
Jakarta – Siapa sangka di sebuah kampung kecil, bahasa Inggris dapat tumbuh besar melalui inisiatif masyarakat setempat dan perlahan menjadi ladang usaha pendidikan. Fenomena “kampung inggris” atau English Education Village (EDV) inilah yang diangkat Gharizi Matiini dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris (DLTBI) yang digelar di Aula D, Kampus Semanggi pada Selasa (14/7).
Dalam disertasinya yang berjudul ”Negotiating Global English in Indonesia’s English Education Village: Language Ideologies, Marketization and Multilingual Practices,” Gharizi meneliti bagaimana EDV di Kediri menegosiasikan bahasa Inggris sebagai komoditas global sekaligus mempertahankan identitas lokal. Penelitian ini menyoroti bagaimana masyarakat di kampung tersebut bernegosiasi antara ideologi bahasa yang homoglossik (satu bahasa) dan realitas berbagai bahasa di kehidupan sehari-hari.

Sidang diselenggarakan oleh Fakultas Pendidikan dan Bahasa (FPB) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya yang dipimpin oleh Wakil Dekan FPB, Yanti, Ph.D., didampingi oleh Advisor, Prof. Christine Manara, Ph.D., Co-Advisor, Ekarina, Ph.D., dan para penguji, Mateus Yumarnamto, Ph.D., Prof. Dr. Setiono Sugiharto, M. Hum., serta Dr. Luciana, M.Ed.
Dalam penelitiannya, Gharizi menemukan bahwa EDV lahir dari inisiatif warga lokal yang kemudian dikembangkan menjadi bisnis pendidikan berbasis komunitas yang terus disesuaikan dengan kebutuhan dan ekonomi masyarakat setempat.
Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa EDV secara selektif mengadopsi bahasa Inggris tanpa meninggalkan identitas budaya dan nasional. Dapat dilihat dari penggunaan bahasa Indonesia atau bahasa daerah untuk membantu pemahaman materi di dalam kelas. Menurut Gharizi, praktik campur bahasa atau translanguaging ini menjadi strategi negosiasi yang muncul secara alami dalam realitas multibahasa di EDV.

Menanggapi disertasi Gharizi, salah satu penguji, Luciana menekankan relevansi penelitian ini bagi arah pendidikan bahasa Inggris di Indonesia secara lebih luas. “Penelitian ini sangat penting bukan hanya untuk peran akademik tapi juga untuk Indonesia, untuk negara kita di era globalisasi ini. Penelitian Anda harus memberikan kontribusi terhadap perkembangan bahasa Inggris di Indonesia ke depannya,” ujarnya.
Setelah menyelesaikan presentasinya, Gharizi akhirnya mendapatkan kabar baik dari para penguji. Setelah diskusi panjang, ia akhirnya dinyatakan lulus dengan sangat memuaskan dan resmi menjadi Doktor Linguistik ke-78 dari Program Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Unika Atma Jaya.
Dalam pidato penganugerahan gelar, Christine selaku Advisor dari Gharizi menyampaikan apresiasinya terhadap topik dan proses penelitian Gharizi, ”Penelitian Anda tentang fenomena desa Inggris di konteks Indonesia meneliti area yang menarik untuk penelitian dan memberikan pengetahuan yang berharga dalam dinamika pengajaran dan penggunaan bahasa Inggris di Indonesia,” ujarnya.
”Saya berharap penelitian ini bisa membuat kontribusi yang berarti untuk bidang pendidikan bahasa Inggris,” ungkap Gharizi.
(STV)