“Negara Hadir di Mana?” Refleksi Kebijakan dan Realitas Masyarakat di Unika Atma Jaya

11/4/2026 12:00:00 AM


Jakarta – Kehadiran negara tidak hanya tercermin dalam kebijakan dan alokasi anggaran, tetapi juga dalam kemampuannya menjawab kebutuhan masyarakat melalui pelayanan publik yang nyata dan merata. Gagasan ini menjadi salah satu pokok pembahasan dalam talkshow “Negara Hadir di Mana? Memaknai Sumpah Pemuda melalui Kebijakan dan Realitas” yang diselenggarakan Unika Atma Jaya di ATMACultura Exhibition Hall, Kampus Semanggi, pada Rabu (28/10).

Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda sekaligus delapan tahun Ben & Nafsiah Mboi Collection di Perpustakaan Unika Atma Jaya. Melalui dialog yang mempertemukan perspektif pemerintah, pemerintah daerah, akademisi, dan keluarga Ben Mboi, talkshow yang dipandu oleh Dr. dr. Soegianto Ali, M.Med.Sc., Ketua Program Studi Magister Ilmu Biomedik Unika Atma Jaya, mengajak peserta merefleksikan bagaimana kebijakan nasional diterapkan di daerah dan sejauh mana dampaknya dapat dirasakan masyarakat.

Dalam sambutannya, Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.N (K), menyampaikan apresiasi atas perjalanan delapan tahun Ben & Nafsiah Mboi Collection sebagai sumber inspirasi dan pembelajaran bagi komunitas akademik. 


“Di tengah kemudahan akses terhadap pengetahuan, kampus tetap memiliki peran penting sebagai ruang yang memberikan inspirasi, baik melalui pertemuan dengan dosen maupun dengan orang-orang yang memiliki pengalaman dan kisah inspiratif. Dari kisah Pak Ben Mboi, kita juga dapat belajar bahwa Indonesia memiliki keberagaman budaya yang sangat kaya dan menjadi salah satu kekuatan bangsa, sehingga semoga diskusi hari ini dapat memberikan inspirasi bagi kita untuk membayangkan dan membangun Indonesia yang lebih baik 100 tahun ke depan,” katanya. 

Salah satu isu yang mengemuka dalam diskusi adalah tantangan pemerintah daerah dalam memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi di tengah berbagai keterbatasan. Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt., menyoroti kondisi masyarakat Pulau Flores yang kembali menghadapi bencana gempa bumi.


“Gempa bumi bukan kali pertama terjadi di Flores, tetapi masyarakat tetap menunjukkan ketangguhan dan kehangatan dalam menghadapi musibah. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah harus memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi sekaligus terus mengupayakan pemerataan pembangunan di NTT, khususnya di Pulau Flores, dengan memperhatikan tantangan seperti keterbatasan bahan bakar minyak (BBM), infrastruktur, dan pelayanan publik,” ungkapnya.

Menghadirkan Negara melalui Pelayanan Kesehatan yang Merata

Pelayanan kesehatan menjadi salah satu contoh konkret kehadiran negara yang dapat dirasakan masyarakat, mulai dari akses terhadap fasilitas kesehatan dan ketersediaan tenaga medis hingga kemampuan masyarakat memperoleh informasi serta bantuan yang tepat.

Dalam diskusi tersebut, dr. Imran Pambudi, M.P.H., Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, menyoroti tantangan pelayanan kesehatan bagi kelompok rentan, khususnya di wilayah dengan keterbatasan fasilitas dan akses. Ia menegaskan, “Kehadiran negara dalam pelayanan kesehatan bukan hanya soal menyediakan fasilitas, tetapi juga memastikan masyarakat tahu ke mana harus mencari bantuan dan mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan. Tenaga kesehatan perlu dibekali edukasi yang memadai, sementara kondisi sosial yang dihadapi pasien juga harus menjadi perhatian agar pelayanan kesehatan tetap memanusiakan pasien, terutama mereka yang menghadapi keterbatasan akses dan sumber daya.”


Sementara itu, Dr. Agustinus Prasetyantoko, M.Sc. Ekonom & Dosen Fakultas Bisnis dan inovasi Sosial Unika Atma Jaya, menekankan pentingnya mengevaluasi kebijakan pemerintah berdasarkan dampak dan manfaatnya bagi masyarakat, termasuk dengan melihat apakah program disusun berdasarkan bukti dan kebutuhan nyata atau lebih didorong oleh pertimbangan politik.


“Program pemerintah perlu disusun berdasarkan bukti dan kebutuhan nyata masyarakat (evidence-based), bukan semata-mata didorong oleh pertimbangan politik. Keberhasilan kebijakan publik harus diukur dari kemampuannya menghasilkan solusi yang relevan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, bukan sekadar memenuhi target administratif,” ungkapnya.

Refleksi Nafsiah Mboi: Kepemimpinan yang Berangkat dari Cinta kepada Rakyat

Dalam sesi refleksi, Dr. Nafsiah Mboi, Sp.A., MPH., menekankan pentingnya membangun ruang dialog untuk memahami persoalan dan kebutuhan masyarakat sebelum mengambil keputusan. Ia menyampaikan, “Pemerintah perlu memahami persoalan yang dihadapi rakyat dan mempelajari kebutuhan mereka berdasarkan bukti sebelum mengambil keputusan. Yang paling utama adalah cinta kepada rakyat, dengan memperlakukan mereka seperti saudara sendiri dan memastikan negara hadir untuk memberikan yang terbaik, termasuk membantu masyarakat keluar dari kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan.”


Refleksi tersebut sekaligus menghubungkan kembali diskusi dengan pemikiran dan pengalaman dr. Ben Mboi dalam perjalanan pengabdiannya sebagai bahan pembelajaran untuk membaca persoalan Indonesia saat ini. Pengalaman tersebut mengingatkan bahwa kepemimpinan membutuhkan kemauan untuk mendengarkan, memahami, dan bertindak demi kepentingan masyarakat.

Melalui talkshow ini, Unika Atma Jaya menghidupkan kembali relevansi Ben & Nafsiah Mboi Collection sebagai sumber pengetahuan dan refleksi atas persoalan publik, sekaligus mengajak masyarakat memaknai semangat Sumpah Pemuda melalui kebijakan yang tepat, pelayanan publik yang merata, dan kepedulian terhadap kebutuhan rakyat.

(THE)