Unika Atma Jaya Dorong Kewaspadaan terhadap Modus TPPO Berbasis Digital

8/7/2026 12:00:00 AM


Jakarta - Perdagangan orang menjadi salah satu tindak kejahatan yang kian kompleks dengan memanfaatkan ruang digital untuk merekrut korbannya. Mulai dari media sosial, aplikasi pesan instan, hingga situs pencarian kerja online, para pelaku menyebarkan lowongan pekerjaan palsu (job scam) bergaji tinggi dengan proses rekrutmen yang serba mudah. 

Isu tersebut menjadi sorotan dalam kampanye publik “Talitha Kum Walk & Talk: Melangkah Bersama dan Bersuara Melawan Perdagangan Orang” yang digelar Talitha Kum Indonesia Jaringan Jakarta di Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Minggu (2/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan World Day Against Trafficking in Persons yang diperingati setiap 30 Juli.

Mengusung tema "Trapped Behind the Scam", kegiatan tersebut mengajak masyarakat mengenali modus perdagangan orang yang memanfaatkan ruang digital. Kampanye ini melibatkan lebih dari 40 organisasi sosial, kemanusiaan, keagamaan, hingga institusi pendidikan. Rangkaian kegiatan diawali dengan aksi jalan sehat massal dari area Car Free Day (CFD) Bundaran HI dan dilanjutkan dengan kegiatan di Amphitheatre ATMAterra, Kampus Semanggi Unika Atma Jaya. 


Bagi Unika Atma Jaya, keterlibatan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan ruang dialog dan edukasi terkait isu kemanusiaan di masyarakat. Melalui forum publik, civitas akademika dan masyarakat diajak mengenali modus TPPO dan meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai tawaran yang berpotensi mengarah pada eksploitasi dan perdagangan orang. 

Acara dibuka oleh Koordinator Talitha Kum Indonesia Jaringan Jakarta, Sr. Irena Handayani, OSU. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama melawan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Talitha Kum, yang berpusat di Roma, mendukung aksi penghentian human trafficking dengan menghadirkan biara-biara sebagai tempat penampungan bagi korban perdagangan orang. 


“Terima kasih kepada semua pihak yang hadir. Mari kita hari ini bersama-sama bergandengan tangan melawan tindak pidana perdagangan orang. Hal ini harus menjadi kekuatan bersama untuk menghentikan human trafficking,” tegas Sr. Irena.   

Hadir sebagai narasumber, aktivis kemanusiaan dan pegiat isu sosial Inayah Wahid menjelaskan bahwa modus TPPO saat ini sudah bergeser. Tindak kejahatan tersebut tidak lagi didominasi oleh aksi penculikan atau kekerasan fisik secara langsung, melainkan dapat dimulai melalui pendekatan yang lebih halus. 

“Perdagangan orang itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Kita sering membayangkan korbannya diculik atau disekap. Padahal, banyak yang awalnya dari WhatsApp, media sosial, atau iklan pekerjaan dengan tawaran gaji tinggi tanpa pengalaman. Bahkan, pendekatannya bisa melalui hubungan personal atau ‘cinta-cintaan’,” jelasnya. 


Ia menambahkan bahwa saat ini pelaku menjalankan aksinya secara terstruktur berbasis data. Pelaku mempelajari karakteristik serta kondisi psikologis calon korban untuk membangun kepercayaan dan memberikan harapan palsu. Karena itu, masyarakat dituntut untuk lebih kritis dan berhati-hati. 

“Penting bagi kita untuk tahu dan melihat tanda-tandanya. Karena kalau seseorang datang dengan memberikan harapan dan menawarkan sesuatu yang terlihat too good to be true, kita perlu berhati-hati. Sebesar apa pun pendidikan dan kepintaran kita, kita tetap bisa menjadi korban ketika emosi kita yang dimainkan,” pungkasnya.  

Melalui penyelenggaraan kampanye publik ini, Unika Atma Jaya terbuka atas kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan literasi dan kepedulian terkait perdagangan orang. Selain itu, Unika Atma Jaya juga mengambil peran untuk mendorong masyarakat lebih waspada, kritis, dan berani bertindak atas persoalan kemanusiaan.  


(CHA)