Jakarta
- Di tengah meningkatnya tantangan kesehatan global, proses penemuan dan
pengembangan obat dituntut menjadi semakin cepat, tepat, dan efisien. Di sisi
lain, Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat melimpah dan menyimpan
potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai inovasi di bidang kesehatan.
Pertemuan antara kemajuan teknologi komputasi, kecerdasan artifisial (Artificial
Intelligence/AI), dan kekayaan bahan alam Indonesia menjadi peluang baru
dalam menghasilkan penelitian yang mampu memberikan manfaat nyata bagi
masyarakat.
Komitmen
tersebut menjadi salah satu fokus penelitian yang dikembangkan oleh Prof.
apt. Enade Perdana Istyastono, S.F., M.Sc., Ph.D., Guru Besar Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya sekaligus
Ketua Research Center for Cheminformatics and Molecular Modeling.
Menurutnya, bidang cheminformatics dan molecular modeling bukan
sekadar memanfaatkan komputer untuk melakukan simulasi, tetapi merupakan
pendekatan ilmiah untuk memahami proses biologis dan kimia secara lebih
mendalam sehingga mampu mendukung penemuan kandidat obat secara lebih efektif.
"Komputasi
bukanlah pengganti eksperimen di laboratorium, melainkan mitra yang memperkuat
proses penemuan ilmiah. Dengan pendekatan ini, penelitian dapat menjadi lebih
terarah, lebih efisien, dan memiliki peluang keberhasilan yang lebih
baik," jelas Prof. Enade.
Pemanfaatan
komputasi menjadi semakin penting karena pengembangan obat merupakan proses
yang membutuhkan waktu panjang, biaya besar, dan sumber daya yang tidak
sedikit. Melalui pemodelan molekul dan analisis berbasis komputasi, para
peneliti dapat mempelajari interaksi antar molekul, memprediksi kandidat
senyawa yang potensial, serta menentukan prioritas penelitian sebelum memasuki
tahap eksperimen. Pendekatan ini diharapkan mampu mempercepat proses penelitian
sekaligus meningkatkan kualitas hasil yang diperoleh.
Semangat
tersebut juga melandasi pembentukan Research Center for Cheminformatics and
Molecular Modeling di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Research Center
ini memiliki visi menjadi pusat riset yang menjadi rujukan di tingkat nasional
maupun internasional dalam pengembangan dan penerapan pemodelan molekul serta
informatika kimia untuk mendukung penemuan obat, khususnya menuju pelayanan
kesehatan yang lebih personal dengan mempertimbangkan variasi genetik dan
faktor lingkungan.
Alih-alih
menetapkan fokus penelitian yang bersifat tetap, Prof. Enade memilih membangun
arah pengembangan jangka panjang yang adaptif terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Ia berharap dalam satu hingga dua dekade
mendatang, pelayanan kesehatan berbasis genetik dapat semakin berkembang
sehingga masyarakat memperoleh layanan pencegahan, diagnosis, terapi, hingga
rehabilitasi yang lebih tepat sasaran.
Salah
satu langkah awal menuju visi tersebut adalah penelitian mengenai kemoprevensi non-small
cell lung cancer (NSCLC), jenis kanker paru yang banyak dikaitkan dengan
mutasi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR). Menurut Prof. Enade,
topik ini dipilih karena memiliki peluang besar untuk memberikan dampak nyata
sekaligus didukung oleh kompetensi peneliti, jejaring kolaborasi, dan sumber
daya yang telah dimiliki.
Indonesia
memiliki kekayaan bahan alam yang sangat melimpah. Namun, potensinya dalam
pengembangan kemoprevensi NSCLC masih belum banyak dieksplorasi. Oleh karena
itu, penelitian ini berupaya menghubungkan kekayaan biodiversitas Indonesia
dengan pendekatan komputasi modern sehingga di masa mendatang diharapkan dapat
menghasilkan rekomendasi jamu maupun suplemen kesehatan berbasis bukti ilmiah
yang berpotensi membantu menurunkan risiko NSCLC, khususnya pada individu
dengan mutasi EGFR.
Pengembangan
penelitian tersebut memperoleh dukungan melalui Hibah Penelitian DPPM Tahun
2026 yang berhasil diraih oleh Prof. Enade. Hibah ini menjadi milestone
pertama dalam pengembangan Research Center sekaligus fondasi untuk membangun
kompetensi, metodologi, dan arah penelitian pada tahun-tahun berikutnya.
Melalui pendanaan tersebut, tim peneliti mengembangkan protokol komputasi
berbantuan AI untuk menemukan kandidat senyawa kemoprevensi NSCLC yang berasal
dari bahan alam Indonesia.
"Hibah
ini bukan sekadar pendanaan untuk satu penelitian, tetapi menjadi batu penjuru
dalam membangun kompetensi dan arah pengembangan Research Center ke
depan," ungkapnya.
Di
balik berbagai capaian tersebut, Prof. Enade menilai bahwa keberhasilan
penelitian tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh
peta jalan (research roadmap) yang jelas. Berbekal pengalaman sebagai
penerima hibah penelitian, reviewer, sekaligus anggota tim penyusun pedoman
hibah DPPM, ia melihat bahwa proposal penelitian yang kuat selalu menunjukkan
tujuan jangka panjang yang terukur dan langkah-langkah penelitian yang
realistis untuk mencapainya.
Menurutnya,
relevansi terhadap kebutuhan masyarakat maupun tujuan program pendanaan sering
kali menjadi faktor yang lebih penting dibanding sekadar menawarkan kebaruan (novelty).
Penelitian yang baik adalah penelitian yang mampu menjawab persoalan nyata
sekaligus menjadi bagian dari perjalanan ilmiah yang berkesinambungan.
Prof.
Enade juga meyakini bahwa kolaborasi yang kuat lahir dari kompetensi yang kuat.
Ketika para peneliti memiliki keahlian yang saling melengkapi, terbuka untuk
bekerja sama, dan terus membangun jejaring, kolaborasi lintas disiplin, lintas
fakultas, maupun lintas negara akan tumbuh secara alami. Budaya kolaborasi
inilah yang terus dibangun melalui Research Center agar mampu menghasilkan
penelitian yang semakin berkualitas dan berdampak.
Ke
depan, pemanfaatan kecerdasan artifisial diperkirakan akan semakin masif dalam
berbagai bidang, termasuk kesehatan, farmasi, dan komputasi. Meski demikian,
Prof. Enade mengingatkan bahwa AI tetap harus digunakan secara bijaksana. Hasil
yang dihasilkan teknologi tersebut harus selalu diverifikasi melalui metode
ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan benar-benar relevan dengan
konteks penelitian.
Selain
mengembangkan riset di bidang kesehatan, Prof. Enade juga tengah membangun
berbagai tools dan portal komputasi yang bertujuan membantu para
peneliti ilmu hayati memanfaatkan cheminformatics dengan lebih mudah.
Harapannya, para peneliti tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu
mempelajari aspek teknis komputasi sehingga dapat lebih fokus merumuskan
pertanyaan penelitian, menghasilkan pengetahuan baru, dan menghadirkan inovasi
yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menutup
wawancara, Prof. Enade membagikan pesan sederhana bagi para dosen dan peneliti
muda yang ingin membangun karier riset. "Tingkatkan kompetensi, kembangkan
kolaborasi, cari mentor yang berdampak positif."
Pesan
tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa penelitian yang berdampak tidak lahir
secara instan. Dibutuhkan kompetensi yang terus diasah, kolaborasi yang
dibangun dengan baik, serta visi jangka panjang yang jelas agar setiap langkah
penelitian mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan
dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Melalui penguatan riset berbasis AI,
komputasi, dan kekayaan hayati Indonesia, Universitas Katolik Indonesia Atma
Jaya terus berupaya menghadirkan inovasi yang tidak hanya memperkaya khazanah
keilmuan, tetapi juga menjawab tantangan kesehatan masyarakat di masa depan.