
Jakarta – Bagi Dr. Christiand, S.T., M.Eng., dunia keteknikan tidak pernah berhenti bergerak. Teknologi yang hari ini dianggap mutakhir, dalam hitungan tahun bisa menjadi hal yang terbilang lumrah. Menurut dosen Program Studi Teknik Mesin Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi (FBTI) Unika Atma Jaya (UAJ) ini, seorang engineer tidak cukup sekadar mengekor tren teknologi, tetapi juga harus mampu menciptakan inovasi.
Pandangan tersebut lahir dari perjalanan akademik dan profesionalnya. Sebelum merampungkan studi doktor di Universitas Indonesia pada 2024, Christiand sempat menimba pengalaman kerja di Korea Selatan selama kurang lebih 10 tahun. Pengalaman tersebut memberinya perspektif baru tentang bagaimana teknologi terus bertransformasi demi menjawab kebutuhan manusia.
"Engineering itu selalu berkembang. Dari dulu sampai sekarang pasti memiliki kontribusi nyata bagi peradaban manusia," ungkapnya.

Di samping itu, salah satu hal yang paling membekas bagi Christiand selama berkarir di Korea Selatan sebagai seorang research engineer adalah etos kerja para engineer setempat untuk terus berinovasi. Mereka tidak sekadar menciptakan produk, melainkan produktif dalam menghadirkan teknologi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Nilai inilah yang kemudian membentuk cara pandangnya sebagai seorang akademisi.
Baginya, perguruan tinggi memegang peran utama dalam mencetak generasi yang tidak hanya menjadi pengguna (user), melainkan sebagai pengembang teknologi.

Ketertarikannya pada bidang mekatronika, robotika, dan otomasi membawanya mendalami teknologi Digital Twin dalam penelitian doktoral, salah satu teknologi yang menjadi fondasi intelligent manufacturing (manufaktur cerdas).
Dalam penelitian doktoralnya, Christiand mengembangkan sistem pemantauan keausan pahat pada pemesinan micro-milling berbasis Digital Twin, yaitu representasi virtual dari suatu proses atau objek fisik yang memungkinkan pemantauan, analisis, serta optimalisasi dilakukan secara lebih efisien.
Menurutnya, potensi pengembangan teknologi ini di Indonesia masih sangat terbuka lebar. Penerapan teknologi ini diharapkan mampu mendongkrak efisiensi proses manufaktur sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
"Manufaktur saat ini sedang bergerak menuju Industri 4.0. Penggunaan sistem pemantauan keausan pahat pemesinan berbasis Digital Twin dapat memberikan dampak positif, terutama dalam meningkatkan efisiensi proses permesinan dan manufaktur, yang pada akhirnya memberikan nilai tambah lebih bagi industri," jelas Christiand.
Bagi Christiand, hasil riset tak boleh berhenti sebatas publikasi ilmiah di atas kertas. Pengetahuan tersebut harus dibawa ke ruang kelas agar mahasiswa memahami gambaran teknologi yang akan mereka hadapi di dunia kerja. Oleh sebab itu, melalui pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) pada mata kuliah Mekatronika II, ia memperkenalkan berbagai terobosan di bidang robotika, otomasi, hingga Digital Twin.

"Mahasiswa bisa mendapatkan insight langsung terkait perkembangan sistem robotika dan mengeksplorasi penggunaan Digital Twin melalui proyek yang mereka kerjakan bersama," tuturnya.
Melalui kolaborasi riset dan pembelajaran interaktif ini, Christiand berharap semakin banyak talenta muda yang tergerak mendalami teknologi Digital Twin dan bidang intelligent manufacturing. Bagi Indonesia, ketersediaan SDM yang inovatif, adaptif, dan tangguh adalah kunci untuk memajukan industri nasional di era digital.
"Teknologi akan terus berubah. Karena itu, kita perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu mengikuti arus perkembangan tersebut, tetapi juga hadir membawa solusi melalui inovasi," pungkasnya.
(DEL)