
Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya menjadi tempat diselenggarakannya pembukaan Pameran “Jejak Sejarah Frans Seda” sebagai rangkaian awal peringatan 100 tahun kelahiran Franciscus Xaverius Seda atau Frans Seda. Pameran ini berlangsung pada 2 September 2026 di ATMACultura Exhibition Hall, Kampus Unika Atma Jaya, Semanggi, yang merupakan hasil kolaborasi antara Unika Atma Jaya, Yayasan Atma Jaya, dan Frans Seda Foundation (FSF).
Pameran ini menghadirkan perjalanan kehidupan Frans Seda melalui berbagai materi visual yang merekam kiprahnya sebagai salah satu pendiri Unika Atma Jaya, sekaligus sebagai tokoh yang pernah mengabdikan diri sebagai politisi, menteri, dan diplomat. Kehadiran pameran ini menjadi bagian dari upaya untuk mengenalkan kembali pemikiran, pengabdian, serta nilai-nilai Frans Seda kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Pembukaan pameran ditandai dengan pemukulan gong oleh Prof. Dra. Francisia Saveria Sika Seda, MA., Ph.D. selaku perwakilan keluarga Frans Seda. Prosesi tersebut turut didampingi Linus M. Setiadi, Ketua Pengurus Yayasan Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S (K), Rektor Unika Atma Jaya, serta Steve Ginting, Managing Director Frans Seda Foundation. Kegiatan ini disaksikan oleh Pengurus Yayasan Atma Jaya, anggota Frans Seda Foundation, serta para undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Yuda, menyampaikan bahwa nilai-nilai yang diwariskan Frans Seda telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas dan kehidupan Komunitas Atma Jaya. “Kita tidak hanya mewarisi nilai-nilai Bapak Frans Seda, tetapi nilai-nilai itu mengalir dalam darah kita, karena kita adalah bagian dari Atma Jaya,” ujar Prof. Yuda.

Kepada para siswa SMA dan mahasiswa yang hadir maupun yang akan mengunjungi pameran, Prof. Yuda berharap pengalaman yang diperoleh dari pameran ini dapat membantu mereka memahami lebih mendalam nilai cinta kepada Tuhan dan Tanah Air yang menjadi motto Frans Seda. “Dan semoga beberapa tahun dari sekarang saya akan bertemu kembali dengan siswa SMA atau mahasiswa yang berkunjung ke pameran ini, dan mereka telah menjadi menteri atau tokoh nasional seperti Frans Seda,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Steve Ginting menyampaikan bahwa Pameran “Jejak Sejarah Frans Seda” tidak sekadar menjadi ruang untuk menampilkan dokumentasi perjalanan hidup seorang tokoh. Lebih dari itu, pameran ini menjadi momentum untuk kembali melihat perjalanan, pemikiran, pengabdian, serta nilai-nilai yang telah diwariskan Frans Seda bagi bangsa Indonesia.
“Karena kami tidak hanya menampilkan foto, namun sebuah perjalanan yang dapat dikenang, dipelajari, dan terutama diteruskan kepada generasi muda,” ujar Steve.
Pesan tersebut diwujudkan melalui berbagai aktivitas dan lomba yang disiapkan selama penyelenggaraan pameran. Kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih interaktif bagi para pengunjung, khususnya siswa SMA dan mahasiswa, sekaligus mendorong mereka untuk mengenal lebih dekat sosok dan pemikiran Frans Seda.

Pemilihan Unika Atma Jaya sebagai lokasi penyelenggaraan juga memiliki makna historis yang kuat. Frans Seda merupakan salah satu tokoh yang berperan dalam pendirian Unika Atma Jaya bersama sejumlah rekan seperjuangannya. Kiprah tersebut menjadi salah satu karya penting Frans Seda dalam bidang pendidikan sekaligus bagian dari warisan yang terus berkembang di lingkungan Atma Jaya. “Oleh karena itu, Atma Jaya menjadi tempat yang paling tepat untuk menyelenggarakan pameran ini,” ujar Steve Ginting.
Pameran “Jejak Sejarah Frans Seda” mengemas perjalanan hidup Frans Seda ke dalam tiga chapter. Setiap bagian membawa pengunjung menelusuri berbagai fase kehidupan Frans Seda, mulai dari proses pembentukan karakter dan pendidikan, perjalanan pengabdian sebagai birokrat dan politikus, hingga warisan pemikiran dan nilai-nilai yang tetap relevan serta hidup hingga saat ini.
Melalui penyelenggaraan pameran ini, Unika Atma Jaya bersama Yayasan Atma Jaya dan Frans Seda Foundation berupaya menghadirkan ruang pembelajaran, refleksi, dan inspirasi bagi generasi muda serta masyarakat luas. Bagi Komunitas Atma Jaya, pameran ini juga menjadi kesempatan untuk kembali mengenal dan merefleksikan nilai-nilai yang menjadi bagian dari warisan pendirinya.

Untuk memberikan pengalaman yang lebih mendalam, pengunjung dapat menggunakan mission book interaktif yang berisi sejumlah misi selama mengikuti alur pameran. Pengunjung diajak untuk menemukan inspirasi melalui koleksi buku Frans Seda, memecahkan teka-teki mengenai perjalanan hidupnya, hingga menuliskan refleksi pribadi setelah menyelesaikan kunjungan.
Melalui mission book tersebut, pengunjung tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi, tetapi juga diajak untuk berinteraksi, merefleksikan, dan menghayati kisah serta nilai-nilai yang diwariskan Frans Seda.
Pameran “Jejak Sejarah Frans Seda” terbuka untuk umum mulai 2 September hingga 9 Oktober 2026, setiap Senin–Sabtu pukul 10.00–16.00 WIB. Pameran berlangsung di ATMACultura Exhibition Hall, Unika Atma Jaya, Jl. Jend. Sudirman No. 51, Jakarta Selatan.
(BRI)