
Jakarta - Memulai bisnis tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar modal yang dimiliki. Jauh sebelum berbicara soal uang, seorang wirausahawan perlu menata cara berpikir. Pola pikir inilah yang kerap menjadi pembeda antara usaha yang mampu bertahan dalam jangka panjang dan usaha yang berhenti di tengah jalan.
Pembahasan mengenai mental wirausaha hingga strategi membangun bisnis menjadi fokus dalam Bootcamp AJIB Batch 8 yang diselenggarakan oleh Atma Jaya Inkubator Bisnis (AJIB) Unika Atma Jaya (UAJ), pada 23 - 27 Februari 2026 di Gedung Yustinus, Lantai 15. Program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami proses membangun bisnis, mulai dari merumuskan ide hingga menguji kelayakan usaha.
Kepala AJIB UAJ, Devi Angrahini Anni Lembana, Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa bootcamp ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berani mengeksplorasi ide dan belajar langsung dari para praktisi bisnis. Ia menekankan bahwa setiap gagasan memiliki potensi selama mampu menjawab kebutuhan pasar.

“Semua bisnis selalu dimulai dari ide. Tetapi jika ide itu tidak diwujudkan, maka ia hanya akan menjadi mimpi. Melalui bootcamp ini, kami ingin membantu mahasiswa mulai membangun mimpi mereka menjadi sesuatu yang nyata," ujar Devi.
Creative Director & Partner PT Kolaborasi Kapital Indonesia, Sutan Marahakim, membuka sesi dengan menekankan pentingnya pola pikir seorang pendiri bisnis. Menurutnya, keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh modal, tetapi juga oleh komitmen dan visi yang jelas sejak awal. “Mindset adalah fondasi utama seorang founder. Tanpa visi yang kuat, bisnis akan mudah goyah ketika menghadapi tantangan,” ungkapnya.

Perspektif tersebut dilanjutkan oleh perwakilan Indonesia Focal Point for ASEAN Active Ageing Index, Mia Astari, yang mengajak mahasiswa menggali ide bisnis melalui pendekatan problem-based ideation. Ia mendorong mahasiswa untuk merancang solusi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Setelah ide dirumuskan, pembahasan bergeser pada pentingnya memahami pasar dan merumuskan nilai produk. Chief Commercial Officer IONext, Jaka Wiradisuria, menekankan bahwa banyak bisnis gagal berkembang karena pelaku usaha kurang memahami kebutuhan pelanggan.
Sementara itu, Co-founder dan Director of Business Development Jalanin, Riszki Ramadhan, menyoroti pentingnya diferensiasi produk melalui unique selling proposition (USP) agar bisnis mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Kemampuan menyampaikan ide bisnis juga menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah startup. Co-founder dan Coach Kokkona.id, Danti Boediono dan Rizaldy Rivai, membekali mahasiswa dengan teknik pitching serta penyusunan proposal bisnis yang efektif.
“Ide yang bagus harus bisa dijelaskan dengan sederhana dan meyakinkan. Dalam beberapa detik saja, orang harus langsung memahami masalah yang ingin kita selesaikan,” ujar Danti dan Rizaldy.
Di sisi lain, Head of Business Unit JAPFA, Priscillia Angelina, menekankan pentingnya strategi sales and marketing yang terukur sejak tahap awal. Menurutnya, tujuan pemasaran pada fase awal bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan memperoleh validasi dari pasar bahwa produk tersebut benar-benar dibutuhkan.

Dalam aspek pengelolaan bisnis, Co-founder & Partner Kolaborasi.co, Adryan Hafizh, memperkenalkan konsep lean business operation, yakni pendekatan yang menekankan efisiensi proses dan penggunaan sumber daya secara optimal.
Melengkapi pembahasan tersebut, perwakilan Network Development Shop and Drive, Chinto Adiputera, mengingatkan pentingnya disiplin dalam pengelolaan keuangan bisnis. Ia menekankan bahwa banyak usaha justru gagal pada fase pertumbuhan karena kurang memperhatikan arus kas dan perencanaan finansial.
Pembahasan kemudian ditutup dengan perspektif mengenai pentingnya membangun tim yang solid dalam sebuah startup. Founder & CEO SEJUK HVAC PRO, Caroline Angeline, menegaskan bahwa ide bisnis yang kuat membutuhkan dukungan tim yang memiliki visi yang sejalan.
Melalui program ini, UAJ berupaya mendorong mahasiswa tidak hanya berani memulai usaha, tetapi juga memahami proses membangun bisnis secara berkelanjutan.
(DEL)