Bagaimana
nilai moral memengaruhi cara seseorang memahami kekerasan seksual? Pertanyaan
ini menjadi fokus penelitian berjudul “Morality and Rape Culture: Rape Myths
as a Mediator Between Moral Theory, Institutional Betrayal, and Sexual Violence
Claims” yang ditulis oleh Dr. Theresia Indira Shanti, Associate Professor dari Fakultas Psikologi, Unika Atma Jaya
bersama dengan Tsania M. Isa, Nathanael Sumampouw, dan Murniati Agustian.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Social Sciences &
Humanities Open pada tahun 2026. Santi merupakan Psikolog yang mememiliki
minat sangat tinggi dalam aspek kekerasan seksual di Indonesia.

Gambar diambil dari: https://www.tangerangkota.go.id/berita/detail/40645/respons-cepat-pemkot-tangerang-dampingi-korban-kekerasan-seksual
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penerimaan terhadap mitos pemerkosaan berperan
sebagai mekanisme psikologis yang menghubungkan nilai moral dengan penilaian
terhadap respons institusi dan pengakuan atas kekerasan seksual. Penerimaan terhadap
mitos yang lebih tinggi berkorealsi dengan kecenderungan yang lebih rendah
untuk mengenali perilaku seksual yang memaksa atau tanpa persetujuan, serta
lebih rendahnya persepsi terhadap pengkhianatan institusi. Sebaliknya, paparan
informasi mengenai kesetaraan gender memiliki korelasi dengan kecenderungan
individu untuk mengenali kekerasan seksual yang lebih baik.
Temuan ini menegaskan pentingnya pendidikan kesetaraan gender dan upaya mengurangi mitos pemerkosaan. Perguruan tinggi perlu membangun lingkungan yang aman, responsif, dan berpihak pada penyintas. Melalui edukasi publik, penguatan nilai kepedulian dan keadilan, serta penanganan kasus yang konsisten, masyarakat diharapkan semakin mampu mengenali kekerasan seksual dan mendukung perlindungan bagi penyintas.
Jika ingin mengenal Santi secara lebih dekat: https://www.atmajaya.ac.id/id/pages/11006-shanti/