
Jakarta – Apakah benar pembelajar dari negara-negara berbahasa Inggris sebagai bahasa kedua (ESL) memiliki kemampuan menulis argumentasi yang lebih baik dibandingkan pembelajar yang mengenal bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL)? Pertanyaan ini menjadi pembahasan dalam disertasi milik Dwi Indarti di Sidang Terbuka Program Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris (DLTBI) Fakultas Pendidikan dan Bahasa (FPB) Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya pada Senin, (20/7) di Aula D, Kampus Semanggi.
Sidang dipimpin oleh Prof. Christine Manara, Ph.D., dengan Yanti, Ph.D. sebagai promotor dan Ekarina, Ph.D. sebagai ko-promotor. Tim penguji terdiri atas Karlina Denistia, Ph.D., Prof. Dr. Setiono Sugiharto, M.Hum., dan Ferdinan Okki Kurniawan, Ph.D. Dwi membawakan disertasi berjudul "Examining Argumentative Writing In Global Englishes: Voice, Argument Quality, Lexical Richness, And Syntactic Complexity Among Asian ESL and EFL Learners".
Penelitian Dwi lahir dari kesenjangan dalam literatur linguistik terapan, yaitu masih terbatasnya studi komparatif yang mengkaji secara menyeluruh bagaimana pembelajar English as a Second Language (ESL) dan English as a Foreign Language (EFL) berbeda dalam menulis argumentatif. Menurutnya, sebagian besar penelitian cenderung mengkaji aspek suara penulis (authorial voice), kualitas argumen, kekayaan leksikal (lexical richness), dan kompleksitas sintaksis (syntactic complexity) secara terpisah. Dwi menyatukan keempat dimensi tersebut dalam satu kerangka analisis untuk memberi pemahaman yang lebih utuh tentang Global Englishes.

Bersamaan dengan hal tersebut, Dwi menggunakan desain campuran berbasis Corpus dengan menganalisis 720 esai argumentatif dari International Corpus Network of Asian Learners of English (ICNALE). Data tersebut mewakili pembelajar ESL dari Pakistan, Filipina, dan Singapura, serta pembelajar EFL dari Tiongkok, Indonesia, dan Korea Selatan. Temuan penelitiannya menunjukkan pola konvergensi yang kuat antara pembelajar ESL dan EFL pada sebagian besar dimensi yang diteliti.
Lebih lanjut, Dwi tidak menemukan perbedaan signifikan yang konsisten pada kekuatan authorial voice maupun kualitas argumentasi antara kedua kelompok. Namun, topik penulisan terbukti memberi pengaruh besar, seperti esai bertema pekerjaan paruh waktu menghasilkan struktur sintaksis yang lebih kompleks dibandingkan esai bertema rokok, sementara kompleksitas sintaksis sendiri tetap menjadi dimensi yang paling resisten terhadap pola kemiripan antar kelompok.

Menyambut presentasi Dwi, Okki menyampaikan apresiasinya atas kualitas disertasinya. "Saya sangat menikmati membaca disertasi kamu. Sangat terstruktur dan terorganisasi dengan sangat baik," ujarnya.
Dwi turut menjelaskan bahwa keterkaitan antara pilihan leksikal, sintaksis, dan kekuatan suara kepenulisan (authorial voice) yang ia temukan sebenarnya bukan bagian dari rancangan awal penelitian, melainkan muncul di tengah proses analisis. "Awalnya hal-hal tersebut tidak saling terkait, namun selama proses penelitian saya menemukan bahwa temuan-temuan ini saling terkait dan mempengaruhi cara mereka mengekspresikan suara kepenulisan serta cara mereka menyusun argumen," jelasnya.
Menanggapi penjelasan tersebut, Ekarina menegaskan kembali temuan Dwi, yaitu penulis dari negara-negara dengan kepadatan leksikal (lexical density) lebih tinggi dan struktur sintaksis lebih kompleks cenderung memiliki suara kepenulisan yang lebih kuat.

Setelah menyelesaikan presentasinya, Dwi resmi dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan menjadi Doktor Linguistik ke-81 Program Doktor Linguistik Terapan Bahasa Inggris, Unika Atma Jaya.
Menutup sidang, Dwi menyampaikan kutipan yang selalu ia pegang. "Ilmu itu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahap pertama, maka ia akan sombong. Jika seseorang memasuki tahap kedua, maka ia akan rendah hati. Jika seseorang memasuki tahap ketiga, maka ia akan merasa dirinya tidak tahu apa-apa, merasa bukan siapapun," ujarnya.
(STV)