Ketika Dedikasi Berlebihan Dianggap sebagai Kecanduan Olahraga

9/30/2026 12:00:00 AM

Olahraga dikenal memiliki banyak manfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan dan tidak terkendali, olahraga dapat berdampak negatif terhadap kehidupan seseorang. Kondisi tersebut dikenal sebagai exercise addiction (EA) atau kecanduan olahraga. Di Indonesia, tidak banyak psikolog dan peneliti yang mendedikasikan diri untuk memahami konsekuensi psikologis dari latihan fisik.

Sebuah tinjauan sistematis yang dilakukan oleh Ignatius Darma Juwono, akademisi dari Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya bersama Nóra Tolnai dan Attila Szabo dari Institute of Health Promotion and Sport Sciences, Faculty of Education and Psychology, ELTE Eötvös Loránd University, Hungaria  mengenai kecanduan olahraga pada atlet terhadap 17 penelitian yang diterbitkan antara 2004 dan 2020 menunjukkan bahwa risiko EA pada atlet sangat bervariasi, mulai dari 2,7% hingga lebih dari 40%. Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa atlet memiliki skor risiko EA lebih tinggi dibandingkan individu yang berolahraga untuk tujuan rekreasional.


Foto diambil dari https://pledgetofitness.com/is-exercise-addiction-a-behavioral-disorder/

Meski demikian, temuan tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Atlet umumnya menjalani program latihan yang intensif, terstruktur, dan terjadwal sebagai bagian dari persiapan kompetisi, oleh karena itu, skor yang tinggi pada instrument psikologi yang mengukur tentang kecanduan olahraga belum tentu menunjukkan perilaku patologis atau dalam Bahasa awam disebut sebagai gangguan psikologis. Skor tersebut dapat merefleksikan dedikasi, komitmen, atau passion terhadap olahraga.

Studi kajian literatur ini mengidentifikasi beberapa faktor yang berkaitan dengan risiko EA, antara lain tingkat kompetisi, tekanan dari pelatih dan rekan tim, motif untuk berkompetisi, obsessive passion, serta gejala depresi dan kecemasan yang mungkin menyelimuti atlet dalam kompetisi nasional atau internasional. Namun, yang menarik, hasil penelitian mengenai faktor-faktor tersebut belum selalu konsisten ditemukan.

Studi ini menegaskan pentingnya membedakan antara kecanduan olahraga dan dedikasi terhadap prestasi. Para peneliti pun dapat merekomendasikan agar konsep pengukuran EA pada atlet dikaji secara hati-hati sehingga konsep tentang komitmen dan kecintaan terhadap olahraga yang sehat tidak selalu dianggap sebagai kecanduan.


Artikel versi lengkap dapat diakses melalui https://link.springer.com/article/10.1007/s11469-021-00568-1, dan jika ingin mengenal Darma lebih dekat: https://www.atmajaya.ac.id/id/pages/120061189/