
Jakarta – Unika Atma Jaya menjadi tuan rumah peringatan United Nations (UN) Day 2026 pada Selasa (27/10) di Gedung Yustinus, Kampus Semanggi. Kegiatan ini mempertemukan perwakilan pemerintah, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dunia usaha, akademisi, dan generasi muda untuk membahas peran Indonesia dalam membangun masa depan yang damai, inklusif, dan berkelanjutan.
Mengusung tema “Indonesia and the United Nations: Leadership for Our Common Future”, kegiatan ini menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam menjawab tantangan global, mulai dari perubahan iklim dan ketimpangan hingga kesehatan masyarakat, pendidikan, dan masa depan dunia kerja. Rangkaian acara meliputi kunjungan pameran, sambutan para pemangku kepentingan, peluncuran Letters to 2045, pertunjukan budaya, serta dialog antar generasi mengenai kepemimpinan Indonesia dan PBB.
Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), Rektor Unika Atma Jaya dalam sambutannya menyoroti pentingnya mewujudkan masa depan bersama yang tidak hanya berangkat dari cita-cita besar di tingkat global, tetapi juga menjawab harapan masyarakat akan akses terhadap layanan kesehatan yang terjangkau, pekerjaan yang bermakna, gizi yang baik, dan pendidikan berkualitas.

“Sebagai perguruan tinggi, Unika Atma Jaya memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi melalui penelitian dan keterlibatan langsung dengan masyarakat. Kami ingin mahasiswa memahami persoalan global dan memiliki rasa tanggung jawab untuk turut menyelesaikannya, sekaligus membangun kolaborasi dengan pemerintah dan mitra internasional agar pengetahuan dan pengalaman dapat saling dibagikan,” ungkapnya.
Memperkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral
Dalam sambutannya sebagai Koordinator Residen PBB di Indonesia, Gita Sabharwal menyoroti posisi Indonesia dalam mendorong multilateralisme, perdamaian, serta pembangunan berkelanjutan. “Kerja sama internasional perlu memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui penguatan institusi nasional serta penyelarasan keahlian, standar internasional, kemitraan, dan dukungan pembiayaan dengan prioritas pembangunan Indonesia. Investasi pada generasi muda juga menjadi hal penting, termasuk melalui dukungan terhadap kesehatan mental, kewirausahaan, inovasi teknologi, dan energi bersih. Anak muda perlu diberi ruang untuk menyampaikan gagasan dan terlibat dalam pengambilan keputusan yang membentuk masa depan mereka,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, H.E. Arrmanatha Nasir, menegaskan pentingnya mengambil keputusan dan bertindak hari ini untuk membentuk masa depan yang lebih baik. Ia menekankan, “Komitmen Indonesia terhadap PBB merupakan bagian dari amanat konstitusi, yang diwujudkan melalui kontribusi Indonesia terhadap perdamaian, hak asasi manusia, dan sistem multilateral. Generasi muda memiliki peran penting sebagai warga negara, penggerak perubahan, dan inovator dalam mewujudkan dunia yang lebih aman dan adil. Melalui Letters to 2045, generasi muda juga diajak menyampaikan harapan dan gagasan tentang masa depan Indonesia.”
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, H.E. Sugiono, turut menekankan pentingnya kolaborasi Indonesia dan PBB dalam mempercepat pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Ia menegaskan, “Kerja sama Indonesia dan PBB perlu mendukung peningkatan layanan kesehatan, perluasan akses pendidikan dan pengembangan keterampilan, serta pembangunan masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi pandemi dan bencana. Keberhasilan pembangunan perlu diukur dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat, termasuk terpenuhinya kebutuhan gizi anak, akses terhadap pendidikan berkualitas, dan kesempatan bagi setiap orang untuk berkembang tanpa ada yang tertinggal.”
Membuka Ruang bagi Generasi Muda untuk Berkontribusi
Perspektif dunia usaha turut disampaikan oleh Presiden Indonesia Global Compact Network (IGCN), Y. W. Junardy, yang menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara pemerintah, PBB, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs).

“Tanggung jawab perusahaan tidak hanya diukur dari keuntungan yang dihasilkan, tetapi juga dari cara perusahaan menjalankan usahanya, termasuk dalam menghormati hak asasi manusia, menjamin lingkungan kerja yang aman, menjaga lingkungan, dan menerapkan tata kelola yang transparan. Generasi muda, termasuk penyandang disabilitas, juga perlu memperoleh akses terhadap pengembangan keterampilan, pendampingan, dan kesempatan kerja yang inklusif,” tegasnya.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan budaya Tari Saman oleh anak-anak dan kaum muda penyandang disabilitas dari Lions Club, serta Interactive Intergenerational Panel Dialogue bertajuk “Indonesia and the UN: Shaping Our Common Future”. Dialog yang dimoderatori diplomat Kementerian Luar Negeri, Maulana Kasetra, ini menghadirkan Kornelius Sembiring dari IOM Youth Changemakers Indonesia; Zagy Berian, pendiri Society of Renewable Energy (SRE) sekaligus anggota UN Secretary-General’s Youth Advisory Group on Climate Change; Ratu Tisha, Wakil Ketua Umum II PSSI; Indah Nuria Savitri, Direktur Hak Asasi Manusia dan Migrasi Kementerian Luar Negeri; Jeffrey Labovitz, Kepala Misi IOM Indonesia; serta Jelsi Natalia Marampa, Asisten Deputi Peningkatan Gizi dan Pencegahan Stunting Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Melalui penyelenggaraan UN Day 2026, Atma Jaya menjadi ruang pertemuan bagi berbagai pemangku kepentingan untuk membangun dialog dan memperkuat kolaborasi lintas generasi. Semangat tersebut menegaskan peran perguruan tinggi dalam mengembangkan pengetahuan, membuka ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi, serta menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat dan masa depan bersama.
(THE)