
Dokumentasi : Gema Kawula Keuskupan Weetebula
Akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), termasuk di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Melihat kebutuhan tersebut, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menghadirkan program pemberdayaan masyarakat melalui kolaborasi lintas program studi, dengan menjadikan akses air bersih sebagai bagian dari upaya mendorong pembangunan manusia secara berkelanjutan.
Program yang berlangsung pada 21–24 Juli 2026 ini merupakan bagian dari kemitraan Unika Atma Jaya dengan Yayasan BRIKasih, serta melibatkan Universitas Katolik Weetebula sebagai mitra di lapangan. Kegiatan ini turut melibatkan JPIC Keuskupan Weetebula, Paroki Santo Paulus Ande Ate, Pemerintah Desa Kalembu Kaha, serta masyarakat setempat.
Salah satu bentuk nyata kolaborasi tersebut adalah pembangunan sumur bor bertenaga surya di Stasi Santo Mikael Kadekap, Desa Kalembu Kaha, Kecamatan Kota Tambolaka, yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, terutama di tengah tantangan keterbatasan akses air yang semakin terasa pada musim kemarau.
Bagi Unika Atma Jaya, air bersih merupakan titik awal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mulai dari kesehatan dan sanitasi hingga pengembangan aktivitas produktif. "Melalui program ini, kami ingin mendorong agar manfaat yang dihadirkan dapat terus berkembang dan dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Untuk itu, keterlibatan dan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan program," ujar Prof. Dr. Natalia Yeti Puspita, S.H., M.Hum., Profesor Fakultas Hukum Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Dokumentasi : Obor Sumba
Ketersediaan air juga dapat mendukung aktivitas produktif masyarakat, seperti budidaya ikan lele dan peternakan ayam. Fasilitas ini diharapkan turut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal.
Selain berfokus pada infrastruktur air, rangkaian program pemberdayaan juga mencakup berbagai kegiatan di bidang pendidikan, penanganan stunting, literasi digital, perlindungan pekerja migran, pemberdayaan ekonomi, serta penguatan tata kelola pemerintahan desa.
Rangkaian program tersebut kemudian ditandai dengan peresmian dan penyerahan program pemberdayaan masyarakat kepada warga yang dilakukan oleh Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonnu Wulla, pada 24 Juli 2026. Peresmian ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga keagamaan, dan masyarakat dalam menjawab tantangan pembangunan di wilayah 3T.
Keterlibatan Unika Atma Jaya dalam program ini menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui kolaborasi dan pendekatan lintas disiplin. Air bersih menjadi titik awal, sementara kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian yang saling melengkapi dalam membangun kualitas hidup yang lebih baik.
Melalui sinergi bersama para mitra dan masyarakat di Kadekap, Unika Atma Jaya berharap program ini dapat menjadi langkah nyata dalam mendukung masyarakat yang lebih sehat, mandiri, produktif, dan berdaya, sekaligus memperkuat semangat kolaborasi untuk menjawab tantangan pembangunan di wilayah 3T.
(THE)