
Jakarta – Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ) kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan International Model United Nations (IMUN). Memasuki tahun kelima, kolaborasi antara Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi UAJ dan IMUN kembali terlaksana pada Selasa (28/7) di Gedung Yustinus Lantai 15, Kampus Semanggi.
Konferensi ini diikuti oleh lebih dari 200 delegasi dari 15 negara, menjadi sebuah simulasi akademik forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menjadi wadah untuk peserta menjalani peran sebagai delegasi dari berbagai negara dan merumuskan solusi atas isu-isu global sesuai kebijakan dan perspektif negara yang mereka wakili.

Acara dibuka oleh Sekretaris Jenderal IMUN, Fathie Hamadi. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa kepemimpinan kebijakan yang baik membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan dan membangun solusi bersama pihak-pihak yang terdampak. Ia mengutip ucapan mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. ”Change requires more than just speaking out. It requires listening as well. In particular, it requires listening to those with whom you disagree with.”
Mewakili UAJ, Wakil Rektor Bidang Inovasi, Penelitian, Kerja Sama dan Alumni, Prof. Rosdiana Sijabat, S.E., M.Si., Ph.D. menyampaikan sambutan hangat kepada seluruh delegasi dan berharap konferensi ini dapat menjadi ajang berdialog dan berdiskusi untuk menyatukan pendapat demi mewujudkan dunia yang lebih baik. “Hari ini, kita berharap dapat bersatu dengan tidak hanya mendorong kerja PBB, tetapi juga untuk mengedepankan nilai-nilai yang menjadi ciri khasnya, yaitu berdialog, kerja sama, diplomasi, dan komitmen bersama untuk membangun dunia,” ujarnya.
Di sisi lain, UN Women Indonesia Country Representative and Liaison to ASEAN, Ulziisuren Jamsran turut memberikan sambutan dengan menekankan bahwa kepemimpinan masa kini tidak dituntut untuk memiliki semua jawaban, melainkan harus memiliki kemampuan memahami berbagai perspektif dan mempertemukan orang-orang untuk berdialog.

“Kepada seluruh delegasi, keputusan yang diambil oleh generasi kalian pasti akan mengubah dunia. Jadi, hari ini kalian saya tantang untuk bernegosiasi dengan penuh rasa ingin tahu dan jangan anggap perbedaan sebagai hambatan, semoga sukses!” Pesannya.
Setelah sesi sambutan, forum dilanjutkan dengan pemaparan dari Dosen Ilmu Komunikasi UAJ, Dr. Nia Sarinastiti, M.A., yang membawakan materi bertajuk ”Every Plate Tells a Story” yang berfokus pada pentingnya pendekatan planet-based diet. Ia menyoroti sistem pangan dunia yang sedang menghadapi tekanan dari perubahan iklim, pertumbuhan populasi, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga krisis air.
Lebih lanjut, Nia berpendapat bahwa solusi dari tekanan-tekanan tersebut tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau ilmuwan tapi juga kepada masing-masing individu. Ia mengajak delegasi untuk mengenal kembali pangan lokal Indonesia yang kerap terlupakan, seperti tempe, sorgum, sagu, dan ubi jalar, karena menurutnya perubahan pola makanan berkelanjutan bukan soal mengganti menu, melainkan mengubah makna di baliknya.

”Terkadang inovasi bukan hanya tentang menemukan hal baru, tapi juga kembali menemukan apa yang sudah kita miliki. Kalian tidak harus mengganti menu, tapi kalian perlu mengganti maknanya,” jelasnya.
Dalam kacamata komunikasi, Nia menjelaskan bahwa setiap pilihan makanan yang dibeli turut mengirim pesan kepada petani, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan, sehingga permintaan yang lebih tinggi atas pangan lokal dapat mendorong produksi yang lebih berkelanjutan.
Berlanjut ke pembicara kedua, Chargé d'Affaires ad interim (a.i.) and Head of Mission at the Embassy of Ukraine in the Republic of Indonesia, Ms. Yevhenia Shynkarenko membahas relevansi hukum internasional bagi negara-negara yang secara geografis jauh dari konflik, termasuk Indonesia. Menurutnya, fondasi tatanan dunia memiliki beberapa prinsip, yaitu setiap negara memiliki kedaulatan, batas antarnegara tidak dapat diubah dengan kekerasan, dan warga sipil harus dilindungi dalam situasi konflik apa pun.
Lebih lanjut, Yevhenia menegaskan bahwa hukum internasional adalah pelindung yang memungkinkan setiap negara untuk menjaga kemerdekaan, identitas, dan kebebasan menentukan pilihannya sendiri. “Hukum internasional bukanlah suatu kebaikan yang diberikan oleh para negara modern kepada para negara yang lebih kecil. Hukum internasional adalah pelindung yang memungkinkan setiap negara baik yang kecil maupun yang besar untuk mempertahankan kemerdekaannya, identitasnya, dan kebebasan memilihnya,” ungkapnya.

Yevhenia berpesan kepada para calon diplomat muda untuk terus memegang tiga kualitas dalam berdiplomasi, yaitu kejujuran terhadap fakta, empati terhadap dampak kemanusiaan, serta keberanian mempertahankan prinsip. Selain itu, ia juga berpesan agar para calon diplomat muda tidak sekadar mencari kata-kata yang dapat diterima semua pihak, melainkan juga memahami makna di balik kata-kata tersebut.
Bersama konferensi ini, UAJ dan IMUN terus mendukung pentingnya mendengarkan perspektif, menyadari isu-isu global, serta merespons isu-isu tersebut. Selama lima tahun, UAJ dan IMUN sepakat bahwa kegiatan ini penting dilaksanakan demi melatih keterampilan mahasiswa dan delegasi muda agar mampu berdiplomasi, bernegosiasi, dan berani mengambil keputusan yang berdampak besar.
(STV)