Peringatan 100 Tahun Frans Seda, Unika Atma Jaya Teguhkan Warisan Pendiri

10/15/2026 12:00:00 AM


JAKARTA – Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (Unika Atma Jaya) meneguhkan kembali warisan nilai dan keteladanan Frans Seda, tokoh pendiri Atma Jaya, melalui puncak peringatan 100 tahun Frans Seda bertajuk Frans Seda Centennial Celebration: Empowering the Next Generation. Kegiatan yang diselenggarakan pada 9 Oktober 2026 di Ballroom Gedung Yustinus Lantai 15, Kampus Semanggi, ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan hidup dan pengabdian Frans Seda sekaligus mengajak generasi muda meneruskan semangat “Untuk Tuhan dan Tanah Air” melalui kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.

Peringatan ini diselenggarakan oleh Frans Seda Foundation bersama Yayasan Atma Jaya dan Unika Atma Jaya, dengan dukungan Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (PPM) serta Kompas Gramedia. Rangkaian kegiatan telah berlangsung sejak 2 September 2026 melalui pembukaan pameran “Jejak Sejarah Frans Seda” di ATMACultura Exhibition Hall, dilanjutkan dengan Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda bertema “Kebijakan Ekonomi di Masa Sulit” pada 1 Oktober 2026, serta ziarah ke makam Frans Seda pada 4 Oktober 2026.

Puncak peringatan diawali Misa Syukur di Kapel St. Albertus Magnus yang dipimpin Ignatius Kardinal Suharyo bersama Rm. Ignasius Wahyudi Paweling, Pr. dan Rm Hendrikus Meko, SVD. Dalam homilinya, Kardinal Suharyo merefleksikan kesadaran Frans Seda sejak muda terhadap panggilan awam Katolik untuk berevangelisasi (mewartakan) di tengah tata dunia melalui berbagai bidang seperti politik, ekonomi, budaya, kesehatan, dan pendidikan. Beliau mengajak generasi muda menjaga dan merawat warisan Frans Seda melalui tanggung jawab bersama dengan peran masing-masing. 


“Warisan ini diteruskan kepada kita untuk kita jaga, untuk kita rawat, dan untuk kita kembangkan dengan mencari jalan-jalan yang baru. Intinya sama, tujuannya sama, yaitu meresapi tata dunia yang semakin jauh dari nilai-nilai injil,” ujar Kardinar Suharyo.

Usai misa, perayaan berlanjut di Ballroom Gedung Yustinus Lantai 15. Perayaan dibuka dengan permainan sasando oleh Mateo Jubileo dan Band Ningsyh and Friends. Dalam sambutannya, Managing Director Frans Seda Foundation Stefanus Ginting menyebut Frans Seda sebagai tokoh panutan yang kiprah dan pemikirannya luar biasa. Beliau dikenal sebagai negarawan, tokoh keagamaan, dan tokoh pendidikan. Melalui tema Empowering the Next Generation, peringatan ini dikemas dengan pendekatan yang sesuai dengan selera generasi muda, antara lain melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI), musik, dan drama musikal.

Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), dalam sambutannya menegaskan bahwa Frans Seda merupakan representasi nyata dari semangat “Untuk Tuhan dan Tanah Air”. Nilai tersebut tidak berhenti sebagai semboyan, tetapi diwujudkan melalui integritas, pengabdian, dan kesediaan untuk memberikan kontribusi terbaik bagi sesama serta bangsa.


“Pak Frans Seda menjadi contoh nyata untuk Tuhan dan Tanah Air yang hidup. Semoga 100 tahun perayaan Frans Seda kembali mengingatkan kita bukan hanya tentang masa lalu, tetapi menjadi semangat kita, semangat untuk Tuhan dan Tanah Air yang diwariskan oleh Pak Frans Seda untuk kita semua yang hadir di sini,” ujar Prof. Yuda Turana.

Bagi Unika Atma Jaya, keteladanan Frans Seda menjadi bagian penting dari nilai yang terus dihidupi dalam penyelenggaraan pendidikan. Semangat tersebut mendorong universitas untuk tidak hanya mengembangkan keunggulan akademik, tetapi juga membentuk generasi yang berintegritas, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menggunakan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Menghadirkan Sejarah melalui Pendekatan yang Dekat dengan Generasi Muda

Salah satu penampilan utama dalam perayaan ini adalah drama musikal oleh teater “Untuk Tuhan dan Tanah Air” (UTTA). Pertunjukan yang melibatkan mahasiswa, alumni, staf Atma Jaya, dan sahabat Atma ini mengangkat perjalanan hidup Frans Seda, mulai dari masa kecil hingga kiprahnya sebagai menteri dan negarawan. Nusa Wicastya menulis naskah, menyutradarai, sekaligus memerankan Frans Seda. Ia tampil bersama J. Rizhan sebagai Frans Seda kecil, Maria Vernanda sebagai Johanna Seda, dan Harris Syaus sebagai Soekarno.


Melalui pertunjukan tersebut, sejarah dihadirkan dengan cara yang lebih dekat dan relevan bagi generasi muda. Kisah kehidupan Frans Seda menjadi pengingat bahwa kontribusi bagi bangsa dapat dimulai dari keberanian mengambil tanggung jawab, keteguhan memegang prinsip, serta kemauan untuk terus belajar dan berkarya.

Pengalaman mengenal sosok Frans Seda kemudian dilanjutkan melalui sesi Bincang Bersama Frans Seda, yang menghadirkan kesempatan bagi peserta untuk berinteraksi dengan sosok Frans Seda melalui teknologi. Sesi diawali dengan pesan Frans Seda melalui video dan dilanjutkan dengan pertanyaan dari lima perwakilan lintas generasi, yakni Ignatius Kardinal Suharyo, Ketua Pengurus Yayasan Atma Jaya Linus M. Setiadi, Rektor Unika Atma Jaya Prof. Yuda Turana, perwakilan mahasiswa, serta perwakilan pelajar SMA.


Sesi ini menghadirkan ruang refleksi lintas generasi sekaligus mempertemukan warisan pemikiran Frans Seda dengan pertanyaan dan tantangan yang dihadapi generasi masa kini. Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu cara untuk menjaga relevansi sejarah dan membuka ruang dialog yang lebih dekat dengan generasi muda.

Apresiasi bagi Kreativitas dan Kontribusi Generasi Muda

Komitmen untuk meneruskan warisan Frans Seda juga diwujudkan melalui apresiasi terhadap kreativitas generasi muda. Dalam kolaborasi dengan Institut Media Digital Emtek (IMDE), perayaan ini memberikan penghargaan kepada para pemenang Lomba Film Vertikal. Selain itu, diumumkan pula para pemenang students competition “What Lives On?”, yang diikuti oleh 85 siswa SMA dan mahasiswa.


Para peserta mengangkat sosok dan nilai keteladanan Frans Seda melalui tiga kategori karya, yaitu cerita pendek, ilustrasi, dan reels. Penilaian dilakukan oleh para juri yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing, yakni Dr. Phil Mikhael Dua untuk kategori cerita pendek, Afzainizam Nur Fahmi untuk ilustrasi, dan Rian Fahardhi Risyad untuk reels.

Melalui kompetisi ini, generasi muda didorong untuk mengenal sejarah secara lebih mendalam sekaligus mengolah nilai-nilai keteladanan menjadi karya kreatif yang dapat menjangkau masyarakat luas. Upaya tersebut sejalan dengan semangat Unika Atma Jaya dalam mendorong generasi muda agar mampu berpikir kritis, berinovasi, dan memberikan dampak positif melalui bidang yang mereka tekuni.


Peringatan 100 tahun Frans Seda tidak hanya menjadi momentum refleksi, tetapi juga diwujudkan melalui aksi sosial. Gerakan 100 Sahabat untuk Sekolah berhasil menghimpun donasi sebesar Rp145.000.000 untuk mendukung renovasi SMPS Katolik Ile Bura serta Asrama Putra-Putri San Marco di Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Inisiatif ini mencerminkan semangat pengabdian yang menjadi bagian dari warisan Frans Seda. Pendidikan tidak hanya berperan dalam membangun kapasitas individu, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh masa depan yang lebih baik. Dukungan terhadap fasilitas pendidikan menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata untuk memperluas akses terhadap lingkungan belajar yang lebih layak.

Melalui rangkaian peringatan ini, Unika Atma Jaya menegaskan komitmennya untuk meneruskan warisan Frans Seda. Semangat “Untuk Tuhan dan Tanah Air” menjadi landasan dalam mengintegrasikan ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan pengabdian. Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui pendidikan yang membentuk generasi unggul, berintegritas, dan peduli terhadap sesama. Dengan demikian, generasi muda diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa. 


(BRI)