
Dokumentasi: tipikorinvestigasinews.id
Unika Atma Jaya terus memperkuat komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui program Bersama Membangun Desa Sehat, Cerdas, dan Mandiri di Desa Bila Cenge, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Berlangsung selama tiga tahun sejak 2024 hingga 2026, program ini mendorong peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan, infrastruktur, ekonomi, perlindungan pekerja migran, dan tata kelola desa.
Program yang melibatkan sivitas akademika lintas disiplin ini berangkat dari kebutuhan masyarakat setempat. Dalam pelaksanaannya, tim Unika Atma Jaya tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mendorong pengembangan kapasitas masyarakat agar berbagai inisiatif dapat dilanjutkan secara mandiri.
Di bidang kesehatan, tim Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) mendampingi masyarakat melalui edukasi gizi, skrining kesehatan, serta pemantauan ibu hamil dan anak. Hasil pemantauan pada 2026 menunjukkan bahwa 13 anak yang didampingi sejak masa kehamilan tidak mengalami stunting. Capaian ini menunjukkan pentingnya pendampingan kesehatan berkelanjutan yang melibatkan keluarga, bidan desa, dan kader kesehatan.
Pada bidang infrastruktur dan ekonomi, tim membantu pembangunan sumur bor sedalam sekitar 70 meter dengan dukungan sistem energi surya. Ketersediaan air bersih menunjang kebutuhan rumah tangga sekaligus membuka peluang pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat, seperti pertanian, peternakan, dan budidaya ikan. Pendampingan pendidikan turut dilakukan melalui pembiasaan perilaku hidup bersih di sekolah, penguatan literasi, pengembangan modul pembelajaran, serta peningkatan kompetensi pedagogik guru.
Unika Atma Jaya juga memperkuat perlindungan masyarakat melalui edukasi pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Salah satu upayanya dilakukan melalui pengenalan aplikasi Migrasi Aman kepada masyarakat Desa Bila Cenge pada 27 Oktober 2026. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai risiko perdagangan orang, khususnya dalam proses migrasi untuk bekerja, serta pentingnya mengenali tawaran pekerjaan yang berpotensi membahayakan.
Dr. Maria Theresia Asti Wulandari, M.A., Psikolog, Dosen Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, menjelaskan perdagangan orang menjadi salah satu persoalan yang ditemukan tim ketika pertama kali melakukan pendampingan di Desa Bila Cenge.
“Pada tahun pertama, kami menemukan bahwa salah satu isu dan persoalan di Bila Cenge, selain stunting, adalah perdagangan orang. Karena itu, kami memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai persoalan tersebut,” katanya.
Selain itu, program ini mencakup pendampingan dalam penguatan tata kelola pemerintahan desa, termasuk peningkatan keterampilan administrasi dan pemanfaatan aplikasi pengolah kata serta lembar kerja elektronik untuk mendukung pelayanan publik. Berbagai bidang tersebut dirancang untuk saling melengkapi agar pengembangan desa tidak hanya berfokus pada satu aspek, tetapi juga memperhatikan kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.
“Namanya juga universitas, kami tidak bisa bekerja seterusnya. Tanggung jawab utama ada pada pemerintah, tetapi kami membantu melalui program pengabdian masyarakat selama tiga tahun,” ujar Wulandari.
Melalui program ini, Unika Atma Jaya menegaskan peran perguruan tinggi dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang berdampak bagi masyarakat. Kolaborasi antara sivitas akademika, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas lokal serta memastikan keberlanjutan berbagai inisiatif menuju desa yang lebih sehat, cerdas, dan mandiri.
(THE)