Olahraga dikenal memiliki banyak manfaat bagi
kesehatan fisik dan mental. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan dan tidak
terkendali, olahraga dapat berdampak negatif terhadap kehidupan seseorang.
Kondisi tersebut dikenal sebagai exercise addiction (EA) atau kecanduan
olahraga. Di Indonesia, tidak banyak psikolog dan peneliti yang mendedikasikan
diri untuk memahami konsekuensi psikologis dari latihan fisik.

Foto diambil dari https://pledgetofitness.com/is-exercise-addiction-a-behavioral-disorder/
Meski demikian, temuan tersebut perlu dipahami
secara hati-hati. Atlet umumnya menjalani program latihan yang intensif,
terstruktur, dan terjadwal sebagai bagian dari persiapan kompetisi, oleh karena
itu, skor yang tinggi pada instrument psikologi yang mengukur tentang kecanduan
olahraga belum tentu menunjukkan perilaku patologis atau dalam Bahasa awam
disebut sebagai gangguan psikologis. Skor tersebut dapat merefleksikan
dedikasi, komitmen, atau passion terhadap olahraga.
Studi kajian literatur ini mengidentifikasi
beberapa faktor yang berkaitan dengan risiko EA, antara lain tingkat kompetisi,
tekanan dari pelatih dan rekan tim, motif untuk berkompetisi, obsessive
passion, serta gejala depresi dan kecemasan yang mungkin menyelimuti atlet
dalam kompetisi nasional atau internasional. Namun, yang menarik, hasil
penelitian mengenai faktor-faktor tersebut belum selalu konsisten ditemukan.
Studi ini menegaskan pentingnya membedakan antara kecanduan olahraga dan dedikasi terhadap prestasi. Para peneliti pun dapat merekomendasikan agar konsep pengukuran EA pada atlet dikaji secara hati-hati sehingga konsep tentang komitmen dan kecintaan terhadap olahraga yang sehat tidak selalu dianggap sebagai kecanduan.
Artikel versi lengkap dapat diakses melalui https://link.springer.com/article/10.1007/s11469-021-00568-1, dan jika ingin mengenal Darma lebih dekat: https://www.atmajaya.ac.id/id/pages/120061189/