Jakarta - Desa Pantai Sederhana, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi,
merupakan salah satu wilayah pesisir yang memiliki potensi mangrove cukup
besar. Salah satu jenis mangrove yang banyak ditemukan di wilayah tersebut
adalah mangrove api-api (Avicennia marina). Selama ini, keberadaan
mangrove lebih banyak dipahami sebagai bagian dari ekosistem pesisir. Padahal,
jika diolah dengan pengetahuan dan teknologi sederhana yang tepat, daun
mangrove api-api dapat menjadi bahan dasar produk rumah tangga yang bernilai guna.
Potensi inilah yang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada
Masyarakat berjudul “Pemberdayaan Ibu-ibu Rumah Tangga dalam
Pemanfaatan Daun Mangrove Api-api (Avicennia marina)
sebagai Sabun Cair Alami di Desa Pantai Sederhana.” Kegiatan ini
memperoleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek Tahun 2026 sebagai salah satu bentuk
dukungan terhadap pengabdian masyarakat yang berbasis potensi lokal dan
berdampak langsung bagi masyarakat.
Program ini dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Katolik Indonesia Atma
Jaya yang terdiri dari Linawati Hananta, Yulius Evan
Christian, dan Sri Hapsari Wijayanti, bersama
sejumlah mahasiswa dari berbagai program studi. Melalui kegiatan ini, tim
berupaya menghadirkan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berhenti pada
pelatihan, tetapi juga mendorong kemandirian, perubahan perilaku hidup sehat,
dan peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir.
Mitra kegiatan, yaitu ibu-ibu rumah tangga Kelompok Perempuan Pesisir di
Kampung Tanjung Nuhun, selama ini mengandalkan produksi terasi jembret sebagai
salah satu sumber tambahan penghasilan keluarga. Namun, produksi tersebut
sangat bergantung pada ketersediaan udang rebon dan kondisi cuaca. Ketika bahan
baku tidak tersedia atau cuaca tidak mendukung, peluang memperoleh penghasilan
tambahan ikut terbatas. Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga terhadap sabun
cair terus ada setiap hari. Bagi keluarga, pengeluaran kecil yang dilakukan
berulang kali tetap menjadi beban rutin. Karena itu, kemampuan membuat sabun
cair sendiri dari bahan alam yang tersedia di sekitar tempat tinggal menjadi
peluang penting untuk mengurangi pengeluaran sekaligus membuka kemungkinan usaha
baru.
Namun, persoalan yang dihadapi masyarakat tidak hanya terkait produksi. Tim
juga melihat adanya tantangan lain, yaitu keterbatasan pengetahuan dalam
pengemasan produk, perhitungan harga jual, pemasaran digital, serta penerapan
perilaku hidup bersih dan sehat. Karena itu, kegiatan ini dirancang sebagai
program pemberdayaan yang menyentuh beberapa aspek sekaligus: ekonomi,
kesehatan, teknologi, dan lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat tidak hanya diberikan penjelasan, tetapi juga diajak terlibat langsung. Kegiatan dilakukan melalui sosialisasi, edukasi, pelatihan, praktik pembuatan sabun cair, pelatihan pengemasan, pendampingan pemasaran digital, serta monitoring dan evaluasi. Ibu-ibu mitra akan mempelajari bagaimana daun mangrove api-api diolah, bagaimana sabun cair diformulasikan, bagaimana produk dikemas dalam standing pouch, serta bagaimana produk dapat dipromosikan melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok.
Gambar 1. Pemberian materi kepada peserta kegiatan
Pendekatan ini menjadi penting karena produk yang baik tidak cukup hanya
dibuat. Produk juga perlu dikemas dengan menarik, diberi identitas, dihitung
harga jualnya, dan dipasarkan dengan cara yang sesuai dengan perkembangan
zaman. Melalui pelatihan pemasaran digital, mitra diharapkan tidak lagi hanya
bergantung pada penjualan dari rumah ke rumah, tetapi mulai mengenal cara
memperluas jangkauan pasar melalui media sosial.
Kegiatan ini juga memiliki kaitan yang kuat dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Secara langsung, program ini mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena mendorong ibu-ibu rumah tangga untuk mengembangkan keterampilan baru, memanfaatkan bahan lokal menjadi produk bernilai ekonomi, serta membuka peluang kewirausahaan berbasis masyarakat.
Keterlibatan dosen dan mahasiswa dari berbagai program studi menjadi kekuatan tersendiri dalam kegiatan ini. Pendekatan lintas disiplin memungkinkan program tidak hanya dilihat dari sisi pembuatan produk, tetapi juga dari sisi kesehatan masyarakat, formulasi bahan alam, komunikasi produk, pemasaran, dan pemberdayaan komunitas. Bagi mahasiswa, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar langsung di tengah masyarakat, sehingga ilmu yang diperoleh di kampus dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata.
Gambar 3. Foto bersama dengan seluruh peserta kegiatan
Melalui kegiatan ini, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menegaskan
komitmennya dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya
pengabdian kepada masyarakat yang berbasis riset, kolaboratif, dan berdampak.
Sinergi antara dosen, mahasiswa, masyarakat, dan dukungan DPPM Kemdiktisaintek
menjadi langkah nyata untuk menghadirkan ilmu pengetahuan yang tidak berhenti
di ruang akademik, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat untuk membangun
kemandirian, kesehatan, dan keberlanjutan.
Ke depan, program ini diharapkan dapat menjadi model
pemberdayaan masyarakat pesisir berbasis potensi lokal. Dengan pendampingan
yang berkelanjutan, ibu-ibu rumah tangga di Desa Pantai Sederhana diharapkan
mampu memproduksi sabun cair alami tidak hanya untuk kebutuhan sendiri, tetapi
juga sebagai produk lokal yang dapat mendukung ekonomi keluarga.