
Jakarta – Sumpah Pemuda merupakan pengingat bagi bangsa Indonesia, terutama pemuda-pemudi, untuk mencintai tanah air, menjaga persatuan sebagai bangsa, dan menjunjung bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Makna tersebut kembali diangkat oleh Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ) melalui upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada Rabu (28/10) di Atmaterra, Kampus Semanggi.
Menurut Museum Sumpah Pemuda, Sumpah Pemuda dirumuskan dalam Kongres Pemuda Kedua di Jakarta pada 27-28 Oktober 1928. Kongres yang digagas Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) itu mempertemukan pemuda dari berbagai daerah, suku, dan agama. Dari sanalah lahir tiga ikrar, yaitu bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, yakni Indonesia.
Dalam pidato pemimpin upacara, Kepala Biro Badan Sumber Daya Manusia (BSDM), Antonius Eko Andriyanto menyoroti bahwa para pelajar di masa lalu memiliki nalar kritis karena mampu memadukan ilmu dari perguruan tinggi dengan kepekaan terhadap penderitaan rakyat di sekitar mereka. Kini, generasi muda menghadapi tantangan baru, yaitu percepatan transformasi digital dan artificial intelligence (AI), karena itu semangat dan kemampuan berpikir kritis perlu diteruskan kepada generasi muda saat ini.

“Kampus ini harus menjadi ruang pendidikan yang membangkitkan kesadaran, semangat kepedulian terhadap keprihatinan di sekitar kita. Tanpa pendidikan yang kritis dan membebaskan, tidak akan pernah ada kemerdekaan yang sejati,” ungkapnya.
Kepada para dosen, Eko menyatakan bahwa menjadi pendidik adalah panggilan luhur. Ia menegaskan bahwa pendidik tidak hanya memberikan materi, karena hal itu sudah bisa digantikan mesin dengan lebih cepat dan mudah. Menurutnya, pendidik dipanggil untuk mendidik secara integral, terus memperbaharui kurikulum dan metode evaluasi, serta membimbing mahasiswa menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Di sisi lain, Eko berpesan kepada mahasiswa agar tidak menjadikan AI sebagai pengganti daya pikir. Ia menekankan bahwa teknologi dan AI merupakan alat bantu untuk memperluas cara berpikir dan mengembangkan ide. Ia mengajak mahasiswa membangun kembali ritme akademik yang sehat, dengan ruang bagi keheningan, studi mendalam, dan ketekunan membaca, serta menjaga sikap menghormati sesama, termasuk saat berkomentar di media sosial. “Jangan biarkan nalar kritis kalian tumpul oleh kenyamanan algoritma,” pesannya.
Melalui upacara ini, UAJ sebagai institusi pendidikan perlu terus menjunjung nilai-nilai Sumpah Pemuda dengan mendukung dan mendampingi mahasiswa agar mampu bersaing di masa depan, memanfaatkan teknologi dengan bijak, dan memberi dampak bagi bangsa. Dengan semangat pemuda ini, diharapkan generasi muda saat ini dapat hidup dengan nalar yang kritis, hati nurani yang peka, dan cinta tanah air.
(STV)