ASK
ME

REGISTER
NOW

Mahasiswa llmu Komunikasi UAJ Mengenal Jurnalisme Berkualitas Bersama Harian Kompas

4/20/2026 12:00:00 AM



Jakarta – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya melaksanakan kegiatan kunjungan ke Harian Kompas, di jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, pada Kamis (11/12/2025). Kegiatan kunjungan yang diikuti sekitar 100 mahasiswa ini dipimpin oleh Lisa Esti Puji Hartanti dan I Gusti Ngurah Rai Adhitya Utama, selaku dosen mata kuliah Komunikasi Digital, program studi Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya. Kegiatan kunjungan dilaksanakan bertujuan untuk mendukung para mahasiswa untuk lebih memahami mata kuliah komunikasi digital, khususnya bagaimana media bekerja, terutama berita di Harian Kompas dan Kompas.id (Harian Kompas Digital) sebagai salah satu media terbesar di Indonesia. 


Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Adi Prinantyo Adi memberikan pemaparan materi selama kunjungan. Adi membahas mulai dari sejarah Kompas, anak perusahaan Kompas, produk-produk Kompas, hingga fakta-fakta dibalik peliputan berita di media Kompas. Salah satunya, untuk mendapatkan informasi yang aktual dan tepercaya, Harian Kompas berani mengambil risiko dengan mengirimkan dua wartawan yakni Hari Susilo dan Kris Mada untuk meliput langsung di Ukraina ketika konflik Ukraina dan Rusia sedang panas. Perjalanan penuh risiko tentu sudah dipersiapkan segala yang diperlukan, hingga asuransi kematian sudah ditanggung penuh oleh Kompas. 


“Wartawan Kompas pernah meliput langsung perang Rusia-Ukraina dengan hadir di Ukraina. Pengiriman ini dilakukan dengan perencanaan matang dan biaya besar, termasuk untuk asuransi keselamatan wartawan. Demi meminimalkan risiko, perjalanan ke wilayah konflik pun dipertimbangkan secara hati-hati, seperti memilih kereta dibanding pesawat. Hal ini menunjukkan keseriusan Kompas dalam menghadirkan fakta langsung dan menjaga kualitas jurnalisme, berbeda dengan informasi di media sosial yang sering disebarkan tanpa pertimbangan.” ujar Adi.




Penamaan Harian Kompas yang diberikan oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno tahun 1965 ini telah menjalankan tugasnya sesuai dengan yang diamanatkan beliau. “Harian Kompas dapat menjadi petunjuk arah di tengah tsunami informasi” Kompas berusaha untuk selalu menyampaikan berita yang aktual dan faktual untuk dikonsumsi oleh masyarakat. 


Liputan Harian Kompas didasarkan pada pemikiran advokasi kemanusiaan Jakob Oetama, yang menegaskan bahwa perang hanyalah merugikan manusia. Liputan difokuskan pada dampak kemanusiaan seperti anak-anak yang tidak bisa bersekolah dan ibu-ibu yang tidak bisa berladang. 


Pengiriman wartawan Kompas secara langsung ke Ukraina membuahkan hasil, karena menjadi satu-satunya media di Indonesia yang ikut mewawancarai Pak Jokowi saat beliau juga melakukan kunjungan ke Ukraina. 


Komitmen liputan dan verifikasi fakta secara langsung juga ditunjukkan melalui liputan langsung di bencana kesehatan asmat dan investigasi judi online. Dalam liputannya di bencana kesehatan asmat, Kompas juga tidak hanya memberikan foto kiriman semata, melainkan mengirimkan wartawan langsung ke lokasi bahkan salah satu wartawan sempat terkena malaria karena belum sempat suntik malaria sebelum berangkat. 


Dalam investigasi judi online, Kompas juga mengirimkan dua wartawan ke kamboja untuk langsung menginvestigasi judi online yang diduga dikendalikan oleh Warga Negara Indonesia (WNI). Setelah Kompas meluncurkan liputan tersebut, Kompas menghadapi gangguan siber (hacker) terhadap situsnya karena melibatkan big money perjudian dalam liputannya. Bahkan wartawan yang meliput sampai merasa terintimidasi karena data-data pribadi mereka sudah diketahui oleh para “mafia”. Hal ini mempertegas bahwa Kompas akan menghadapi segala tantangan untuk memberikan liputan langsung yang tepercaya. 


Kompas secara konsisten telah membuktikan bahwa jurnalisme yang berkualitas harus diperjuangkan bahkan dengan risiko taruhan nyawa sekalipun. Ini adalah bukti komitmen Kompas terhadap informasi yang aktual, terkini, dan tepercaya. “Kami percaya media yang sehat secara ekonomi akan menjamin media sehat secara ideologi, sehingga dapat berfungsi sebagai informator, edukator, dan entertainer,” ujar Adi Prinantyo.


Dalam era digital, Kompas terus berupaya untuk membuat konten-konten yang bervariasi dan menjangkau semua pembaca. Data Kompas menunjukkan bahwa 52% dari total pembaca ePaper Kompas berada di rentang usia 18-35 tahun. Meskipun demikian, Kompas tetap menghadapi tantangan dari literasi digital. Hal ini terlihat dari sekitar 200 mahasiswa yang diberi langganan gratis untuk Kompas.id, tetapi nyatanya kurang dari 20% mahasiswa yang membaca. 


Untuk menghadapi ini, Kompas mulai memproduksi konten-konten yang relevan untuk orang muda, seperti tentang gaya hidup, opini orang muda tentang politik, ekonomi, tips mencari kerja, hingga isu kesehatan jantung di orang muda zaman sekarang dan isu kesepian yang mengintai mereka, dengan harapan agar semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk tetap membaca konten-konten yang tepercaya dari Kompas. 


Kunjungan ke Harian Kompas akan selalu menjadi momen spesial untuk mahasiswa Unika Atma Jaya, khususnya program studi Ilmu Komunikasi. Segala pengalaman dan pelajaran dibagikan oleh Kompas guna menjadi pelajaran yang tidak akan bisa didapatkan dimanapun, Kompas secara sukarela membagikan kisah perjalanan mereka yang selalu tersimpan di core memory para mahasiswa. Ucapan terima kasih untuk Harian Kompas atas kesempatan berharga dan bermanfaat yang telah diberikan. Mari kita dukung jurnalisme yang tepercaya dan berintegritas. Peliharalah budaya membaca dan bagikan konten berkualitas dari Kompas sebagai pegangan kita.


Ditulis oleh:

Mahasiswi Ilmu Komunikasi

Yohanna Aprilia Indrawan (12024003436)

Ellena David Hendrayana (12024001169)


Editor: Lisa Esti Puji Hartanti – Dosen Ilmu Komunikasi