studi Psikologi Unika Atma Jaya
(Penyunting: STV)