
Jakarta - Selama ini, belajar menulis dalam Bahasa Inggris sering kali identik dengan aturan tata bahasa yang ketat. Mahasiswa dituntut menggunakan Bahasa Inggris secara penuh dan menghindari penggunaan bahasa lain. Namun, bagaimana jika justru kebebasan menggunakan seluruh kemampuan berbahasa yang dimiliki membuat proses belajar menjadi lebih efektif?
Pertanyaan itu dijawab oleh Bayu Andika Prasatyo melalui disertasinya di Program Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris (DLTBI) Unika Atma Jaya (UAJ), di Aula D, Kampus Semanggi (29/7).
Dalam penelitiannya, Bayu menemukan bahwa mahasiswa tidak selalu membutuhkan pembatasan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris ketika mengerjakan tugas. Sebaliknya, mereka justru mampu membangun ide secara lebih kreatif ketika diperbolehkan memanfaatkan seluruh sumber daya komunikasi yang dimiliki.
Disertasi berjudul Translanguaging in Collaborative Digital Multimodal Composition: Insights from an EFL Classroom itu menyoroti praktik translanguaging, yakni cara pembelajar bilingual menggunakan berbagai bahasa secara fleksibel dalam proses berpikir, berdiskusi, hingga menghasilkan karya.
"Bagi saya, translanguaging bukan sekadar perpindahan dari satu bahasa ke bahasa lain. Praktik ini merupakan cara mahasiswa memanfaatkan seluruh sumber daya linguistik dan semiotik yang mereka miliki untuk membangun makna secara kolaboratif," kata Bayu.

Menurut Bayu, pembelajaran Bahasa Inggris saat ini telah mengalami perubahan. Menulis tidak lagi hanya dilakukan dengan menyusun kalimat dalam Bahasa Inggris, tetapi juga melibatkan gambar, warna, ikon, tata letak, gestur, hingga bahasa sehari-hari yang digunakan mahasiswa ketika berdiskusi bersama.
Untuk melihat bagaimana proses tersebut berlangsung, Bayu mengamati aktivitas 12 mahasiswa EFL selama delapan kali pertemuan. Seluruh proses diskusi direkam dan dianalisis secara mendalam, bukan hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga bagaimana mahasiswa mengambil keputusan saat bekerja sama di depan layar komputer.
Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa terus berpindah antara Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, bahkan ungkapan-ungkapan lokal ketika menyusun komposisi digital. Mereka menggunakan kata-kata seperti suram, puyeng, muter-muter, hingga ngebul untuk menggambarkan pengalaman yang sulit dijelaskan hanya dengan Bahasa Inggris formal. Pilihan kata tersebut kemudian dipadukan dengan warna, ilustrasi, gerakan tangan, maupun navigasi digital sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih kuat.
Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa pertama bukanlah pada kelemahan dalam berbahasa Inggris. Justru kebalikannya, mahasiswa memanfaatkan seluruh kemampuan berbahasa yang dimiliki sebagai strategi untuk berpikir, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan secara lebih efektif.

“Mahasiswa tidak bisa menggunakan bahasa pertama karena kekurangan kemampuan dalam berbahasa Inggris. Mereka menggunakannya untuk bernegosiasi, membangun ide, dan menghasilkan representasi yang lebih autentik sesuai pengalaman mereka,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Bayu juga menemukan bahwa pendekatan tersebut membuat mahasiswa merasa lebih percaya diri. Mereka tidak lagi terlalu cemas memikirkan kesalahan tata bahasa sehingga dapat lebih fokus mengembangkan ide dan berkolaborasi dengan teman satu kelompok.
Menariknya, mahasiswa juga berusaha menghadirkan identitas budaya mereka ke dalam karya yang dibuat. Simbol-simbol lokal, seperti logo OSIS maupun warna langit menjelang Magrib, dipilih untuk memperkuat cerita yang mereka bangun. Bagi Bayu, hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa tidak harus menghilangkan identitas budaya, melainkan dapat menjadi ruang untuk mengekspresikannya.
Ke depan, Bayu berharap pembelajaran Bahasa Inggris tidak lagi berfokus pada produk akhir semata, tetapi juga memberi ruang bagi proses kolaboratif, kreativitas, dan identitas mahasiswa untuk berkembang.
(DEL)