
Jakarta - Apa yang kita baca di media tentang pembelajaran bahasa Inggris ternyata tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat terhadap pendidikan dan daya saing global.
Berangkat dari temuan tersebut, Aldi Alexander Vinchristo berhasil meraih gelar Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris (DLTBI) ke-83 Unika Atma Jaya (UAJ) setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul Discourses of English Learning and Global Education in Singaporean and Indonesian Online Media: A Critical Discourse Analysis Using Systemic Functional Linguistics pada sidang promosi doktor yang digelar di Aula D, Kampus Semanggi (28/7).
Sidang tersebut dipimpin oleh Promotor Yanti, Ph.D. bersama Ko-promotor Dr. Luciana, M.Ed., dengan tim penguji yang terdiri atas Penguji Eksternal Prof. Safnil Arsyad, Ph.D. serta Penguji Internal Prof. Dr. Setiono Sugiharto dan Dr. Anna Marietta da Silva, M.Hum.
Dalam penelitiannya, Aldi menggunakan analisis yang mengintegrasikan tiga perangkat utama dalam Systemic Functional Linguistics (SFL), yakni Transitivity, Intertextuality, dan Appraisal. Menurutnya, ketiga perangkat tersebut mampu memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai bagaimana media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk perspektif, nilai, dan ideologi melalui pilihan-pilihan bahasa.
"Sebagian besar penelitian sebelumnya hanya menggunakan satu atau dua perangkat analisis dalam SFL. Penelitian ini mencoba mengintegrasikan ketiganya sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bagaimana makna dan ideologi dikonstruksi dalam teks media," jelas Aldi saat memaparkan hasil penelitiannya.
Melalui analisis terhadap artikel-artikel dari The Straits Times di Singapura dan The Jakarta Post, Aldi menemukan bahwa kedua media sama-sama memandang pembelajaran bahasa Inggris sebagai isu pendidikan yang penting. Namun demikian, masing-masing media membangun narasi yang berbeda sesuai dengan konteks sosial dan kebijakan pendidikan di negaranya.
Media Singapura, misalnya, cenderung merepresentasikan bahasa Inggris sebagai instrumen strategis untuk mendukung pembangunan nasional, daya saing global, serta kemajuan institusional. Representasi tersebut terlihat dari dominasi penggunaan proses relasional dan material serta penekanan pada otoritas institusi dalam pemberitaan.
Sementara itu, media Indonesia lebih banyak merepresentasikan pembelajaran bahasa Inggris melalui pengalaman masyarakat dengan menonjolkan tindakan, peristiwa, serta berbagai perspektif narasumber. Pendekatan ini dinilai menunjukkan bahwa bahasa Inggris tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan global, tetapi juga harus berjalan seiring dengan pelestarian identitas nasional dan budaya Indonesia.

Selain membahas pembelajaran bahasa Inggris, penelitian ini juga mengkaji representasi pendidikan global modern. Aldi menemukan bahwa media Singapura lebih banyak membingkai pendidikan modern sebagai sarana mencetak sumber daya manusia yang kompetitif untuk menghadapi ekonomi global. Sebaliknya, media Indonesia menempatkan pendidikan global sebagai upaya meningkatkan daya saing internasional tanpa mengesampingkan nilai-nilai kebangsaan dan kohesi budaya.
Menurut Aldi, temuan tersebut menunjukkan bahwa media memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan informasi.
"Media tidak hanya melaporkan isu pendidikan, tetapi juga membangun dan melegitimasi pandangan tertentu mengenai kebijakan bahasa, reformasi pendidikan, identitas nasional, hingga daya saing global melalui pilihan-pilihan bahasa yang digunakan," ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa integrasi Transitivity, Intertextuality, dan Appraisal dalam satu kerangka analisis memberikan kontribusi metodologis bagi pengembangan kajian Critical Discourse Analysis. Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti melihat bagaimana pengalaman direpresentasikan, bagaimana sumber dan suara dihadirkan, serta bagaimana sikap, evaluasi, dan posisi ideologis dibangun secara bersamaan dalam sebuah teks.
Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan bagi peneliti, akademisi, pendidik, maupun praktisi media untuk memahami bagaimana pilihan bahasa dalam pemberitaan dapat memengaruhi cara masyarakat memandang isu pendidikan dan pembelajaran bahasa Inggris di tengah dinamika global.
(DEL)