
Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya kembali mengukuhkan dua Guru Besar yaitu, Prof. Dr. Yasintha Soelasih dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Prof. Christine Manara, Ph.D. dari Fakultas Pendidikan dan Bahasa. Seremonial pengukuhan dibuka oleh Rektor Unika Atma Jaya Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K) dan dipimpin oleh Ketua Dewan Guru Besar Prof. Dr. Laura F. N. Sudarnoto, pada Rabu, 8 April 2026 di Kampus Semanggi.
Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Yuda Turana, Sp. S (K), menyampaikan bahwa momen pengukuhan ini merupakan bentuk perutusan, dimana profesor memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa ilmu yang dimiliki tidak hanya tinggi, tetapi juga bermakna.
“Pesan saya kepada dua Profesor baru kita dan para calon Profesor di masa depan, jadilah ilmuwan kelas dunia, namun tetap hadir bagi mereka yang membutuhkan. Bawalah ilmu keluar dari ruang kelas dan jurnal menjadi solusi bagi bangsa,” tuturnya.

Inovasi Sistem Pelayanan Penerbangan sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Transportasi Udara
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Inovasi Sistem Pelayanan Penerbangan sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Transportasi Udara”, Prof. Dr. Yasintha Soelasih menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan di industri penerbangan Indonesia yang semakin kompetitif. Sebagai negara kepulauan, transportasi udara menjadi kebutuhan utama, namun tingginya keluhan penumpang terutama terkait bagasi dan keterlambatan menunjukkan perlunya inovasi pelayanan yang berkelanjutan.
“Transportasi udara merupakan pilihan utama masyarakat karena kepraktisannya, namun masih banyak keluhan konsumen yang menunjukkan perlunya perbaikan dalam sistem pelayanan,” ungkap Prof. Yasintha.
Ia menjelaskan bahwa kualitas pelayanan mencakup seluruh proses perjalanan, mulai dari pemesanan tiket hingga layanan pascapenerbangan yang berperan dalam membentuk pengalaman, kepuasan, dan kepercayaan konsumen. Dalam hal ini, inovasi berbasis teknologi, seperti layanan mandiri (self-service), menjadi strategi penting untuk meningkatkan efisiensi sekaligus nilai bagi pelanggan.
“Inovasi pelayanan, baik secara langsung maupun berbasis digital, menjadi kunci dalam menciptakan nilai tambah dan daya saing perusahaan penerbangan,” jelasnya.
Meski demikian, penerapan inovasi tersebut juga menghadapi tantangan, seperti kesiapan teknologi dan adaptasi pengguna. Oleh karena itu, diperlukan strategi pelayanan yang adaptif dan tetap menjaga kualitas interaksi layanan. Secara keseluruhan, inovasi sistem pelayanan diharapkan mampu meningkatkan kualitas transportasi udara sekaligus memperkuat kepercayaan dan loyalitas konsumen.

Toward Unlearning Inequality: De-Sticking Native-Speakerism and Reframing English, Identity, and Practice in Indonesian ELT
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Toward Unlearning Inequality: De-sticking Native-Speakerism and Reframing English, Identity, and Practice in Indonesian ELT,” Prof. Christine Manara menyoroti ketimpangan dalam pengajaran bahasa Inggris yang masih dipengaruhi oleh ideologi native-speakerism. Ia menjelaskan bahwa anggapan penutur asli sebagai standar ideal bukan sekadar persoalan bahasa, melainkan terkait erat dengan politik identitas, kekuasaan, dan warisan kolonial dalam dunia pendidikan.
Ia menekankan bahwa label “native” dan “non-native” menciptakan hierarki yang memengaruhi persepsi, praktik pengajaran, hingga kebijakan pendidikan. Akibatnya, banyak pendidik non-native diposisikan sebagai pihak yang kurang kompeten meskipun memiliki kualifikasi yang memadai.
“Native-speakerism bukan hanya ideologi linguistik, tetapi juga bentuk kekuasaan yang dilembagakan dalam praktik pendidikan”, jelas Prof. Manara.
Lebih lanjut, ia mengungkap bahwa sistem pendidikan, termasuk kurikulum, tes standar, dan praktik rekrutmen, masih cenderung mengutamakan standar bahasa Inggris “native-like”, meskipun realitas penggunaan bahasa di Indonesia bersifat multibahasa. Hal ini menimbulkan ketegangan antara tuntutan sistem dan praktik nyata di kelas yang justru membutuhkan fleksibilitas bahasa.
Sebagai alternatif, Prof. Manara menekankan pentingnya mengakui dan memanfaatkan kemampuan multibahasa (multilingual repertoire) sebagai kekuatan dalam pembelajaran. Ia juga mendorong pergeseran dari orientasi “native-like” menuju kemampuan komunikasi yang efektif, adaptif, dan kontekstual.
Pada akhirnya, ia menegaskan bahwa pendidikan bahasa Inggris perlu bergerak menuju pendekatan yang lebih inklusif dan adil, dengan menghapus hierarki linguistik serta menghargai keberagaman identitas dan praktik berbahasa. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan sistem pendidikan yang lebih setara dan relevan dengan realitas global maupun lokal.
Kepala LLDIKTI Wilayah III, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, S.E., M.A., menyampaikan pengukuhan dua guru besar dalam satu hari merupakan bukti konkret bahwa proses akademik dan pembinaan sumber daya manusia di Unika Atma Jaya berjalan dengan baik dan sehat. Ia menilai kedua profesor yang dikukuhkan memiliki kepakaran yang sangat relevan dengan dinamika zaman, yaitu di bidang linguistik serta bisnis dan manajemen.

“Bahasa merupakan instrumen esential untuk membangun pemahaman antar lintas budaya, literasi kritis, dan merawat kemanusiaan di tengah perkembangan kecerdasan buatan. Disisi lain, bidang bisnis dan manajemen, memberikan pijakan kuat bagi sektor industri kita dalam menghadapi dinamika ekonomi global, yang menuntun model manajemen adaptif, lincah, dan berkelanjutan. Teori manajemen tidak lagi berhenti di buku teks, tetapi harus mampu solusi nyata dan nilai tambah yang bagi dunia usaha,” jelasnya.
Pengukuhan guru besar ini menegaskan komitmen Unika Atma Jaya dalam memperkuat kontribusi akademik yang adaptif dan berdampak melalui pengembangan ilmu pengetahuan. Kehadiran para guru besar diharapkan mampu menghasilkan pemikiran, inovasi, serta kontribusi nyata dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
(CHA/DEL)