Jakarta
- Persoalan limbah plastik masih menjadi salah satu tantangan lingkungan
terbesar di dunia. Di tengah meningkatnya penggunaan plastik berlabel biodegradable,
masih banyak pertanyaan mendasar yang belum sepenuhnya terjawab: apakah plastik
tersebut benar-benar dapat terurai ketika berada di lingkungan alami, khususnya
di ekosistem laut?
Pertanyaan
inilah yang melatarbelakangi penelitian Watumesa Agustina Tan, S.Si., Ph.D.,
dosen Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Biosains, Teknologi, dan
Inovasi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Melalui dukungan Hibah Penelitian
Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Tahun 2026,
Watumesa memimpin penelitian berjudul "Eksplorasi Potensi
Mikroorganisme Laut sebagai Dasar Ilmiah Pengelolaan Limbah Plastik
Biodegradabel yang Berkelanjutan." Penelitian ini menjadi salah satu
wujud nyata komitmen Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dalam
mengembangkan riset yang mendukung Sustainability.
Selama
ini, label biodegradable sering dipahami sebagai jaminan bahwa suatu
produk plastik akan terurai dengan sendirinya setelah dibuang. Namun, menurut
Watumesa, proses biodegradasi jauh lebih kompleks. Keberhasilannya tidak hanya
ditentukan oleh material plastik, tetapi juga oleh kondisi lingkungan serta
keberadaan mikroorganisme yang berperan sebagai pengurai.
"Pada
akhirnya, mikroorganismelah yang menjadi aktor utama dalam proses penguraian.
Karena itu, kita perlu memahami bagaimana mereka berinteraksi dengan plastik
biodegradabel ketika material tersebut berada di lingkungan yang
sebenarnya," jelasnya.
Sebagai
negara maritim, Indonesia memiliki karakteristik lingkungan yang unik. Ketika
limbah plastik berakhir di laut, proses penguraiannya tidak selalu sama seperti
yang terjadi di laboratorium. Melalui penelitian ini, tim akan mengidentifikasi
komunitas bakteri yang menempel pada permukaan plastik biodegradabel sekaligus
mengkaji potensi mikroorganisme tersebut dalam mendukung proses biodegradasi.
Hasil
penelitian diharapkan mampu memberikan dasar ilmiah bagi pengelolaan limbah
plastik biodegradabel yang lebih efektif, sekaligus menjadi referensi bagi
pengembangan produk yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia.
Watumesa
menekankan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dari satu
bidang ilmu. Oleh karena itu, penelitian ini dikembangkan melalui pendekatan
kolaboratif yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.
Tim
peneliti bekerja sama dengan Program Studi Sistem Informasi untuk mengembangkan
platform yang memungkinkan masyarakat mendata berbagai produk plastik
biodegradabel yang beredar di Indonesia serta mengidentifikasi bagaimana
produk-produk tersebut dikomunikasikan kepada konsumen. Sementara itu,
kolaborasi dengan Program Studi Psikologi difokuskan pada kajian perilaku
masyarakat dalam menggunakan plastik biodegradabel dan faktor-faktor yang dapat
mendorong perubahan menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Melalui
sinergi tersebut, penelitian tidak hanya menghasilkan pemahaman mengenai aspek
mikrobiologi, tetapi juga mencakup aspek teknologi informasi, perilaku manusia,
hingga rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung pengelolaan limbah plastik
secara berkelanjutan. Keberhasilan memperoleh Hibah DPPM 2026 ini merupakan
bagian dari perjalanan riset Watumesa yang telah dibangun secara konsisten
selama bertahun-tahun.
Baginya,
setiap penelitian bukanlah proyek yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari
rangkaian pertanyaan ilmiah yang terus berkembang. Penelitian sebelumnya
mengenai interaksi mikroba dengan plastik biodegradabel di lingkungan tanah
kini diperluas menuju ekosistem laut untuk memperoleh pemahaman yang lebih
menyeluruh mengenai perilaku material tersebut di alam.
Selain
aktif melakukan penelitian, Watumesa juga membangun jejaring ilmiah di tingkat
internasional. Sejak 2024, ia dipercaya sebagai Young Ambassador American
Society for Microbiology (ASM) serta menjadi anggota Executive Board
Indonesian Young Academy of Sciences.
Menurutnya,
jejaring internasional memberikan kesempatan untuk bertukar perspektif,
mempelajari pendekatan penelitian dari berbagai negara, serta membuka peluang
kolaborasi yang dapat meningkatkan kualitas riset di Indonesia. Di sisi lain,
ia meyakini bahwa kolaborasi sering kali berawal dari langkah-langkah
sederhana, seperti diskusi ilmiah, seminar, maupun kegiatan pengembangan
kapasitas. Budaya kolaboratif inilah yang perlu terus diperkuat agar penelitian
mampu menghasilkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Selain
sebagai peneliti, Watumesa dikenal sebagai pendidik yang aktif mengembangkan
pembelajaran inovatif. Pengalamannya mengikuti berbagai program internasional,
seperti Professors for the Future, Teaching Assistant Consultant
Fellowship, serta American Society for Microbiology Leadership Grant for
International Educators, mendorongnya mengembangkan pembelajaran yang
berpusat pada mahasiswa. Ia juga merintis mata kuliah Komunikasi Sains untuk
menjembatani dunia akademik dengan masyarakat melalui berbagai pendekatan
kreatif.
Bagi
Watumesa, riset akan memberikan dampak yang lebih besar apabila dibangun di
atas kolaborasi, konsistensi, dan keberanian untuk terus belajar. Ia berharap
semakin banyak dosen dan peneliti muda yang berani memulai penelitian,
membangun jejaring sejak dini, serta mengembangkan ekosistem riset yang saling
mendukung.
"Penelitian
bukan hanya tentang memperoleh hibah atau menghasilkan publikasi ilmiah.
Penelitian adalah cara kita memahami persoalan dan menghadirkan solusi yang
bermanfaat bagi masyarakat. Selama rasa ingin tahu terus dijaga dan kolaborasi
terus dibangun, riset akan selalu memiliki ruang untuk berkembang dan
memberikan dampak nyata," tutupnya.
Melalui penelitian ini,
diharapkan dapat menjadi fondasi ilmiah bagi pengelolaan limbah plastik
biodegradabel yang lebih bertanggung jawab serta berkontribusi pada pembangunan
berkelanjutan di Indonesia.