Diana Elizabeth Waturangi, Mikrobiologis dengan Kiprah di Kancah Internasional

6/3/2026 12:00:00 AM


Rekognisi internasional bukan hal yang mudah diraih namun, Prof. Dr. Diana Elizabeth Waturangi, S.Si., M.Si. membuktikan bahwa mencapainya tidak mustahil. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di bidang riset, Diana telah melewati banyak tantangan hingga dikenal sebagai peneliti yang diakui secara global sekaligus seorang pendidik bagi para peneliti muda.

Semua bermula dari studi doktoral dalam bidang mikrobiologi. Diana menyelesaikan pendidikan doktoralnya dalam bidang mikrobiologi pada 2001 di Institut Pertanian Bogor (IPB), dengan riset doktoral yang berlangsung di Jerman melalui beasiswa Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD). Setelah itu, ia melanjutkan dua program postdoctoral di Amerika Serikat, yakni di Oklahoma State University pada 2002 dan University of Texas Medical Center Houston pada 2003.

Setelah menempuh berbagai pendidikan internasional, ia kembali ke Indonesia pada 2004 dan bergabung dengan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (UAJ). Diana memulai kariernya sebagai dosen di UAJ hingga akhirnya menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Teknobiologi (FTb) pada 2006-2010 serta menjadi Dekan FTb pada 2010-2017. Kini, ia kembali dipercaya untuk menjadi Dekan di Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi (FBTI) UAJ pada 2026.

Di bidang riset, Diana menaruh perhatian besar pada mikrobiologi pangan dan keamanan pangan. Fokus penelitiannya berkembang pada pengendalian patogen asal pangan, bakteri pembusuk pangan, biofilm, hingga pemanfaatan bacteriophage dan metabolit bakteri sebagai alternatif pengendalian mikroba serta biofilm yang dihasilkannya. Pada awal kariernya di UAJ, Diana sempat menghadapi keterbatasan pendanaan untuk mendukung berbagai aktivitas riset. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan langkahnya. Dengan dukungan serta arahan dari mentornya, Diana kemudian mengajukan berbagai hibah kompetitif skala nasional dan internasional.

Melalui kompetisi ini, ia memulai perjalanannya dan berhasil memperoleh pendanaan riset internasional dari International Foundation for Science (IFS) sebanyak dua kali serta berhasil mendapat hibah internasional dari International Society for Infectious Disease (ISID). Seiring waktu, kiprahnya semakin dikenal secara global. Diana dipercaya menjadi Country Ambassador Indonesia untuk American Society for Microbiology (ASM) pada 2016–2021, lalu melanjutkan perannya di International Council ASM. Selama menjadi ambassador, ia telah menyelenggarakan pelatihan pengajaran mikrobiologi di 14 universitas di seluruh Indonesia.

Lebih lanjut, Diana merupakan ambassador untuk Global Harmonization Initiatives for food safety regulations serta menjadi panel pakar Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) dan anggota Akademi Ilmu Pangan & Gizi-Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPG-AIPI). Ia juga menerima berbagai penghargaan dari Bill & Melinda Gates Foundation, International Society for Infectious Diseases, World Society for Pediatric Infectious Diseases, serta penghargaan Science and Technology Award dari Indonesia Toray Science Foundation.

Selain aktif dalam penelitian, Diana juga berkontribusi dalam pengembangan pendidikan dan komunitas ilmiah. Ia telah membimbing lebih dari 100 mahasiswa sarjana dan puluhan mahasiswa magister. Ia mengaku bahwa menjadi peneliti dan mendidik mahasiswa bukanlah hal mudah. “Selama berkarier sebagai dosen dan peneliti, tantangan terbesar adalah mendidik mahasiswa agar memiliki integritas dan memupuk kejujuran selama proses pembelajaran. Sementara tantangan sebagai peneliti adalah harus terus berupaya dan berinovasi mencari dana riset dari badan riset nasional serta internasional dan mengupayakan riset tersebut menjadi tepat guna,” jelasnya.

Sebagai Dekan FBTI UAJ, Diana memiliki visi agar fakultas ini terus berkembang sebagai pusat edukasi biosains dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ia juga ingin memperkuat budaya riset di lingkungan dosen agar inovasi yang lahir dari FBTI dapat memberi manfaat lebih luas. “Saya sangat berharap FBTI dapat menjadi pusat edukasi biosains dan teknologi bagi berbagai kalangan dan terus menghasilkan karya inovatif yang bermanfaat untuk orang banyak. Selain itu saya juga berharap semangat untuk terus berkarya dalam riset menular untuk teman-teman dosen di FBTI,” ujarnya.

Perjalanan panjang Diana menjadi pengingat bagi mahasiswa dan peneliti muda bahwa dunia riset membutuhkan ketekunan, kolaborasi, dan semangat untuk terus berkembang. "Ask for advice from senior researchers and colleagues, as collaboration and networking are key to success. Never stop learning, do your best, and let God do the rest," pesannya.

(STV)