
Jakarta - Kesadaran masyarakat terhadap bahaya hipertensi masih menjadi tantangan penting di Indonesia. Padahal, hipertensi menjadi salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit serius seperti stroke, gangguan jantung, hingga gagal ginjal. Karena itu, edukasi kesehatan dan pemeriksaan tekanan darah secara rutin dinilai penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan sejak dini.
Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan, Unika Atma Jaya mendukung pelaksanaan kegiatan Hari Hipertensi Sedunia 2026 yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH) di Ruang Terbuka Hijau UAJ pada Minggu (17/5).
Dalam sambutannya, Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K) menyampaikan komitmen UAJ dalam mendukung kegiatan edukasi kesehatan yang berdampak langsung bagi masyarakat, termasuk upaya meningkatkan kesadaran terhadap hipertensi. “UAJ sangat terbuka untuk mendukung berbagai kegiatan edukasi dan kesehatan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia, dr. Eka Harmeiwaty, Sp.N mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan Hari Hipertensi Sedunia 2026, termasuk Unika Atma Jaya yang telah menyediakan ruang untuk pelaksanaan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini dan berharap kerja sama seperti ini dapat terus berjalan ke depannya,” ujarnya.
Mengusung tema Controlling Hypertension Together, peringatan Hari Hipertensi Sedunia 2026 diisi dengan olahraga bersama, pemeriksaan tekanan darah, serta edukasi kesehatan bagi masyarakat. Rangkaian aktivitas tersebut sekaligus menjadi ajakan untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri, memahami risiko hipertensi, dan menerapkan langkah pencegahan sejak dini.
Salah satu sesi dalam kegiatan tersebut membahas pentingnya deteksi dini dan pengendalian hipertensi. Peserta diingatkan bahwa hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala meski tekanan darah sudah sangat tinggi. Kondisi ini membuat hipertensi dikenal sebagai silent killer karena banyak kasus baru terdeteksi setelah muncul komplikasi serius seperti stroke, gagal ginjal, atau serangan jantung.

Karena itu, peserta diajak untuk rutin memeriksa tekanan darah, menjaga pola makan, rutin berolahraga, serta tidak menghentikan pengobatan tanpa pengawasan dokter.
Melalui keterlibatan dalam kegiatan kesehatan publik seperti ini, Unika Atma Jaya berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga tekanan darah dan menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan hipertensi sejak dini.
(DEL)