Membuka Jalan ke Timor Leste: Kisah Magang Internasional dari Mahasiswa Unika Atma Jaya

8/7/2026 12:00:00 AM



Timor Leste menjadi negara pertama yang didatangi mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ) untuk magang mengajar di luar negeri. Mahasiswa Fakultas Pendidikan dan Bahasa (FPB) angkatan 2023, Maria Melsiana Jawa dan Imanuella Kharisma Pertiwi menjadi angkatan pertama dari program tersebut. Berlangsung selama tiga bulan, mereka merasakan pengalaman mengajar mahasiswa Universidade Católica Timorense (UCT) di Dili, Timor Leste. 

Program ini digagas oleh International Office (IO) UAJ yang menjadi hasil kerja sama dengan UCT. Direktur IO UAJ, Adre Zaif Rachman menyebutkan bahwa pemilihan Timor Leste sebagai negara yang dituju telah melewati berbagai pertimbangan sehingga sudah dipastikan sebagai tujuan terbaik untuk angkatan magang pertama. “Pertimbangan keamanan, familiaritas, dan kebermanfaatan yang bisa diperoleh menjadikan Timor Leste sebagai pilihan terbaik sebagai pilot dari program ini,” ungkapnya. 

Salah satu peserta magang, Maria Melsiana Jawa ditempatkan untuk mengajar mata kuliah Bahasa Inggris bagi mahasiswa Student Pre-University jurusan Medicine di UCT. Melsi menceritakan momen ketika melihat perkembangan kepercayaan diri mahasiswanya dalam berbicara bahasa inggris. “Melihat perubahan tersebut membuat saya merasa bahwa peran seorang pengajar bukan hanya mengajarkan materi, tetapi juga membantu siswa percaya pada kemampuan mereka sendiri,” ujarnya.

Keputusannya mengikuti program ini didasari keinginan untuk beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru, sekaligus merasakan langsung metode mengajar di negara lain. Menurutnya, masyarakat Timor Leste sangat ramah dan terbuka pada pendatang, namun ia menemukan bahwa mereka cenderung lebih pendiam dan membutuhkan dorongan dibandingkan sebagian siswa Indonesia. 

“Saya belajar bahwa setiap lingkungan belajar memiliki karakteristik yang berbeda sehingga seorang pengajar harus mampu menyesuaikan pendekatan mengajar pada siswanya. Pengalaman ini mengajarkan bahwa guru adalah motivator, pembimbing, dan pendengar bagi siswa serta menciptakan suasana belajar yang nyaman,” jelasnya.

Di sisi lain, rekan magang Melsi, Imanuella Kharisma Pertiwi ditugaskan untuk mendampingi proses pembelajaran Bahasa Inggris di UCT, mulai dari menyiapkan materi, mendampingi guru saat mengajar, hingga membantu mengevaluasi tugas para mahasiswa, selain itu Nella kerap kali merancang aktivitas interaktif agar siswa tidak mudah bosan selama mengikuti kelas.

Bagi Nella, mengikuti program ini adalah jalan untuk mendapatkan pengalaman mengajar dalam lingkungan internasional, melatih komunikasi, serta melatih kemampuan adaptasi dengan berbagai karakter dan budaya siswa yang berbeda-beda. Ia menambahkan bahwa perjalanannya tidak mudah, beragam hal seringkali menjadi rintangan, seperti cara berkomunikasi, pemahaman budaya, hingga  pola pembelajaran yang berbeda dari Indonesia. Meski begitu, tantangan ini justru menumbuhkan keinginan Nella untuk terus berkembang. 

”Tantangan demi tantangan melatih saya untuk menjadi lebih fleksibel, sabar, dan kuat dalam menghadapi berbagai masalah dan menciptakan ide yang lebih kreatif dalam mengajar,” ujarnya.

Untuk #AnakAtma yang ingin mengikuti program serupa, Melsi dan Nella kompak berpesan untuk tidak takut mencoba dan keluar dari zona nyaman serta memanfaatkan kesempatan yang ada. Mereka menegaskan bahwa pengalaman seperti ini dapat membentuk kepercayaan diri, meningkatkan kemampuan adaptasi, dan melatih cara pandang yang lebih luas terhadap dunia pendidikan. 

Harapannya, hasil dari angkatan pertama program magang internasional ini menjadi modal berharga untuk mengevaluasi program, melanjutkan kerja sama dengan UCT, sekaligus membuka peluang untuk memperluas program ke negara lain di masa mendatang. Di sisi lain, pengalaman ini juga dapat memotivasi #AnakAtma untuk berani mengambil kesempatan, sekaligus turut membawa nama almamaternya agar semakin dikenal di kancah internasional.

(STV)