
dr. Theofanus Mario Chandra, atau yang akrab disapa Mario, merupakan salah satu lulusan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Unika Atma Jaya angkatan 2019. Kini, ia berkarier di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat. Perjalanannya menempuh pendidikan kedokteran hingga aktif di dunia riset dan forum internasional menjadi kisah yang penuh tantangan sekaligus pembelajaran.
Mario menempuh pendidikan kedokteran selama kurang lebih enam tahun, yang terdiri dari 3,5 tahun tahap preklinik (S1 Kedokteran), 2 tahun pendidikan profesi (koas), serta sekitar 6 bulan masa persiapan dan menunggu hasil Uji Kompetensi Nasional.
Sejak awal kuliah, ia sudah dihadapkan pada fase adaptasi yang tidak mudah, terutama saat beralih dari pembelajaran umum di bangku SMA ke materi kedokteran seperti anatomi dan fisiologi yang jauh lebih kompleks.
Tantangan semakin terasa ketika pandemi COVID-19 melanda pada 2020. Proses pembelajaran berubah total menjadi daring, termasuk keterampilan praktik yang seharusnya dilakukan secara langsung. “Belajar keterampilan medis secara online itu tidak mudah. Bahkan waktu itu saya latihan dengan memeriksa keluarga sendiri,” ungkapnya.
Memasuki 2022, saat pembelajaran kembali normal, ia bersama rekan-rekannya harus mengejar berbagai keterampilan yang sempat tertunda. Berbagai latihan intensif hingga ujian praktik dijalani secara beruntun dalam waktu yang terbatas. Dari proses ini, Mario mulai menyadari bahwa menjadi dokter tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga membutuhkan kesiapan keterampilan dan pemahaman yang mendalam.
Selama masa kuliah, Mario juga merasakan dinamika proses belajar yang penuh tantangan. Ia memandang setiap proses yang dijalani sebagai bagian penting dalam membentuk kesiapan dirinya sebagai calon dokter. “Mumpung masih mahasiswa, belajar dari kesalahan itu penting sebelum benar-benar jadi dokter,” ujarnya.
Titik baliknya terjadi saat ia mulai mendalami penelitian sejak masa skripsi. Pengalaman awal yang belum maksimal justru mendorongnya untuk belajar lebih serius mengenai metode penelitian. Dari situ, ketertarikannya pada dunia riset berkembang dan menjadi bekal untuk melangkah ke forum ilmiah.
Pengalaman paling membekas ia dapatkan saat menjalani koas di Sukabumi. Di sana, ia melihat langsung bagaimana keterbatasan akses dan edukasi kesehatan masih menjadi tantangan di masyarakat. Pengalaman ini memperkuat motivasinya untuk tidak hanya menjadi dokter yang mengobati, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat.

Di tengah kesibukan kuliah dan koas, Mario tetap aktif di dunia riset dengan mempresentasikan karya ilmiahnya di berbagai forum. Saat masa peralihan dari studi S1 ke pendidikan profesi, ia menjadi presenter oral di Medan Family Medicine Forum dengan penelitian tentang prevalensi dan faktor risiko prehipertensi serta hipertensi pada remaja di Indonesia. Memasuki masa koas, ia kembali tampil di Jakarta Family Medicine Meeting dengan kajian mengenai hubungan COVID-19 dan diabetes serta pentingnya peran dokter layanan primer.
Puncaknya, Mario tampil sebagai presenter pada konferensi internasional dalam The 26th WONCA Asia Pacific Regional Conference 2025 di Busan, Korea Selatan, dengan membawakan studi kasus tentang peran dokter layanan primer dalam pengembangan transitional care bagi pasien dengan berbagai penyakit kronis. Capaian ini menandai langkah pentingnya dalam menembus forum akademik internasional.
Tak hanya itu, ia juga aktif dalam kegiatan non-akademik seperti pastoral dan band. Ia tergabung dalam band kampus dan kerap tampil di berbagai acara. Baginya, kegiatan ini menjadi cara untuk menjaga keseimbangan di tengah padatnya dunia kedokteran.

Menurutnya, FKIK Unika Atma Jaya memiliki keunggulan dari segi fasilitas dan lingkungan belajar yang suportif. Hal ini membantu mahasiswa lebih siap menghadapi dunia nyata sebagai seorang dokter.
Mario pun membagikan tips bagi calon mahasiswa yang ingin masuk kedokteran. Untuk jalur non-tes, menjaga nilai rapor sejak SMA menjadi hal penting, termasuk mempersiapkan diri untuk tahap wawancara. Sementara itu, untuk jalur tes, penguasaan materi seperti matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, serta ilmu pengetahuan dasar menjadi kunci utama, ditambah kesiapan menghadapi psikotes. “Selain nilai akademik, kesiapan mental juga penting. Kita harus tahu alasan kenapa memilih kedokteran,” jelas Mario.
Ia menegaskan bahwa menjadi dokter bukan hanya soal pintar, tetapi juga soal komitmen dan kesiapan untuk terus belajar. “Menjadi dokter itu bukan hanya soal pintar, tapi juga soal kesiapan untuk belajar dan melayani,” pesannya.
Ke depan, Mario berharap dapat terus berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran dan akses kesehatan masyarakat. Ia percaya bahwa melalui ilmu kesehatan masyarakat, perubahan yang lebih luas dapat diwujudkan demi kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.
(DEL)