Penelitian Suwarni Soroti Perubahan Cara Kerja Penerjemah di Ruang Daring

6/5/2026 12:00:00 AM



Jakarta - Praktik penerjemahan saat ini tidak lagi identik dengan pekerjaan individu yang dilakukan secara mandiri di depan layar komputer. Perkembangan teknologi dan platform kolaboratif telah mengubah cara penerjemah bekerja, berpikir, dan mengambil keputusan. Fenomena ini menjadi fokus penelitian Suwarni Wijaya Halim dalam sidang Program Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris (DLTBI) Unika Atma Jaya (UAJ) yang digelar di Kampus Semanggi, Senin (26/5).


Melalui disertasinya yang berjudul "Cognitive Behaviors, Problem Solving, and Information Sharing in Online Collaborative Translation: A Case Study on Student Translators", Suwarni mengkaji bagaimana perilaku kognitif, proses pemecahan masalah, dan berbagi informasi berlangsung ketika mahasiswa penerjemah bekerja secara kolaboratif dalam lingkungan daring.


Sidang promosi doktor tersebut dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Sumber Daya Manusia, Dr. Yohanes Eko Adi Prasetyanto, S.Si., dengan pembimbing Dr. Anna Marietta da Silva, M.Hum. dan Dr. Engliana, M.Hum. Sementara tim penguji terdiri atas Dr. Julia Eka Rini, Prof. Dr. Setiono Sugiharto, M.Hum., serta Ferdinan Okki Kurniawan, Ph.D.




Dalam paparannya, Suwarni menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari perubahan cara kerja penerjemah di era digital. Jika dahulu aktivitas penerjemahan lebih banyak dilakukan secara individu, kini kolaborasi secara daring menjadi praktik yang semakin umum, baik di lingkungan akademik maupun industri penerjemahan profesional.


Melalui penelitian ini, Suwarni ingin melihat lebih dekat bagaimana proses berpikir, pemecahan masalah, dan pertukaran informasi terjadi ketika beberapa penerjemah bekerja bersama dalam satu proyek terjemahan. Untuk itu, ia mengamati tiga mahasiswa penerjemah yang menerjemahkan teks dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris secara kolaboratif menggunakan platform daring.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa para mahasiswa tetap menjalani tahapan penerjemahan yang sama seperti penerjemah individu, mulai dari memahami teks, malakukan transfer makna, menyusun kembali kalimat dalam bahasa sasaran, hingga melakukan penyuntingan. Namun, proses tersebut berlangsung dengan cara yang berbeda.


Alih-alih berpikir dan bekerja sendiri, para peserta penelitian secara aktif berdiskusi, bertukar pendapat, serta menegosiasikan pilihan kata dan struktur kalimat. Proses yang biasanya berlangsung secara diam dalam pikiran penerjemah berubah menjadi percakapan terbuka yang melibatkan seluruh anggota kelompok.


Menurut Suwarni, kolaborasi daring membuat proses penerjemahan berlangsung dalam siklus-siklus kecil. Setiap bagian teks dibahas bersama hingga mencapai kesepakatan sebelum kelompok melanjutkan ke bagian berikutnya. "Proses berpikir yang biasanya terjadi secara individual berubah menjadi proses yang dibangun bersama melalui diskusi, negosiasi, dan pertukaran gagasan antarpenerjemah," ujarnya.




Penelitian ini juga menemukan bahwa mahasiswa penerjemah sangat mengandalkan berbagai sumber informasi digital, seperti Google Search, Wikipedia, dan Google Translate. Meski demikian, informasi yang ditemukan tidak langsung digunakan begitu saja. Berbagai alternatif yang muncul terlebih dahulu didiskusikan dan dievaluasi sebelum dipilih sebagai hasil terjemahan akhir.


Lebih lanjut, Suwarni menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut turut membentuk pemahaman bersama di antara anggota kelompok. Melalui proses berbagi informasi dan pemecahan masalah secara kolektif, para peserta membangun cara pandang yang sama terhadap teks yang sedang diterjemahkan.


Dari temuan tersebut, ia menilai bahwa pembelajaran penerjemahan perlu semakin mengakomodasi praktik kolaboratif yang saat ini banyak digunakan di dunia kerja. Selain meningkatkan kemampuan bahasa, model pembelajaran ini juga dapat melatih keterampilan komunikasi, kerja sama tim, serta pemanfaatan teknologi digital yang dibutuhkan oleh penerjemah masa kini.


Di akhir sidang, Suwarni berharap hasil penelitiannya dapat memperkaya kajian mengenai proses kognitif dalam penerjemahan sekaligus menjadi masukan bagi pengembangan pendidikan penerjemahan di era digital. 


Menurutnya, penerjemahan saat ini tidak lagi sekadar aktivitas individual, melainkan proses kolaboratif yang menggabungkan kemampuan bahasa, teknologi, dan interaksi sosial dalam menghasilkan terjemahan yang berkualitas. "Kolaborasi bukan lagi sekadar pelengkap dalam proses penerjemahan, melainkan menjadi bagian penting dari cara penerjemah bekerja di era digital," tutup Suwarni.


(DEL)