Jakarta
- Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya melalui Tim Gugus 3T di bawah naungan
Pusat Pemberdayaan Masyarakat (PPM) tengah mempersiapkan kelanjutan kerja sama
dengan Universitas Katolik Weetebula dalam Program 3T (Terdepan, Terpencil, dan
Tertinggal) di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Kerja sama yang
sedang dalam proses pembahasan ini direncanakan akan berfokus pada pengembangan
dan pendampingan lima desa model dalam mendukung upaya percepatan penurunan
stunting yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya.
Pemerintah
Kabupaten Sumba Barat Daya telah menetapkan lima desa sebagai desa model
penurunan stunting. Dalam mendukung program tersebut, Universitas Katolik
Weetebula mengharapkan keterlibatan kembali Universitas Katolik Indonesia Atma
Jaya untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat melalui pendekatan
multidisiplin yang mengintegrasikan aspek kesehatan, pendidikan, teknologi,
lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat.
Rencana
kerja sama ini merupakan kelanjutan dari kolaborasi yang telah terjalin dengan
baik pada program-program sebelumnya. Pada tahun 2024, Universitas Katolik
Indonesia Atma Jaya bersama Universitas Katolik Weetebula telah membangun
sinergi dalam berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat di wilayah Sumba
Barat Daya melalui Program 3T. Berbagai inisiatif tersebut dirancang untuk
menjawab tantangan pembangunan di wilayah terpencil sekaligus mendukung
peningkatan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Salah
satu kegiatan yang telah dilaksanakan pada tahun 2025 adalah pembangunan sumur
bor beserta sistem pompa air bertenaga surya (PLTS) di Desa Bila Cenge,
Kecamatan Kodi Utara. Program tersebut bertujuan meningkatkan akses masyarakat
terhadap air bersih sebagai salah satu faktor penting dalam mendukung kesehatan
masyarakat dan pencegahan stunting. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dosen
dan mahasiswa Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dari berbagai bidang keilmuan
dengan dukungan mitra lokal.
Selain
pembangunan infrastruktur air bersih, rangkaian Program 3T selama periode 2024-2025
juga mencakup berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat, antara lain skrining
kesehatan bagi balita, ibu hamil, dan lansia, edukasi gizi berbasis pangan
lokal, pengembangan modul pembelajaran bertema pencegahan stunting,
pemberdayaan perempuan, penguatan literasi lingkungan, edukasi pencegahan
perdagangan orang, hingga pengembangan lumbung protein masyarakat melalui
budidaya ikan, ayam, dan pengolahan hasil pertanian lokal.
Pengalaman
kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting bagi rencana kerja sama yang saat
ini sedang dipersiapkan. Pendampingan di lima desa model nantinya diharapkan
dapat memperkuat program pemerintah daerah melalui penerapan hasil penelitian,
inovasi teknologi, dan pemberdayaan masyarakat yang disesuaikan dengan
kebutuhan masing-masing desa.
Melalui
rencana kerja sama ini, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menegaskan
komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pembangunan masyarakat di wilayah
3T melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sinergi antara perguruan
tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat diharapkan mampu menghasilkan model
pendampingan yang berkelanjutan serta memberikan dampak nyata dalam upaya
meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan, dan kemandirian masyarakat di
Kabupaten Sumba Barat Daya.