
Jakarta - Bagi masyarakat Indonesia, tempe mungkin bukan sesuatu yang asing. Namun, bagi Theodorus Eko Pramudito, Ph.D., dosen Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi (FBTI) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, tempe bukan sekadar makanan tradisional yang hadir di meja makan, tetapi juga sumber potensi yang dapat terus dikembangkan melalui ilmu pengetahuan dan bioteknologi.
Pandangan tersebut ia bawa dalam studi doktoralnya di Wageningen University & Research, Belanda. Melalui risetnya, Dr. Theodorus mengeksplorasi bagaimana tempe dapat dikembangkan untuk meningkatkan potensi manfaat kesehatan, khususnya dalam membantu mencegah diare, yang dituangkan dalam disertasi berjudul Levelling Up Tempeh: Enhancing Antidiarrheal Potential of Fermented Soy with Bacterial Exopolysaccharides.
Menurut Dr. Theodorus, riset ini menunjukkan bagaimana pendekatan bioteknologi dapat membuka peluang baru dari pangan yang telah dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Dampak dari riset saya adalah saya dapat mengembangkan produk pangan fungsional yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengurangi gejala diare. Kita tahu bahwa diare masih banyak terjadi di masyarakat Indonesia, dan dengan menggunakan tempe, kita bisa menyediakan produk pangan yang ekonomis dan mudah dijangkau serta rasanya juga sesuai dengan masyarakat Indonesia,” ungkapnya.

Tak hanya dari sisi kesehatan, riset ini juga membuka peluang pengembangan tempe sebagai produk dengan nilai tambah. “Penting juga memberikan nilai tambah pada produk tempe sehingga dapat membantu produsen tempe, khususnya produksi tempe tradisional maupun skala menengah, sehingga bisa menambahkan variasi produk yang beredar di masyarakat dan memperkaya variasi produk tempe yang ada di Indonesia,” jelas Dr. Theodorus.
Bagi Dr. Theodorus, pengalaman riset tersebut juga menjadi bekal untuk memperkaya pembelajaran mahasiswa di Unika Atma Jaya melalui mata kuliah seperti Kimia Pangan dan Fermentasi Pangan, sehingga mahasiswa dapat melihat bagaimana pengetahuan yang dipelajari di kelas dapat diterapkan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan pangan fermentasi.
“Ada banyak inovasi yang bisa kita lakukan dengan produk pangan fermentasi tradisional kita seperti misalnya tempe. Masih banyak sekali potensi di mana kita bisa menambahkan manfaat kesehatan ataupun manfaat lainnya pada produk pangan kita,” ungkapnya.
Melalui pembelajaran di Program Studi Teknologi Pangan FBTI Unika Atma Jaya, mahasiswa dapat melihat bahwa ilmu pangan tidak berhenti pada proses menghasilkan makanan, namun dapat digunakan untuk mengeksplorasi pangan lokal, mengembangkan inovasi berbasis bioteknologi, hingga menjawab kebutuhan kesehatan dan industri.

Pengalaman Dr. Theodorus di Wageningen juga memperkuat pandangannya mengenai pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri. “Kalau kita bisa merangkul pihak komersial dan swasta, akan lebih baik, karena yang paling utama adalah riset kita lebih aplikatif, impact-nya lebih banyak. Hal itu bisa membuka kesempatan bagi mahasiswa kita untuk mengintegrasikan pengalaman belajar mereka ke dunia swasta atau perusahaan, karena universitas sebenarnya adalah transisi dari dunia pendidikan ke dunia profesional,” jelas Dr. Theodorus.
Pada akhirnya, perjalanan riset Dr. Theodorus menunjukkan bahwa inovasi dapat berangkat dari sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tempe, yang selama ini dikenal sebagai pangan tradisional, dapat menjadi pintu masuk menuju riset bioteknologi, pangan fungsional, kesehatan, hingga pengembangan industri.
Bagi mahasiswa yang tertarik pada dunia pangan dan bioteknologi, perjalanan riset Dr. Theodorus menunjukkan bahwa bidang ini memiliki ruang inovasi yang luas. Di FBTI Unika Atma Jaya, pangan bukan hanya tentang apa yang kita makan, tetapi tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat mengubah sesuatu yang sederhana menjadi solusi yang berdampak.
(THE)