Dosen Teknik Industri UAJ Riana Magdalena: Manusia Tetap Jadi Kunci Industri Masa Depan

8/3/2026 12:00:00 AM



Jakarta - Sepulang menempuh studi doktoral di Taiwan, Riana Magdalena, S.Si., MBA., Ph.D., membawa lebih dari sekadar gelar akademik. Dosen Program Studi (Prodi) Teknik Industri Unika Atma Jaya (UAJ) itu juga membawa keyakinan bahwa masa depan industri tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga riset yang berdampak dan kesiapan manusia dalam menghadapi transformasi digital.


Prinsip tersebut ia pelajari selama menempuh pendidikan doktoral di Program Industrial and system engineering di Chung Yuan Christian University, Taiwan, yang diselesaikannya pada tahun 2025. Selama studi, Riana mendalami transformasi digital, penerapan Artificial Intelligence (AI) di industri, manajemen kualitas, hingga perilaku organisasi. Ia juga berkesempatan menjadi konsultan di sejumlah perusahaan teknologi dan elektronika di Taiwan, pengalaman yang semakin memperkuat keyakinannya bahwa kolaborasi antara dunia akademik dan industri merupakan kunci lahirnya inovasi.




“Di Taiwan saya diajarkan bahwa riset harus memiliki dampak, bukan hanya bagi akademisi, tetapi juga untuk industri dan masyarakat,” kenang Riana.


Saat kembalinya ke Indonesia, semangat tersebut ia bawa ke Prodi Teknik Industri UAJ. Baginya, mahasiswa perlu dibekali lebih dari sekadar teori. Mereka juga harus memahami tantangan nyata yang dihadapi dunia industri agar mampu menghasilkan solusi yang relevan.


Karena itu, Riana mendorong pembelajaran berbasis problem-based learning dengan menghadirkan praktisi sebagai pembicara, memberikan studi kasus industri, hingga melibatkan para profesional dalam memberikan masukan terhadap hasil karya mahasiswa.


“Saya ingin mahasiswa tahu apa yang benar-benar dibutuhkan di dunia kerja” jelas Riana. Menurutnya, ruang kelas harus menjadi tempat bagi mahasiswa belajar menyesuaikan persoalan nyata sebelum memasuki dunia profesional.


Salah satu penelitian yang paling berkesan baginya adalah pengembangan Smart Quality, sebuah konsep pembelajaran teknologi computer vision untuk mendeteksi produk cacat secara otomatis pada proses manufaktur. Bersama tim lintas disiplin di Taiwan, penelitian tersebut tidak hanya dipublikasikan, tetapi juga diterapkan di berbagai perusahaan dan membantu meningkatkan sistem pengendalian kualitas di industri.


Implementasi tersebut bahkan mendukung penerapan praktik industri yang lebih berkelanjutan melalui integrasi konsep Environmental, Social, dan Governance (ESG), serta turut mengantarkan salah satu mitra industri meraih penghargaan dari National Quality Board Taiwan.


Di luar aktivitas penelitian, Riana juga aktif dalam berbagai program pengabdian kepada masyarakat. Bersama timnya, ia memperkenalkan literasi digital, robotika, dan teknologi, kepada siswa sekolah maupun komunitas agar semakin banyak generasi muda memiliki kesempatan mengenai teknologi sejak dini.


Meski dikenal sebagai peneliti di bidang AI dan transformasi digital, Riana meyakini bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga kesiapan manusianya.


“Kalau teknologinya ada tetapi manusianya tidak siap, hasilnya akan sama saja," ungkapnya. Karena itu, sebagian penelitiannya juga berfokus pada perilaku organisasi dan kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi transformasi digital.


Keputusan Riana untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi doktoralnya juga lahir dari keinginannya untuk berbagi. Meski memiliki berbagai peluang berkarier di Taiwan, ia memilih pulang dan mengabdikan ilmu yang diperolehnya bagi mahasiswa, industri, dan masyarakat di Indonesia.




“Ilmu pengetahuan akan lebih bermakna ketika dibagikan dan membawa dampak bagi orang lain," tuturnya.


Semangat tersebut tercermin dalam pesan yang selalu ia sampaikan kepada mahasiswa. Menurutnya, kemampuan teknologi harus diimbangi dengan karakter, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, serta kemauan untuk terus belajar.


"Jangan menjadi problem maker, tetapi jadilah problem solver. Jangan pernah berhenti belajar dan jangan takut pada perubahan," pesannya.


Bagi Riana, menjadi dosen bukan sekadar mengajar di dalam kelas, tetapi juga menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan masa depan. Ia berharap setiap mahasiswa tidak hanya menjadi pencari kerja, melainkan inovator yang mampu menciptakan solusi bagi industri dan masyarakat.


"Pada akhirnya, yang ingin saya tinggalkan bukan hanya publikasi atau penghargaan, tetapi dampak yang bisa terus hidup melalui mahasiswa dan orang-orang yang pernah saya ajar," tutupnya.


(DEL)