
JAKARTA – Pendidikan bukan hanya tentang ruang untuk belajar, tetapi juga tentang kesempatan bagi setiap individu untuk berkembang, menemukan potensi, dan mempersiapkan masa depan. Semangat inilah yang terus dihadirkan Unika Atma Jaya melalui lingkungan pendidikan yang terbuka bagi mahasiswa dengan beragam latar belakang, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas. Kehadiran Michael Cipta Oey mahasiswa baru Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2026, menjadi gambaran komitmen UAJ dalam menghadirkan kesempatan setara melalui dukungan akademik dan lingkungan sosial yang inklusif.
Memilih Unika Atma Jaya menjadi langkah Michael untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan minatnya di bidang Bimbingan dan Konseling. Sebagai penyandang disabilitas netra, ia mengetahui UAJ dari teman dan kenalan sesama penyandang disabilitas sebagai kampus yang terbuka bagi mahasiswa disabilitas. “Pendidikan itu adalah hak semua orang. Semua orang bisa belajar meskipun memiliki kondisi yang berbeda. Belajar adalah sesuatu yang universal dan bisa dilakukan siapa saja, termasuk teman-teman dengan disabilitas. Jadi, jangan menyerah untuk belajar. Kondisi disabilitas bukan berarti kemampuan untuk belajar menjadi terbatas,” ujar Michael saat mengikuti Inisiasi Student Life Journey (INI-SLJ) 2026 pada 18 Agustus 2026.

Dalam mendukung pembelajaran yang setara, Unika Atma Jaya menyediakan fasilitas penunjang aksesibilitas dan pembelajaran bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Fasilitas dan akses lingkungan kampus mendukung mahasiswa beraktivitas secara lebih mandiri, disertai penyesuaian pembelajaran sesuai kebutuhan. Sebagai mahasiswa tunanetra, Michael akan memanfaatkan perangkat digital dan teknologi pembaca layar untuk mendukung proses belajarnya.
Inklusivitas juga tumbuh melalui lingkungan sosial yang menerima dan menghargai keberagaman. Hana Isabel Nirvana, mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2023 yang mendampingi Michael selama INI-SLJ 2026, merasakan langsung proses tersebut. “Saya tidak kesulitan untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan Michael. Yang paling berkesan, Michael seorang yang percaya diri. Ia bisa mengajak bicara teman-temannya lebih dulu dan teman-temannya juga welcome, sehingga Michael bisa menyatu dengan kelompoknya,” ungkap Hana.
Menurut Hana, dukungan lingkungan akademik turut membantu mahasiswa disabilitas beradaptasi dan menjalani perkuliahan dengan percaya diri. “Di Bimbingan dan Konseling juga ada alumni kita yang tunanetra. Dosen-dosen sangat mendukung teman-teman disabilitas, mereka dibantu dan dituntun. Teman-teman dan kakak tingkat juga sangat menerima. Jadi, saya yakin Michael bisa beradaptasi. Mungkin awalnya ada rasa takut atau khawatir, tetapi akan didukung di lingkungan UAJ,” kata Hana.

Kepercayaan terhadap Unika Atma Jaya juga dirasakan Rachmat Cipta Oey, ayah Michael. “Unika Atma Jaya sebagai salah satu universitas swasta nasional yang sudah berpengalaman membuat saya cukup tenang untuk mendaftarkan kuliah anak saya di UAJ. Saya melihat UAJ sudah mempunyai pengalaman mendidik para disabilitas sehingga mereka dapat menjadi sarjana dan mempunyai karier di masyarakat. Harapan saya, Michael dapat belajar dan mengembangkan diri bersama Unika Atma Jaya, menjadi semakin mandiri, dan tidak perlu malu dengan kondisi sebagai seorang disabilitas,” tutur Rachmat.
Kisah Michael dan dukungan orang-orang di sekitarnya menjadi bagian dari perjalanan Unika Atma Jaya dalam membangun pendidikan yang inklusif. Unika Atma Jaya terus berkomitmen mendukung inklusivitas bagi seluruh kalangan, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas, melalui lingkungan pendidikan, fasilitas penunjang, dan ruang interaksi yang memberikan kesempatan setara untuk belajar dan berkembang. Dengan semangat tersebut, setiap mahasiswa memiliki ruang untuk mengembangkan potensi dan meraih cita-cita tanpa menjadikan perbedaan sebagai batasan.
(BRI)