Lebih dari Sekadar Campur Bahasa: Riset Doktoral Miftahush Shalihah di Unika Atma Jaya Ungkap Negosiasi Identitas di Podcast

08/04/2026 00:00:00



Praktik berpindah bahasa dalam podcast seringkali dipandang sebagai bagian dari gaya berkomunikasi generasi digital. Namun, di balik fenomena tersebut tersimpan proses pembentukan identitas yang kompleks. Fenomena inilah yang dikaji Miftahush Shalihah dalam disertasinya yang berjudul Multilingual Identity Construction and Negotiation in Interview Podcasts: A Study on Translingual Practice in Interaction, yang dipertahankan dalam sidang terbuka Program Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris Unika Atma Jaya pada Selasa (4/8) di Aula Gedung Djajaseputra, Kampus Semanggi.

Dalam proses mempertahankan disertasinya, Miftahush memaparkan hasil penelitiannya di hadapan tim penguji yang dipimpin Yanti, Ph.D. Sidang tersebut turut menghadirkan Associate Professor Paulus Kuswandono, Ph.D. dari Universitas Sanata Dharma sebagai penguji eksternal yang bergabung secara daring, serta Dr. England, M.Hum. dan Ekarina, Ph.D. sebagai penguji internal. Disertasi ini disusun di bawah arahan Prof. Dr. Setiono Sugiharto dan Prof. Christine Manara, Ph.D.

Fenomena penggunaan berbagai bahasa dalam podcast dan media digital menjadi perhatian utama Miftahush dalam penelitian ini. Ia menelaah bagaimana pilihan bahasa yang digunakan penutur tidak hanya membantu menyampaikan gagasan, tetapi juga merepresentasikan identitas, pengalaman, dan posisi sosial yang terus berkembang sepanjang interaksi.




Melalui analisis terhadap sembilan episode Makna Talks, podcast wawancara di YouTube yang dipandu oleh Iyas Lawrence, Miftahush menemukan bahwa praktik translingual memungkinkan penutur menggunakan berbagai sumber daya bahasa secara fleksibel untuk mengekspresikan sikap, memperjelas makna, menegaskan gagasan, mengelola topik percakapan, hingga membangun keterlibatan dengan audiens. 

Salah satu temuan utama penelitian ini adalah bahwa identitas tidak bersifat tetap, melainkan terus dibentuk dan dinegosiasikan sepanjang interaksi berlangsung. Penggunaan berbagai bahasa dalam podcast memungkinkan penutur menampilkan beragam identitas yang saling beririsan, mulai dari identitas profesional, kreatif, dan reflektif hingga identitas yang menghubungkan perspektif lokal dan global, di mana makna identitas tersebut tidak ditentukan oleh bahasa yang digunakan, melainkan oleh konteks interaksi, topik pembicaraan, peran pembicara, dan hubungan yang dibangun dengan audiens.

Menanggapi capaian tersebut, Prof. Dr. Setiono Sugiharto menyampaikan apresiasi atas dedikasi Miftahush dalam menyelesaikan penelitian doktoralnya serta kontribusi yang diberikan melalui disertasi tersebut.




“Melalui komitmen yang kuat dan kerja keras selama proses penelitian, Miftahush berhasil menghasilkan disertasi yang memberikan pemahaman baru mengenai kompleksitas praktik translanguaging dalam interaksi podcast serta memperkaya perspektif yang berkembang dari berbagai studi sebelumnya pada topik serupa. Kontribusi akademik tersebut diharapkan dapat memberi manfaat bagi pengembangan kurikulum, pengajaran bahasa, mahasiswa, dan masyarakat luas,” ujar Prof. Setiono.

Saat ini, Miftahush mengabdikan diri sebagai dosen Bahasa Inggris di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Selama lebih dari satu dekade, ia mengajar berbagai mata kuliah, mulai dari English for Academic Writing, English for Academic Reading, hingga English for Global Communication. Selain aktif mengajar, ia juga menghasilkan berbagai publikasi ilmiah di bidang linguistik terapan, pendidikan bahasa Inggris, multilingualisme, dan pragmatik, serta berkontribusi dalam pengembangan sejumlah buku ajar bahasa Inggris untuk mahasiswa bidang kesehatan.

Melalui penelitian ini, Program Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris Unika Atma Jaya kembali menunjukkan kontribusinya dalam menghasilkan riset yang relevan dengan perkembangan praktik komunikasi di masyarakat multibahasa. Temuan Miftahush Shalihah diharapkan dapat memperkaya kajian mengenai identitas multibahasa dan praktik translingual, sekaligus menjadi rujukan bagi peneliti, pendidik, dan praktisi bahasa dalam memahami dinamika penggunaan bahasa di ruang digital yang semakin kompleks dan terhubung secara global.

(THE)