Keahlian bermusik tidak hanya berkaitan dengan
kemampuan memainkan instrumen atau memahami musik, tetapi juga memiliki
hubungan dengan fungsi eksekutif (executive function), yaitu kemampuan
kognitif yang membantu individu mengendalikan perilaku dan mengelola informasi.
Fungsi kognitif eksekutif sangat jarang dilihat sebagai sesuatu yang esensial
dari pribadi manusia, khususnya di Indonesia, padahal fungsi menjelaskan banyak
hal dari berbagai perilaku manusia.
Peneliti dan dosen dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Dr. Billy Aryanto melakukan penelitian terkait How Is Musical Expertise Related to Executive Functions? A Systematic Review and Meta-Analysis, mengkaji hubungan antara keahlian bermusik dan tiga aspek fungsi eksekutif, yaitu inhibisi, peralihan tugas (shifting), dan memori kerja. Billy melakukan studi ini bersama dengan Dr. Aireen dari Universitas Indonesia dan tiga akademis dari University of Sheffield, yaitu Dr. Renee Timmers, Dr. Emma Blakey dan Prof. Claudia von Bastian. Penelitian dilakukan dengan metode tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 47 studi, yang mencakup 235 eksperimen dengan nilai effect size dan melibatkan kurang lebih 4.651 partisipan. Penelitian ini telah dipublikasikan di salah satu jurnal bereputasi internasional, Psychonomic Bulletin.

Gambar diambil dari: https://www.gripastudio.com/whispers/The%20Music%20Scene%20in%20Southeast%20Asia:%20A%20Melting%20Pot%20of%20Cultures
Hasil analisis menunjukkan bahwa keahlian bermusik
memiliki hubungan positif dengan fungsi eksekutif secara keseluruhan. Hubungan
paling kuat ditemukan pada memori kerja, diikuti inhibisi dan kemampuan beralih
tugas. Memori kerja berperan penting karena memungkinkan individu menyimpan dan
mengolah informasi ketika melakukan aktivitas kognitif.
Temuan ini memperkaya pemahaman mengenai
keterkaitan aktivitas musikal dan kemampuan kognitif manusia. Namun, hasil
penelitian menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa keahlian bermusik secara
langsung menyebabkan peningkatan fungsi eksekutif.