2 Emas dan 1 Perunggu, Mahasiswa-Mahasiswi FKIK UAJ Ukir Prestasi Membanggakan

9/28/2026 12:00:00 AM


Jakarta – Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ) kembali menorehkan tinta emas dengan mencatatkan pencapaian membanggakan di ajang Regional Medical Olympiad (RMO) 2026. Pada babak Semifinal hingga Final yang diselenggarakan oleh Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) Wilayah 2 di Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi, Jawa Barat, pada 5–6 September 2026, FKIK UAJ menjadi satu-satunya fakultas kedokteran swasta yang berhasil melaju ke babak semifinal di keenam cabang lomba, yaitu Kardiorespirasi, Muskuloskeletal, Digestif, Urologi-Reproduksi, Neuropsikiatri, dan Infeksi Tropis.

Lebih lanjut, mahasiswa-mahasiswi FKIK UAJ berhasil membawa pulang tiga medali. Dua medali emas diraih oleh Raphaello Sean Ariel Lee bersama Eleadora Abraham yang menjadi Juara 1 di cabang Infeksi Tropis, serta Eveline Lee bersama Cindy Aurelia yang berhasil meraih Juara 1 cabang Muskuloskeletal. Satu medali perunggu turut disumbangkan oleh Chris Kusuma dan Raymond Salim melalui Juara 3 pada cabang Kardiovaskular-Respirasi.

Salah seorang mahasiswa Kedokteran angkatan 2023 sekaligus Ketua tim RMO 2026 cabang Muskuloskeletal, Eveline Lee, menceritakan bahwa persiapannya dengan Cindy telah dimulai sejak Februari 2026, mencakup pendalaman teori dasar seperti anatomi, histologi, fisiologi, dan biokimia muskuloskeletal, hingga materi klinis ortopedi, reumatologi, dan traumatologi. "Kami terus berlatih hingga hari-H lomba, kami juga berusaha untuk menyeimbangkan kegiatan belajar lomba ini dengan kegiatan perkuliahan dan organisasi di kampus," ujarnya.


Bagi Eveline, keberhasilan FKIK UAJ melaju ke semifinal di seluruh enam cabang tahun ini merupakan buah dari kerja keras, latihan rutin, dan dedikasi panjang seluruh peserta bersama para dosen pembimbing yang ditugaskan untuk memantau secara rutin progres mahasiswanya. Ia juga menegaskan bahwa pencapaian ini bukan semata-mata soal gelar juara melainkan sebuah pengalaman yang sangat penting baginya. "Proses belajar yang aku dan rekanku tempuh selama berbulan-bulan sangat berharga hingga aku bisa berpikir lebih kritis dalam memahami suatu kasus, sehingga menurutku juara 1 hanyalah 'bonus' dari lomba ini," ungkapnya.

Melalui pencapaian ini, Eveline berharap semakin banyak mahasiswa FKIK UAJ berani keluar dari zona nyaman dan tidak ragu terjun ke berbagai kompetisi ilmiah. "Ilmu, pengalaman, dan pengasahan pola pikir klinis dari sebuah lomba seperti RMO adalah hal unik yang sulit didapatkan dari perkuliahan biasa, yang secara tidak langsung akan membentuk kalian menjadi calon dokter yang jauh lebih kritis, responsif, dan tangguh," pungkasnya.

Perjuangan, pengalaman, dan hasil menjadi tiga kata yang menggambarkan pencapaian para mahasiswa FKIK UAJ di RMO 2026 ini. Pengalaman praktis semacam ini turut menjadi bekal berharga bagi mahasiswa kedokteran untuk semakin terampil dan siap menghadapi dunia medis di masa mendatang.

Ke depannya, UAJ berkomitmen untuk terus memperkuat pendampingan dan fasilitasi bagi mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi ilmiah, sebagaimana yang telah dilakukan pada RMO 2026 ini. Melalui dukungan tersebut, UAJ optimistis dapat terus mencetak calon dokter yang kompeten dan berdaya saing di tingkat regional maupun nasional. 

(STV)