
Jakarta - Dunia modern semakin diwarnai oleh masyarakat dengan beragam latar belakang dan budaya. Perbedaan nilai, identitas, bahasa, hingga pengalaman hidup menjadi cetakan yang membentuk cara individu memandang dirinya serta memaknai berbagai persoalan. Dalam konteks psikologi, keragaman ini menghadirkan tantangan tersendiri dalam proses memahami manusia yang tidak terlepas dari cara berpikir, emosi, dan perilaku yang berbeda-beda.
Dalam praktik psikoterapi, prosesnya tidak pernah lepas dari konteks budaya yang dimiliki oleh klien maupun terapis. Jurnal berjudul “Multicultural Orientation in Psychotherapy Supervision: Cultural Humility, Cultural Comfort, and Cultural Opportunities” yang dipublikasikan dalam "American Journal of Psychotherapy," menjelaskan pendekatan multicultural orientation yang menekankan pentingnya kesadaran budaya dalam hubungan klien dan terapis. Pendekatan ini mencakup kesadaran terhadap bias diri (cultural humility), kenyamanan dalam membahas isu budaya (cultural comfort), serta kemampuan mengeksplorasi pengalaman budaya klien (cultural opportunity).
Pendekatan tersebut menekankan bahwa terapis perlu menyadari keterbatasan perspektif pribadi, membangun kenyamanan dalam membahas isu budaya, serta mampu memanfaatkan momen dalam percakapan terapi untuk mengeksplorasi pengalaman budaya klien. Tanpa kesadaran tersebut, bias pribadi dapat mempengaruhi proses terapi dan berpotensi menghambat pemahaman yang komprehensif terhadap kondisi psikologis seseorang.
Seiring dengan dinamika masyarakat multikultural, kebutuhan akan kompetensi budaya menjadi semakin relevan dalam bidang psikologi. Perbedaan suku, agama, bahasa, serta latar belakang sosial ekonomi menjadi pembentuk dinamika kehidupan masyarakat. Kondisi ini membuat pemahaman bias diri dan aspek budaya menjadi kompetensi penting bagi praktisi psikologi agar mampu memberikan pelayanan maksimal terhadap klien.
Menjawab kebutuhan tersebut, Program Studi (Prodi) Magister Psikologi Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya menghadirkan pembelajaran yang berorientasi pada dinamika temu budaya serta aspek sosial dalam kesehatan masyarakat yang beragam. Hal ini menegaskan pentingnya peran pendidikan psikologi dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu memahami dan merespons dinamika keberagaman, khususnya di Indonesia yang memiliki masyarakat multikultural.
Salah satu keunggulan program ini terletak pada peminatan Temu Budaya yang berfokus pada dinamika interaksi antarindividu dalam konteks budaya yang berbeda. Peminatan ini menjadi satu-satunya peminatan Temu budaya yang ada di Indonesia.
Dengan pendekatan multidisiplin, #SahabatAtma didorong untuk memahami persoalan psikologis dalam konteks budaya, tempat individu, kelompok, dan komunitas. Selain itu, Prodi Magister Psikologi UAJ menerapkan sistem "Blended Learning", mengkombinasikan metode daring dan luring yang memungkinkan mahasiswa untuk mengikuti kelas secara lebih fleksibel.
Tertarik memperdalam pemahaman bias diri dan manusia dalam keberagaman budaya? Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui laman resmi Prodi Magister Psikologi UAJ.
(STV)