ASK
ME

REGISTER
NOW

Belajar Tangguh Lewat Ekonomi Sirkular

12/23/2025 12:00:00 AM



Jakarta - Perhatian pada isu iklim dan laju transformasi digital membuat dunia usaha kembali menengok pentingnya efisiensi. Di titik inilah ekonomi sirkular mulai mendapat perhatian lebih, menawarkan cara kerja yang lebih hemat sumber daya sekaligus membuka peluang inovasi bagi bisnis yang ingin tumbuh berkelanjutan.


Persoalan krusial mengenai resiliensi bisnis dan ekonomi sirkular ini menjadi bahasan utama dalam forum akademik multidisiplin yang dihelat oleh Fakultas Ilmu Administrasi Bisnis dan Ilmu Komunikasi (FIABIKOM) Unika Atma Jaya (UAJ).

Mengusung tema "Driving Sustainable Futures through Resilient Business in the Circularity Era", kegiatan ini dilangsungkan selama dua hari penuh pada 19-20 November 2025 di Gedung Yustinus, Kampus Semanggi.


Mengawali sesi diskusi, Nanyang Technological University (NTU), Prof. Jack Qiu Linchuan, menekankan perlunya komunikasi yang otentik agar mereka tetap dipercaya, termasuk melalui model partisipatif seperti Fairwork bagi pekerja gig.  Sementara itu, Dekan Management for Development College sekaligus Assistant Professor dari Thaksin University, Prof. Thuanthong Krutchon, Ph.D., mengingatkan bahwa greenwashing masih menghantui banyak kampanye keberlanjutan.




Dari dalam negeri, Dosen Prodi Administrasi Bisnis UAJ, George Martin Sirait, Ph.D., menilai banyak pemangku kepentingan di Indonesia masih memahami ekonomi sirkular sebatas daur ulang. Ia meminta fokus digeser ke hulu kerangka 10R, khususnya Rethink desain produk dan Repair. Selaras dengan itu, Akademisi Taylor’s University, Dr. Thanam Subramaniam, turut mengulas isu keberlanjutan dari perspektif pariwisata.


Di sisi lain, pembicara dari sektor industri memberikan gambaran tentang praktik sirkular di lapangan. Perwakilan SWITCH Asia, Dr. René Van Berkel yang dikenal sebagai pakar ekonomi sirkular dan efisiensi sumber daya serta pernah memimpin berbagai program UNIDO di Asia, membawa perspektif industri terkait penerapan sirkular di kawasan. Sementara itu, Profesor dari Westfälische Hochschule University, Prof. Dr. Urs Pietschmann, Ph.D., menyoroti dinamika global yang kian dipengaruhi perubahan regulasi dan tekanan pasar.


Selanjutnya, dari perspektif sosial, Akademisi University of St. Thomas, Gabriel M. Gan, MBM., MM., mengingatkan bahwa resiliensi tidak dibangun sendirian. Mengambil contoh petani rumput laut di Filipina, ia menyebut empat pilar yang harus bekerja serempak, meliputi Komunitas, Sektor Swasta, Akademisi, dan Organisasi Sipil. “Kita harus mendesain resiliensi, bukan sekadar merespons krisis,” ujarnya.


Terakhir, Dosen Prodi Administrasi Bisnis UAJ, Dr. Eko Widodo, S.H., S.Sos., M.M., menutup diskusi dengan pertanyaan mendasar mengenai tujuan pendidikan bisnis. Merujuk kritik Paulo Freire, ia mempertanyakan apakah sekolah bisnis dibangun untuk melayani pasar atau memanusiakan. Baginya, institusi pendidikan harus mengambil peran lebih besar sebagai penggerak perubahan sosial, bukan semata penghasil tenaga korporasi.



Forum tersebut menyimpulkan bahwa tantangan iklim dan transformasi digital menuntut dunia usaha mebangun resiliensi, dengan ekonomi sirkular sebagai salah satu strategi kuncinya.


Laporan: Alfonso Harrison Nantingkaseh, S.Sos., M.Si

(DEL)