
Jakarta – Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) per 22 September 2026, dari total timbulan sampah nasional sebesar 144.349 ton per hari, baru sekitar 35.697 ton per hari yang berhasil dikelola, sementara 108.652 ton per hari sisanya belum tertangani secara memadai. Menyadari kondisi ini, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ) menjadi tuan rumah dalam kolaborasi dengan World Cleanup Day Indonesia (WCDI) untuk kegiatan Sharing Session dalam acara puncak WCDI 2026 yang digelar Minggu (20/9) di ATMATerra Communal Space, Kampus Semanggi.
Dengan mengusung tema “Aksi Bersih Pemuda Pemudi Merdeka dari Sampah”, kegiatan ini diikuti sekitar 2.500 peserta dari kalangan pemerintah, akademisi, media, komunitas, hingga masyarakat umum. Diawali dengan aksi bersih dan plogging di kawasan Dukuh Atas, para peserta kemudian berlanjut ke sesi Sharing Session di UAJ.
Secara umum, WCDI merupakan gerakan aksi bersih-bersih serentak yang dilaksanakan bersama 192 negara di dunia, diperkenalkan oleh Let's Do It Indonesia di bawah naungan Let's Do It World Movement sejak 2014. Sejak aktif di Indonesia pada 2018, gerakan ini tercatat telah melibatkan lebih dari 36 juta relawan dan mengumpulkan lebih dari 66.453 ton sampah dari berbagai wilayah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Pemimpin Nasional WCDI, Andy Bahari yang akrab disapa Abe, menyampaikan bahwa kegiatan ini menandai sembilan tahun perjalanan WCDI yang menurutnya telah bertransformasi dari gerakan komunitas lokal menjadi aksi sosial lingkungan terbesar dalam sejarah bangsa. Ia menegaskan bahwa WCDI hanyalah pintu masuk, bukan solusi akhir, sehingga fokus ke depan perlu diarahkan pada pemilahan sampah dan penguatan ekonomi sirkular yang berkelanjutan. "Masalah sampah adalah tanggung jawab kita bersama. Kita membutuhkan pendekatan yang komprehensif, mulai dari penguatan regulasi, integrasi rantai pasok ekonomi sirkular, hingga edukasi di lini akademis," ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Karier UAJ, Laurensia Harini Tunjungsari, M.Psi., Psikolog, menyampaikan apresiasi atas kesempatan yang diberikan kepada UAJ untuk bergabung dan menjadi tuan rumah untuk Sharing Session WCDI 2026. Ia turut menyampaikan harapan agar kolaborasi semacam ini dapat berlanjut secara rutin di tahun-tahun mendatang. "Kesempatannya pas banget karena ini bulan September dan kita baru saja penerimaan mahasiswa baru, jadi pas banget untuk mengajak generasi muda yang baru ikut dalam kegiatan seperti ini," ujarnya.

Turut memberikan sambutan, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, S.Pi., M.Si., mengajak masyarakat memulai pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah masing-masing. Ia menegaskan bahwa ajakan ini sejalan dengan target Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025, yang menetapkan seluruh sampah di Indonesia harus terkelola sepenuhnya pada 2029.

Kemudian, rangkaian dilanjutkan dengan Sharing Session bertema “Strategi Penanggulangan Sampah Berbasis Pentahelix” yang menghadirkan perwakilan dari berbagai bidang dalam satu panel diskusi. Sesi ini mengajak pembicara untuk membagikan pengalaman dan kontribusi mereka dalam membantu penyelesaian persoalan sampah nasional yang masih dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
Dari sisi akademisi, Dosen Fakultas Bisnis dan Inovasi Sosial (FBIS) UAJ, Dr. Benedicta Evienia Prabawanti, S.E., M.M., memaparkan sejumlah inisiatif keberlanjutan yang telah dijalankan UAJ sebagai bagian dari komitmennya terhadap konsep Green Campus. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa UAJ telah mengintegrasikan isu keberlanjutan ke dalam mata kuliah Sosial Entrepreneur sejak 2015, serta menjalankan program pemberdayaan komunitas bernama "Perempuan Peduli" sejak 2020 yang mengedukasi pembuatan pembalut kain sebagai alternatif ramah lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi komunitas perempuan di beberapa wilayah. "Kita sudah mewajibkan mahasiswa membawa tumbler, itu salah satu cara kita untuk mengurangi sampah plastik dari botol. Bahkan ada beberapa titik pengumpulan sampah plastik di berbagai lokasi kampus," ujarnya.

Dari sisi pelaku usaha, CEO dan Co-Founder Rekosistem, Ernest Christian Layman, memaparkan model bisnis perusahaannya sebagai startup climate-tech yang berfokus pada ekonomi sirkular. Ia menyebutkan bahwa Rekosistem mengelola sekitar 100 waste station secara langsung dan bermitra dengan lebih dari seribu titik pengepul sampah di berbagai daerah. "Kami menyediakan aplikasi yang bisa diakses masyarakat untuk menyetorkan sampah daur ulang, dan itu kami berikan reward points yang bisa ditarik menjadi saldo uang digital," jelasnya.
Menutup sesi, Abe menegaskan bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti di satu hari saja, melainkan harus terus berlanjut. Ia mengingatkan bahwa kontribusi dari kalangan komunitas seperti WCDI hanya akan berdampak jika diikuti komitmen jangka panjang dari semua sektor. ”WCD itu sifatnya seremonial, cuma sehari jadi bukan sebuah solusi, tapi komitmen. Harapannya, WCD ini bisa jadi trigger setiap hari, di dalam aktivitas sehari-hari untuk membersihkan dan mengolah sampah,” pesannya.
Melalui kolaborasi ini, UAJ menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan yang mengusung konsep Green Campus, sekaligus turut membangun kesadaran mahasiswa dan masyarakat luas terhadap urgensi pengelolaan sampah di Indonesia. Baik UAJ maupun WCDI berharap kegiatan ini dapat menjadi awal dari kolaborasi jangka panjang, sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di masa mendatang.
(STV)